Kisah mereka yang hidup di dekat pusat data raksasa – ‘Saya tak bisa minum airnya’

Pusat data AS

Sumber gambar, Brandon Bell/Getty Images

Keterangan gambar, Kawasan pusat data milik Meta.
    • Penulis, Michelle Fleury dan Nathalie Jimenez
  • Telah diterbitkan

  • Waktu membaca: 6 menit

Pembangunan masif pusat data merupakan respons dari kemajuan teknologi. Tapi, masyarakat di sekitar lokasi justru menanggung beban yang tidak sedikit.

Ketika Beverly Morris pensiun pada 2016, dia mengira telah menemukan rumah impiannya—sebuah kawasan pedesaan yang tenang di Georgia, dikelilingi pepohonan dan keheningan.

Kini, kenyataannya jauh dari itu.

Hanya berjarak 360 meter dari teras depan rumahnya di Mansfield, Georgia, berdiri sebuah bangunan besar tanpa jendela yang dipenuhi server, kabel, serta lampu yang berkedip-kedip.

Itu adalah pusat data—salah satu dari sekian banyak pusat data yang bermunculan di kota-kota kecil Amerika Serikat, dan di seluruh dunia, untuk mendukung segala hal mulai dari perbankan online hingga alat kecerdasan buatan seperti ChatGPT.

“Saya tidak bisa tinggal di rumah saya jika setengah bagian rumah tidak berfungsi dan tidak ada air,” kata Morris.

“Saya tidak bisa minum airnya.”

Pusat data

Keterangan gambar, Lanskap pusat data di Georgia.

Morris meyakini bahwa pembangunan pusat data tersebut, yang dimiliki oleh Meta, perusahaan induk Facebook, telah mengganggu sumur pribadinya, sehingga menyebabkan penumpukan endapan yang berlebihan.

Lewatkan Paling banyak dibaca dan terus membaca

Paling banyak dibaca

  • Warga menunggu antrean sebelum menjalani pemeriksaan kesehatan di Puskesmas Ibrahim Adjie, Bandung, Jawa Barat, Senin (28/9/2026).

  • Aparat Puntland

  • Douglas Carter appears for a bond hearing in Provo, Utah. He wears a striped shirt with an orange top underneath and has a bald head and goatee beard. He has a pair of glasses hanging round his neck.

  • Pilot India

Akhir dari Paling banyak dibaca

Sekarang Morris harus mengangkut air dengan ember untuk menyiram toiletnya.

Dia menambahkan mesti memperbaiki pipa di dapurnya untuk memulihkan tekanan air. Namun, air yang keluar dari keran masih mengandung endapan.

“Saya takut minum air itu, tapi saya tetap memasak dan menyikat gigi dengan air itu,” tandas Morris.

“Apakah saya khawatir? Ya.”

Pusat data

Sumber gambar, Matt Ramey/AFP via Getty Images

Keterangan gambar, Protes tentang pusat data di Amerika Serikat.

Meta membantah pusat data membikin air menjadi rusak. Dalam respons kepada Redaksi, Meta menyatakan pembangunan pusat data tetap menghormati eksistensi masyarakat setempat.

Perusahaan tersebut mengklaim sudah melangsungkan riset independen terkait air tanah dalam rangka menanggapi kecemasan Morris. Hasilnya, operasional pusat data Meta “tidak berdampak negatif terhadap kondisi air tanah di kawasan bersangkutan.”

Meski demikian, Morris tetap tidak bisa menyambut kehadiran Meta.

“Dulu ini adalah tempat yang sempurna bagi saya,” akunya.

“Tapi, sekarang tidak lagi.”

Pusat data

Sumber gambar, Charles-McClintock Wilson/NurPhoto via Getty Images

Keterangan gambar, Pusat data milik Meta di Utah.

Kita cenderung menganggap cloud sebagai sesuatu yang tak terlihat—melayang di atas kita di ruang maya. Kenyataannya, cloud sangatlah nyata.

Eksistensi cloud berada di lebih dari 10.000 pusat data di seluruh dunia, sebagian besar berlokasi di Amerika Serikat, diikuti oleh Inggris dan Jerman.

Dengan kecerdasan buatan yang kini mendorong lonjakan aktivitas daring, jumlah pusat data tumbuh pesat. Seiring dengan itu, muncul pula lebih banyak keluhan dari warga sekitar.

Ledakan pertumbuhan pusat data di Amerika Serikat tengah menghadapi tantangan dari meningkatnya penolakan di tingkat lokal, dengan proyek senilai US$64 miliar tertunda atau diblokir di seluruh negeri, menurut laporan organisasi nirlaba, Data Center Watch.

Kekhawatiran yang muncul tidak hanya menyoal pembangunan, melainkan penggunaan air. Menjaga agar deretan server tetap dingin membutuhkan banyak air.

“Prosesor-prosesor ini sangat panas,” ungkap Mark Mills dari National Center for Energy Analytics dalam kesaksiannya di hadapan Kongres pada April lalu.

“Diperlukan banyak air untuk mendinginkannya.”

Pusat data AS

Sumber gambar, Charles-McClintock Wilson/NurPhoto via Getty Images

Keterangan gambar, Papan penunjuk di area pusat data milik Meta di AS.

Banyak pusat data memakai sistem pendinginan evaporatif, di mana air menyerap panas dan menguap—mirip dengan cara keringat menghilangkan panas dari tubuh kita. Pada hari-hari panas, satu fasilitas saja dapat menghabiskan jutaan galon air.

Sebuah studi memperkirakan bahwa pusat data berbasis kecerdasan buatan (AI) mampu mengonsumsi 1,7 triliun galon air secara global pada 2027.

Pusat data

Sumber gambar, Mario Tama/Getty Images

Keterangan gambar, Pembangunan pusat data di AS.

Hampir tidak ada tempat yang menggambarkan ketegangan ini dengan lebih jelas daripada Georgia—salah satu pasar pusat data yang pertumbuhannya melesat cepat di Amerika Serikat.

Iklimnya yang lembap menyediakan sumber air alami dan lebih hemat biaya untuk mendinginkan pusat data, sehingga menarik minat para pengembang. Sayangnya, kelimpahan itu mungkin harus dibayar dengan harga tertentu.

Pusat data AS

Keterangan gambar, Gordon ketika mengecek air di sekitar pusat data di Georgia.

Gordon Rogers adalah Direktur Eksekutif Flint Riverkeeper, sebuah kelompok advokasi nonprofit yang memantau kesehatan Sungai Flint di Georgia.

Dia membawa kami ke anak sungai yang terletak di bawah lokasi pembangunan pusat data baru yang dikerjakan perusahaan Amerika Serikat, Quality Technology Services (QTS).

George Dietz, relawan setempat, mengambil sampel air serta memasukkannya ke dalam kantong plastik bening. Airnya keruh sekaligus berwarna cokelat.

“Seharusnya warnanya tidak seperti itu,” tegasnya.

Baginya, air yang mengeruh mengindikasikan limpasan sedimen—dan kemungkinan adanya flokulan. Flokulan adalah bahan kimia yang digunakan dalam konstruksi untuk mengikat tanah serta mencegah erosi.

Jika terlepas ke sistem perairan, bahan ini bisa menimbulkan endapan lumpur.

QTS memastikan pusat datanya memenuhi standar lingkungan yang tinggi, di samping menyumbang pajak lokal sebesar jutaan dolar.

Walaupun pembangunan sering kali dilakukan oleh kontraktor pihak ketiga, warga setempatlah yang harus menanggung konsekuensinya.

“Mereka tidak seharusnya melakukannya,” tutur Rogers.

“Pemilik properti yang lebih besar dan lebih kaya tidak memiliki hak properti yang lebih besar daripada pemilik properti yang lebih kecil dan kurang mampu.”

Raksasa teknologi berujar bahwa mereka menyadari masalah yang dilahirkan pusat data dan sedang mengambil tindakan.

“Tujuan kami adalah agar pada 2030, kami dapat mengembalikan lebih banyak air ke daerah aliran sungai dan komunitas tempat kami mengoperasikan pusat data, daripada yang kami ambil,” papar Will Hewes, kepala pengelolaan air global di Amazon Web Services (AWS), yang mengoperasikan lebih banyak pusat data daripada perusahaan mana pun di dunia.

AWS, imbuh Hewes, berinvestasi dalam proyek-proyek seperti perbaikan kebocoran, penampungan air hujan, sampai pemanfaatan air limbah yang telah diolah untuk pendinginan.

Di Virginia, perusahaan ini bekerja sama dengan para petani untuk mengurangi polusi nutrisi di Teluk Chesapeake, muara terbesar di Amerika Serikat.

Di Afrika Selatan dan India, di mana AWS tidak menggunakan air untuk pendinginan, perusahaan ini tetap berinvestasi dalam inisiatif akses maupun kualitas air.

Di Amerika Serikat, jelas Hewes, air hanya digunakan pada sekitar 10% hari terpanas setiap tahun.

Kendati begitu, statistik sehubungan air untuk pusat data tetap signifikan. Diperkirakan 10 hingga 50 respons yang menggunakan model AI GPT-3 dapat mengonsumsi 500 ml air. Kalikan angka tersebut berkali-kali dalam sehari dan skalanya menjadi jelas.

Profesor Rajiv Garg mengajar komputasi awan di Universitas Emory di Atlanta. Dia mengatakan pusat data tidak akan hilang—justru semakin berkontribusi sebagai tulang punggung kehidupan modern.

“Tidak ada jalan untuk mundur,” ucapnya.

Tapi, dia melanjutkan, jalan ke depan masih terbuka lebar. Kuncinya, menurut Garg, ialah pendekatan jangka panjang: sistem pendinginan yang lebih cerdas, penampungan air hujan, atau infrastruktur yang efisien.

Dalam jangka pendek, pusat data akan menimbulkan “beban yang sangat besar,” dia mengakui. Namun, Garg juga menggarisbawahi bahwa industri ini mulai bergeser ke arah keberlanjutan.

Kalimat Garg tak banyak menghibur pemilik rumah seperti Beverly Morris yang terjebak di Redaksi impian masa lalu dan infrastruktur masa depan.

Pusat data telah menjadi lebih dari sekadar tren industri; dia bagian kebijakan nasional.

Presiden Donald Trump baru-baru ini berjanji bakal membangun proyek infrastruktur kecerdasan buatan terbesar dalam sejarah, yang dia klaim sebagai “masa depan yang didorong oleh data Amerika.”

Pusat data

Sumber gambar, Kevin Dietsch/Getty Images

Keterangan gambar, Donald Trump berambisi membangun banyak pusat data.

Di Georgia, terik matahari menyinari udara yang sangat lembap—sebuah pengingat mengapa negara bagian ini begitu menarik bagi pengembang pusat data.

Bagi penduduk setempat, masa depan teknologi sudah ada di sini. Dan masa depan itu berisik, haus air, serta terkadang sulit untuk ditinggali di dekatnya.

Seiring pertumbuhan mesin kecerdasan buatan, tantangannya jelas: bagaimana cara menyuplai energi bagi dunia digital masa depan tanpa menguras sumber daya paling mendasar dari semuanya—air.

Related Posts

Kisah pilu warga sipil yang terjebak di garis depan pertempuran pasukan Houthi dan pro-pemerintah di Yaman

Kisah pilu warga sipil yang terjebak di garis depan pertempuran pasukan Houthi dan pro-pemerintah di Yaman Keterangan video, Tonton: Koresponden Redaksi berlindung di semak-semak saat drone mendekat dan mengganggu laporannya…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *