INFO TEMPO – Deru mesin bulldozer terus bekerja sepanjang hari di lahan-lahan yang rusak imbas banjir bandang November 2025. Di sejumlah titik, alat berat tampak meratakan timbunan lumpur, memperbaiki tanggul jebol, hingga membuka kembali saluran irigasi yang tertutup material banjir sebagai bagian dari upaya Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Pascabencana Sumatra mempercepat pemulihan sawah warga terdampak.
Akselerasi fisik di lapangan tengah dipacu habis-habisan. Menukil data harian Satgas PRR, luas lahan yang rampung direhabilitasi naik 4.000 hektare dalam 17 hari. Data terbaru, 21 Mei 2026, tercatat 7.104 hektare. Melonjak dari dari 2.997 hektare pada 4 Mei 2026.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Percepatan ini sesuai target rapat Sekretaris Jenderal Kementerian Dalam Negeri Tomsi Tohir bersama seluruh pemerintah daerah terdampak pada Kamis, 30 April silam, yang menekankan percepatan rehabilitasi guna mengejar masa tanam sebelum puncak kemarau panjang terjadi pada Agustus mendatang.
Kenaikan terbesar terjadi di Aceh. Dalam dua pekan terakhir, luas sawah yang selesai direhabilitasi di provinsi itu bertambah dari 215 hektare menjadi 2.148 hektare. Tambahan 1.933 hektare tersebut menjadi salah satu lonjakan progres paling besar sejak program rehabilitasi dimulai.
Meski demikian, secara keseluruhan Aceh masih menjadi wilayah dengan tantangan pemulihan paling berat. Hingga 21 Mei 2026, progres sawah yang selesai direhabilitasi baru mencapai 6,8 persen dari total target lebih dari 31 ribu hektare lahan terdampak.
Sementara itu, Sumatera Barat masih mencatat capaian tertinggi. Sawah yang selesai direhabilitasi di wilayah ini meningkat dari 2.235 hektare menjadi 3.409 hektare dalam periode yang sama. Dengan capaian 87,36 persen, Sumbar kini tinggal selangkah lagi menyelesaikan target rehabilitasi secara penuh.
Di Sumatera Utara, percepatan terlihat dari tingginya angka penyelesaian proyek yang sudah berjalan. Luas sawah yang selesai direhabilitasi naik dari 547 hektare menjadi 1.546 hektare atau bertambah 999 hektare dalam 17 hari terakhir.
Secara keseluruhan, data Satgas PRR memperlihatkan perubahan pola kerja rehabilitasi sawah di tiga provinsi terdampak. Jika pada tahap awal fokus pekerjaan lebih banyak diarahkan pada pembukaan area konstruksi dan penyusunan desain teknis, kini pengerjaan mulai bergeser ke tahap penyelesaian fisik di lapangan.
Hal itu terlihat dari relatif kecilnya kenaikan luasan area yang masuk tahap konstruksi dibanding lonjakan sawah yang berhasil dirampungkan. Per 4 Mei 2026, luas sawah yang berada dalam tahap konstruksi tercatat 12.691 hektare. Angka itu meningkat menjadi 13.959 hektare pada 21 Mei atau bertambah sekitar 1.268 hektare.
Sebaliknya, luas sawah yang selesai direhabilitasi justru melonjak lebih dari dua kali lipat dalam periode yang sama. Kondisi tersebut menunjukkan tenaga dan sumber daya di lapangan mulai difokuskan untuk menuntaskan proyek yang sudah berjalan agar lahan dapat segera kembali digunakan petani.
Selain pekerjaan fisik, progres juga terjadi pada tahap perencanaan teknis. Luas lahan yang telah menyelesaikan dokumen survei, investigasi (SID), dan desain rehabilitasi meningkat dari 16.670 hektare menjadi 17.382 hektare.
Kepala Satgas PRR Tito Karnavian menegaskan rehabilitasi sawah menjadi salah satu prioritas pemulihan pascabencana karena berkaitan langsung dengan ketahanan pangan dan keberlangsungan hidup petani. “Semua upaya dilakukan untuk percepatan pemulihan,” ujarnya pada Februari lalu.
“Ini hal urgent. Karena itu, ada anggaran dari kementerian dan lembaga. Misalnya, Menteri Pertanian (menyalurkan) hampir Rp 900 miliar untuk irigasi pertanian, benih, dan lain-lain,” kata Tito menekankan. (*)






