Laksana Tri Handoko resmi menyerahkan jabatan Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) kepada Arif Satria, pada Selasa, 11 November 2025. Satu hari sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto melantik Arif sebagai Kepala BRIN menggantikan Laksana Tri Handoko.
Dalam pidato serah terima jabatan di Kantor BRIN itu, Laksana awalnya berterima kasih kepada seluruh pegawai BRIN. Ia juga bangga pernah memimpin lembaga itu, sekaligus merasa sedih karena harus meninggalkan lembaga yang telah dinaunginya selama 5 tahun tersebut.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Handoko juga sempat menangis di tengah pidatonya. “Saya ingin memberikan apresiasi kepada teman-teman yang sudah mau diajak untuk bekerja keras, diajak untuk memperbaiki diri, diajak untuk mengurangi zona-zona nyamannya,” kata dia, pada Selasa, 11 November 2025.
Laksana juga berpesan kepada Arif. Ia mulanya optimistis Rektor Institut Pertanian Bogor itu bisa meneruskan program-program di BRIN yang sudah dikembangkan sebelumnya dan memimpin lembaga para peneliti itu menjadi lebih baik. Laksana lantas mengingatkan Arif bahwa memimpin pegawai BRIN itu susah dan gampang. Sebab, menurut Handoko, pegawai BRIN memiliki dua karakter berbeda.
“Jadi, satu sisi pegawai (BRIN) ini disiplin, tapi sisi lainnya juga liar. Mungkin karena egaliter, ya,” kata Laksana.
Sejak awal Laksana memimpin BRIN, internal lembaga riset itu kerap diselimuti konflik internal. Puncaknya ketika sejumlah peneliti BRIN berunjuk rasa di depan Kantor BRIN, pada 27 Mei 2025. Mereka memprotes kebijakan homebase unit riset. Mereka juga mendesak agar Laksana Handoko dicopot dari jabatan Kepala BRIN.
Beberapa peneliti BRIN mengapresiasi positif penggantian Kepala BRIN tersebut. Mereka berharap Arif dapat membawa BRIN menjadi lebih baik.
Defara berkontribusi dalam penulisan artikel ini.
Pilihan Editor: Kepentingan Politik di Balik Tarik-Ulur Penggantian Kepala BRIN






