Menbud Apresiasi Film 'NIA', Harap Dapat Dukungan dari Masyarakat

Jakarta

Menteri Kebudayaan (Menbud), Fadli Zon menghadiri screening film karya sineas Aditya Gumay, ‘NIA’. Film itu mendapat dukungan sepenuhnya oleh Kementerian Kebudayaan (Kemenbud) sebagai bagian dari upaya promosi karya sinema nasional yang sarat pesan sosial.

Usai menyaksikan film di Bioskop XXI Plaza Senayan, Jumat (14/11) kemarin Fadli Zon menyampaikan apresiasinya. Ia menilai bahwa kisah tragis yang menimpa Nia penting untuk diangkat ke layar lebar sebagai pengingat tentang bahaya narkoba yang dapat memicu tindakan kriminal kapan saja dan di mana saja. Menurutnya, ini adalah pesan moral di belakang itu, kisah tragis yang sangat luar biasa mengharukan.

“Mudah-mudahan peristiwa-peristiwa ini tidak terulang kembali, dan mudah-mudahan kita dapat memetik pelajaran hikmah tentang apa yang terjadi di belakang film Nia ini. Jadi saya sebagai Menteri Kebudayaan sangat mendukung sekali film ini, dan kita berharap masyarakat Indonesia mendukung film Nia,” ujar Fadli Zon dalam keterangannya, Sabtu (15/11/2025).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

“Kami berharap masyarakat Indonesia dapat mendukung film ‘NIA’ saat tayang nanti. Saya pribadi juga akan menontonnya kembali, karena ini sangat dekat dengan realitas sosial kita, terlebih bagi mereka yang memiliki anak perempuan,” imbuhnya, yang juga turut berperan sebagai pemuka adat dalam film ini.

Adapun film ini diadaptasi dari kisah nyata tentang perjuangan seorang gadis di Padang Pariaman, Sumatera Barat. Mengangkat tokoh utama bernama Nia Kurnia Sari, film ini menyoroti keteguhannya sebagai tulang punggung keluarga setelah perceraian orang tuanya. Setiap hari, Nia membantu menghidupi keluarga dengan berjualan gorengan sambil merawat ibunya yang sedang sakit.

Kisah ini mencapai titik tragis ketika, pada suatu sore saat perjalanan pulang di tengah hujan melalui jalur sepi di tepi hutan, Nia menjadi korban tindak kejahatan seorang pemuda pecandu narkoba. Setelah peristiwa tersebut, Nia dinyatakan hilang dan upaya pencarian dilakukan oleh warga, kepolisian, serta pihak keluarga.

Tiga hari kemudian, jasad Nia ditemukan di tepi aliran irigasi, sementara pelaku melarikan diri. Film ini tidak hanya menampilkan drama emosional yang kuat, tetapi juga mengangkat isu penting mengenai kekerasan terhadap perempuan, bahaya penyalahgunaan narkoba, serta solidaritas masyarakat dalam menegakkan keadilan dan gotong royong, saling membantu satu sama lain.

(anl/ega)

  • Related Posts

    Kiai di Ponorogo yang Cabuli 11 Santri Laki-laki Ditahan

    Ponorogo – Kiai pimpinan pondok pesantren (Ponpes) di Kecamatan Jambon, Kabupaten Ponorogo, telah ditetapkan sebagai tersangka pencabulan belasan santri laki-laki. Polisi kini juga telah menahannya. “Hasil gelar perkara kita bersama,…

    MUI Kecam Penembakan di Masjid AS Tewaskan 3 Sipil: Usut Pelakunya

    Jakarta – Sekretaris Jenderal (Sekjen) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Amirsyah Tambunan mengecam insiden penembakan di kompleks masjid Kawasan San Diego, California, Amerika Serikat (AS). Penembakan tersebut menewaskan tiga warga sipil…

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *