Kota Jambi, Jambi (Redaksi) – Dewan Energi Nasional (DEN) terus mendorong peningkatan produksi dan memperluas variasi atau diverifikasi produk untuk ketahanan energi nasional sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor melalui percepatan pembentukan cadangan penyangga energi (CPE).
“Agar kita tidak bergantung pada impor, kita harus menambah produksi, baik fosil maupun nonfosil. Untuk minyak dan gas, berarti kita meningkatkan lifting,” kata Anggota Pemangku Kepentingan DEN Muhammad Kholid Syeirazi saat mengikuti kegiatan sosialisasi kebijakan energi di Jambi, Rabu.
Kholid menyampaikan untuk menekan angka impor minyak dan gas, pemerintah perlu meningkatkan aktivitas lifting produksi dalam negeri secara berkelanjutan.
Selain meningkatkan produksi harian, DEN juga menekankan pentingnya diversifikasi bahan baku sebagai pengganti maupun penambah bauran energi.
Saat ini, penerapan biodiesel B35 telah berjalan untuk mengurangi impor solar dan pemerintah berencana meningkatkan kombinasi atau bauran tersebut hingga menjadi B50.
Selain itu, untuk bahan bakar bensin, pemerintah tengah fokus pengembangan bioetanol.
Lanjut dia, untuk mewujudkan program itu, Presiden Prabowo telah menginstruksikan DEN untuk mengkaji serta mempercepat pengembangan bioetanol hingga E50 pada 2030.
Meski demikian, ia mengakui terdapat tantangan besar dalam merealisasikan target tersebut, terutama dari sisi kapasitas produksi pabrik.
Mengingat kapasitas pabrik bioetanol saat ini baru mampu menampung sekitar 60 ribu kiloliter. Sementara untuk mencapai E50, Indonesia membutuhkan kapasitas produksi hingga 16,5 juta kiloliter.
Lanjut dia, tantangan serupa juga dihadapi pada sektor B50, terutama terkait kepastian pasokan bahan baku (feedstock).
Untuk menopang B50, dibutuhkan pasokan minyak sawit hingga 17 juta kiloliter.
Untuk memenuhi target tersebut, tanpa menambah pembukaan lahan baru, pemerintah mengambil langkah intensifikasi dan peremajaan (replanting) perkebunan sawit.
Lebih lanjut, DEN juga tengah serius menyiapkan pembentukan cadangan penyangga energi sebagai mandat regulasi untuk memperkuat ketahanan nasional.
Karena selama ini, cadangan yang ada baru sebatas cadangan operasional yang dikelola oleh badan usaha.
Sesuai target, Indonesia diharapkan memiliki CPE hingga 30 hari setara impor pada 2035, dengan kondisi ideal mencapai 60 hingga 90 hari.
”Dalam waktu dekat, DEN berupaya agar CPE ini segera ‘pecah telur’. Tahap awal mungkin dimulai dari lima hingga 10 hari terlebih dahulu, sebelum bertahap ditingkatkan hingga mencapai target ideal,” tutup dia.
Sementara itu, Wakil Rektor Universitas Jambi (Unja) Prof Hafrida menegaskan pihaknya siap mendukung pemenuhan kebutuhan energi nasional melalui pengembangan penelitian serta kolaborasi antarlembaga.
Menurut dia, kesiapan tersebut akan didukung oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Unja yang telah memiliki berbagai pusat studi khusus.
“LPPM kami sudah ada beberapa pusat studi yang memang khusus kajian terhadap bidang energi, ini menjadi sumbangsih Universitas Jambi,” ungkapnya.
Baca juga: Rapat Paripurna DEN, Prabowo bahas stok BBM, E50, dan RUU Migas
Baca juga: DEN sebut nuklir berpotensi jadi “kuda hitam” percepat dekarboninasi
Baca juga: DEN: Ketahanan energi nasional dimulai dari daerah
Pewarta: Agus Suprayitno
Editor: Kelik Dewanto
Copyright © Redaksi 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita Redaksi.