KSPSI Ungkap Alasan Monas Jadi Pusat Perayaan May Day 2026

PRESIDEN Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia atau KSPSI, Andi Gani Nena Wea, menjelaskan alasan dipilihnya Kawasan Monumen Nasional sebagai episentrum utama perhelatan May Day 2026.

Dia mengatakan, Monas dipilih atas pertimbangan faktor daya tampung dan fleksibilitas massa yang disebut bakal dihadiri ratusan ribu orang. “Kalau di Gelora Bung Karno daya tampungnya hanya 79.000 sementara massa kami ada 200.000,” kata Andi dalam konferensi pers Perayaan May Day 2026 di Menteng, Jakarta Pusat, Rabu, 29 April 2026.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Pertimbangan lainnya, dia melanjutkan, adalah faktor kedekatan lokasi dengan tempat berdiam diri Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara, Jakarta.

Menurut dia, Prabowo selalu ingin memiliki kedekatan dengan para pekerja, termasuk melakukan jabat tangan. Monas sebagai kawasan terbuka, dipilih agar fleksibilitas presiden dan massa bisa saling mendukung. “Di GBK kan ada pagar pembatas, ada tribun. Akan susah bagi beliau untuk berjabat tangan kalau di sana,” ujar Andi.

Pun, kata dia, pemilihan Monas sebagai lokasi pusat perayaan May Day tahun ini juga merupakan hasil keputusan para pimpinan serikat pekerja. “Tidak ada campur tangan Bapak Presiden,” ucapnya.

Sebelumnya, KSPSI dan sejumlah serikat pekerja lain mengagendakan perayaan May Day 2026 di Kawasan Monas, Jakarta Pusat. Perayaan ini juga akan dihadiri para pengemudi ojek online dengan total estimasi massa sekitar 400.000 orang.

Kepala Badan Komunikasi Pemerintah Muhammad Qodari mengatakan, Kepala Negara dijadwalkan hadir dalam perayaan May Day 2026 di Kawasan Monas, Jakarta Pusat.

“Sebagai bentuk komitmen tersebut, Presiden Prabowo Subianto diagendakan hadir pada puncak peringatan Hari Buruh Nasional 2026 yang akan diselenggarakan di Monas, Jakarta,” kata Qodari di Kantor Bakom, Jakarta, pada Rabu, 29 April 2026, dikutip dari keterangan pers.

Ia lantas menyatakan bahwa pemerintah berdiri bersama buruh. “Pemerintah ingin menegaskan satu hal, bahwa posisi pemerintah bukan berhadapan dengan buruh, melainkan berdiri bersama buruh,” tutur Qodari.

  • Related Posts

    Eks Finalis Puteri Indonesia Ditangkap gegara Facelift Ilegal

    Jakarta – Jeni Rahmadial Fitri, eks Finalis Puteri Indonesia, ditangkap oleh tim Ditreskrimsus Polda Riau setelah dilaporkan dugaan malapraktik. Jeni diduga melakukan tindakan facelift secara ilegal hingga membuat korban cacat…

    BGN Ungkap Modus Penipuan Catut Nama Pejabat untuk Buka Dapur MBG

    BADAN Gizi Nasional mengingatkan pengelola satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) agar waspada terhadap modus penipuan yang mencatut nama pejabat lembaga tersebut. Praktik ini disebut telah memakan korban di sejumlah wilayah.…

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *