UNIVERSITAS Sebelas Maret (UNS) Solo menganugerahkan penghargaan Parasamya Anugerah Widyatama Taru Tirta Bawana kepada tokoh lingkungan hidup Indonesia, Emil Salim. Penghargaan tersebut diberikan dalam rangka peringatan Dies Natalis ke-50 UNS yang digelar di Auditorium GPH Haryo Mataram, UNS, Rabu, 11 Maret 2026.
Rektor UNS Hartono menyerahkan penghargaan itu secara simbolis kepada putri Emil Salim, Amelia Salim, yang hadir mewakili ayahnya dalam acara tersebut. Emil Salim mengikuti prosesi penganugerahan secara daring.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Hartono mengatakan penghargaan tersebut diberikan sebagai bentuk apresiasi terhadap kontribusi panjang Emil Salim dalam bidang pelestarian lingkungan hidup di Indonesia. Menurut dia, sosok Emil Salim dinilai sebagai figur yang memiliki pengaruh besar dalam perkembangan kebijakan lingkungan nasional selama beberapa dekade.
“Tahun ini tema Dies Natalis UNS salah satunya menyoroti isu lingkungan hidup. Dari berbagai kandidat yang muncul, akhirnya semua pihak sepakat bahwa Prof. Emil Salim layak menerima penghargaan ini karena kiprahnya yang sangat besar dalam bidang lingkungan,” kata Hartono dalam pidatonya.
Ia berharap penghargaan tersebut dapat menjadi inspirasi bagi sivitas akademika UNS maupun masyarakat luas untuk semakin peduli terhadap kelestarian lingkungan. Menurut Hartono, upaya menjaga lingkungan hidup menjadi tanggung jawab bersama di tengah berbagai tantangan pembangunan.
Emil Salim dikenal sebagai tokoh yang memiliki perjalanan panjang dalam pemerintahan. Ia pernah menjabat sebagai Menteri Negara Penyempurnaan dan Pembersihan Aparatur Negara pada periode 1971–1973. Setelah itu ia dipercaya memimpin Kementerian Perhubungan pada 1973–1978.
Kariernya kemudian berlanjut sebagai Menteri Negara Urusan Kependudukan dan Lingkungan Hidup pada 1978–1983. Selanjutnya, ia menjabat sebagai Menteri Negara Pengawasan Pembangunan dan Lingkungan Hidup pada 1983–1993.
Dalam sambutannya yang disampaikan secara daring, Emil Salim menekankan pentingnya menjaga kekayaan sumber daya alam Indonesia. Menurut dia, Indonesia memiliki keunggulan sebagai negara tropis dengan keragaman hayati yang sangat besar.
“Potensi alam tersebut harus dimanfaatkan secara bijak sekaligus dijaga kelestariannya agar tetap memberi manfaat bagi generasi mendatang. Kekayaan hayati Indonesia, tidak hanya berperan dalam menjaga keseimbangan lingkungan, tetapi juga dapat mendukung pengembangan pangan dan obat-obatan,” tuturnya.
Emil Salim juga menilai peran perguruan tinggi sangat penting dalam mengembangkan ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan pemanfaatan sumber daya alam secara berkelanjutan. Ia menyebut langkah UNS dalam mengembangkan riset berbasis potensi alam tropis sebagai contoh kontribusi akademisi bagi kemajuan masyarakat.
Menurut dia, pengembangan ilmu pengetahuan yang berangkat dari kekayaan alam Indonesia dapat memberi manfaat tidak hanya bagi bangsa Indonesia, tetapi juga bagi umat manusia secara lebih luas melalui sektor kesehatan dan pangan.





