
Sumber gambar, Grandma Droniak
-
- Penulis, Yasmin Rufo
- Peranan, Redaksi News
-
Telah diterbitkan
-
Waktu membaca: 6 menit
Nenek berusia 96 tahun ini jadi bintang media sosial dan mampu membayar biaya panti jompo dari penghasilannya.
Lillian Droniak, atau lebih dikenal sebagai Grandma Droniak oleh para pengikutnya di media sosial, menjadi viral pada Juni lalu, setelah mengklaim bahwa pengelola panti jompo tempat tinggalnya mengancam akan mengusirnya karena sering menggelar pesta.
Pihak panti kemudian mengonfirmasi adanya ancaman tersebut, tetapi akhirnya mencapai kesepakatan dengan Droniak yang memungkinkannya tetap mengadakan pesta, dengan syarat ia tidak menyediakan minuman beralkohol.
Dengan 15,2 juta pengikut di TikTok, Droniak berhasil memanfaatkan kepribadiannya yang unik menjadi sumber penghasilan. Pendapatan dari media sosial itu cukup untuk menutupi biaya panti jompo yang mencapai US$12.000 (sekitar Rp190 juta) per bulan.
Nenek asal Connecticut, Amerika Serikat, itu merupakan salah satu dari banyak perempuan lanjut usia yang menemukan ketenaran tak terduga di dunia maya. Sebagian besar audiens mereka bahkan cukup muda untuk menjadi cucu mereka.
Melalui konten tentang fesyen, makanan, kehidupan asmara, hingga urusan rumah tangga, para kreator lansia ini berhasil menjangkau audiens baru dan, dalam sejumlah kasus, menemukan semangat baru dalam hidup mereka.
‘Saya buktikan menjadi tua tak sesulit yang dibayangkan’
“Saya selalu yakin punya potensi untuk menjadi terkenal, hanya saja saya tidak menyangka itu akan terjadi ketika usia saya sudah 90-an,” kata Droniak, seraya menjelaskan bahwa cucunya mulai membantunya mengunggah video pada 2020, awalnya hanya untuk mengatasi kebosanan.
Menurutnya, daya tariknya terletak pada kemampuannya menunjukkan kepada generasi muda bahwa kehidupan tidak berhenti ketika seseorang bertambah tua.
Lewatkan Paling banyak dibaca dan terus membaca
Paling banyak dibaca
Akhir dari Paling banyak dibaca
“Mereka mengira orang tua hanya duduk dan menatap dinding, tetapi saya ingin menunjukkan bahwa menjadi tua tidaklah seburuk yang dibayangkan. Kami menerimanya, masih bisa menikmati hidup, dan saya juga masih berpesta serta sesekali pergi jalan-jalan.”
Lewatkan content dan terus membaca
Akhir dari content
Konten berbayar Droniak, yang mencakup kerja sama dengan merek makanan dan produk kecantikan, diedit oleh cucunya.
Penghasilan dari aktivitas tersebut tidak hanya digunakan untuk membayar biaya panti jompo tempatnya tinggal, tetapi juga dialokasikan untuk dana pendidikan cicit-cicitnya.
Meski kerap dikenali penggemar saat berada di tempat umum, Droniak mengatakan ketenarannya terasa berbeda di panti jompo.
“Mereka tidak mengerti karena tidak menggunakan TikTok,” ujarnya.
‘Saya sangat selektif memilih kerja sama dengan merek’
Di seberang Atlantik, ada Viv Truran, perempuan berusia 82 tahun asal Cardiff yang sama-sama jenaka dan ceria.
Ia mulai mengunggah konten di Instagram setelah kehilangan suaminya. Ide itu muncul setelah tetangganya menyarankan agar pakaian-pakaiannya yang penuh warna direkam dan dibagikan secara daring.

Sumber gambar, Viv Truran
Kini, Truran membuat dua video setiap hari dari kamar tidurnya yang disulap menjadi studio.
Dalam video-videonya, ia kerap memamerkan pakaian, koleksi 22 pasang kacamata, serta dua laci penuh syal miliknya.
“Saya bangun pagi, dan tidak pernah turun ke lantai bawah sebelum menyelesaikan video pagi saya. Saya sangat disiplin soal itu,” katanya.
Ia juga menyimpan buku catatan untuk memantau jumlah pengikut dan tayangan videonya. Kini, ia sudah menggunakan buku catatan yang kelima.
Truran kerap dihampiri orang asing di tempat umum, banyak di Redaksinya perempuan berusia 20-an hingga 30-an tahun, yang mengaku kepada dirinya bahwa mereka “takut menjadi tua”.
Menurut Truran, ia berusaha menunjukkan kepada mereka bahwa “menjadi tua tidaklah seburuk yang dibayangkan”.
Sejumlah merek juga mulai melirik popularitasnya. Truran mengakui ia akan “bodoh” jika menolak semua tawaran kerja sama, meski tetap sangat selektif dalam memilih mitra.
Ia hanya menerima beberapa unggahan bersponsor setiap bulan, dengan mengutamakan merek lokal dan organisasi amal seperti Age UK, yang membayarnya beberapa ribu pound sterling untuk sebuah kampanye baru-baru ini.
“Saya pernah menolak beberapa kerja sama besar karena itu bukan bidang yang saya sukai. Saya sangat selektif soal pihak yang saya ajak bekerja sama. Saya harus benar-benar menyukai mereknya,” ujarnya.
‘Saya menangis membaca pesan dari orang-orang di seluruh dunia’
Naomi Baker dari agensi pemasaran influencer We Are Social mengatakan kreator yang lebih tua menarik bagi berbagai merek karena mereka umumnya memiliki komunitas pengikut yang “sudah terbangun kuat dan sangat loyal”.
Menurut Baker, kelompok audiens tersebut juga cenderung memiliki daya beli yang lebih besar, sehingga memberikan nilai yang sangat tinggi bagi para pengiklan dan mitra merek.

Sumber gambar, Nonna Gracie
Grace Geramita, 85 tahun, memiliki jutaan pengikut yang menyaksikan dirinya memasak berbagai resep yang telah ia buat selama puluhan tahun.
Dikenal dengan nama Nonna Gracie, ia pindah dari Italia ke Amerika Serikat ketika berusia 18 tahun dan pernah menjalani beberapa pekerjaan sekaligus untuk menghidupi dua putrinya.
Kini, pendapatannya dari media sosial melampaui penghasilan yang pernah ia peroleh dari pekerjaan-pekerjaan sebelumnya.
Lewatkan content dan terus membaca
Akhir dari content
Enam tahun lalu, cucunya, Matthew, menyarankan agar mereka mulai merekam aktivitasnya saat memasak.
Tetapi, Geramita awalnya tidak tertarik karena tidak memahami media sosial dan merasa kemampuan bahasa Inggrisnya terbatas.
Meski begitu, video-video tersebut kemudian menarik perhatian banyak orang.
“Saya selalu menangis ketika menerima pesan dari berbagai penjuru dunia,” katanya.
Sebagian besar kontennya tidak hanya berbicara tentang makanan.
Ia mengatakan ingin mewariskan “tradisi mempertemukan keluarga di meja makan”, sebuah kebiasaan yang menurutnya penting untuk terus dijaga lintas generasi.
‘Nenek virtual’ bagi para pengikutnya
Baker dari We Are Social mengatakan hal itu merupakan salah satu daya tarik para “nenek TikTok” karena mereka “memberikan rasa nyaman di tengah dunia yang penuh ketidakpastian”.
Menurutnya, konten-konten yang hangat dan menghibur tersebut juga dapat berperan sebagai sosok “nenek virtual” bagi para pengikut mereka.

Sumber gambar, Barbara Costello
Hal serupa juga dialami Barbara Costello. Mantan guru berusia 77 tahun itu kini membagikan video tentang memasak, membersihkan rumah, dan berbagai keterampilan mengurus rumah tangga melalui akun media sosialnya, Brunch with Babs.
Para pengikutnya sering mengatakan Costello mengingatkan mereka pada ibu atau nenek mereka sendiri.
Bahkan, sebagian menyebutnya sebagai “ibu yang tidak pernah saya miliki”.
“Baru-baru ini, seorang mahasiswa menghampiri saya di sebuah restoran dan mengatakan bahwa buku masak saya telah membantunya melewati tahun pertamanya hidup mandiri. Saya sangat senang mendengarnya,” kata Costello.
Costello bekerja sama dengan sejumlah merek, tetapi ia mengatakan selalu mempertimbangkan dengan cermat apakah sebuah produk atau perusahaan layak menggunakan namanya.
Menurutnya, bagian terbaik dari menjadi kreator konten adalah ketika mantan muridnya datang ke acara peluncuran dan penandatanganan bukunya bersama anak-anak mereka.
“Rasanya seperti sebuah perjalanan yang kembali ke titik awal. Saya benar-benar tidak percaya bahwa ini adalah kehidupan saya sekarang.”




