Perkemahan Pemuda Ahmadiyah di Karanganyar Dibubarkan Polisi

KEGIATAN perkemahan pemuda yang diselenggarakan oleh Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) di kawasan Watu Gambir Park Karangpandan, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah pada Jumat, 5 Juni 2026, dibubarkan oleh aparat kepolisian. Pembubaran itu terjadi akibat adanya penolakan dari sekelompok organisasi masyarakat (ormas) Islam.

Juru Bicara sekaligus Sekretaris Pers Jemaat Muslim Ahmadiyah Indonesia, Yendra Budiana, membenarkan adanya pembubaran kegiatan tersebut. Menurut dia, akibat pembubaran itu, ribuan peserta yang terdiri dari anak-anak dan remaja terpaksa menghentikan kegiatan dan dipulangkan lebih awal.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

“Ribuan anak dan remaja yang akan mengikuti kegiatan camping dari Jumat hingga Minggu dipaksa pulang karena adanya tekanan dari aksi demonstrasi sekitar 100 orang yang mengatasnamakan Forum Ukhuwah Umat Islam Solo Raya dengan alasan Ahmadiyah sesat,” ujar Yendra saat dikonfirmasi Tempo, Jumat malam. 

Yendra menjelaskan kegiatan tersebut merupakan perkemahan remaja yang berisi berbagai aktivitas seperti olahraga, hiking, permainan, serta salat tahajud bersama. Menurut dia, aksi penolakan berlangsung sejak usai salat Jumat dan berlanjut hingga malam hari. Hingga Jumat malam, panitia masih melakukan proses pemulangan peserta.

Menurut Yendra, pihaknya sudah sering menyelenggarakan kegiatan serupa di daerah yang sama dan selama ini tidak pernah mengalami gangguan. “Kami juga telah berkoordinasi dengan pemilik lokasi, sementara pengurusan izin atau pemberitahuan kepada pihak terkait dilakukan oleh pengelola tempat,” ujarnya.

Yendra menyayangkan atas tindakan pembubaran tersebut. Pihaknya menilai penghentian kegiatan masyarakat yang sah secara konstitusional oleh tekanan kelompok tertentu dapat menjadi ancaman terhadap ketertiban dan keamanan masyarakat.

“Kami memandang pembubaran kegiatan masyarakat yang sah secara konstitusi oleh ormas atas alasan apa pun merupakan ancaman gangguan keamanan bagi masyarakat, bangsa, dan negara yang seharusnya bersatu menghadapi berbagai tantangan, termasuk situasi krisis global saat ini,” ujar Yendra.

Yendra menyatakan akan meminta penjelasan kepada pihak berwenang terkait alasan pembubaran kegiatan tersebut. “Kami akan melakukan audiensi dengan pihak kepolisian dan pemerintah daerah untuk menanyakan detail permasalahan yang terjadi serta mencari solusi ke depan,” kata dia.

Sementara itu, Sekretaris Forum Ukhuwah Umat Islam Solo Raya (FUUI-SOYA), Abu Hambra, membenarkan adanya penolakan terhadap kegiatan tersebut. Ia mengatakan penolakan dilakukan karena adanya kekhawatiran terhadap penyebaran paham Ahmadiyah.

Menurut Abu, pihaknya telah menyampaikan surat keberatan secara resmi kepada pihak terkait. “Kami juga telah menyampaikan surat keberatan secara resmi. Penolakan dilakukan karena dikhawatirkan adanya penyebaran paham Ahmadiyah,” ujarnya.

Dalam surat tersebut, FUUI-SOYA menyatakan keberatan atau menolak terselenggaranya kegiatan tersebut dan meminta dibatalkan, berdasarkan Fatwa MUI NO 11/MUNAS/VII/15/2005 menetapkan bahwa aliran Ahmadiyah sebagai kelompok di luar Islam, sesat dan menyesatkan.

Abu menjelaskan, berdasarkan informasi yang diterima dari pemerintah desa setempat, kegiatan tersebut diikuti sekitar 2.500 peserta dari berbagai daerah di Indonesia dengan menggunakan nama Humanity First. “Setelah diselidiki ternyata mereka Ahmadiyah. Akhirnya terjadilah penolakan dari FUUI-SOYA,” kata dia.

Menurut Abu, aparat dan masyarakat setempat tidak memperoleh pemberitahuan bahwa kegiatan tersebut terkait dengan Ahmadiyah. “Mereka mengatasnamakan Humanity First, bukan Ahmadiyah. Bahkan pihak aparat merasa kecolongan karena pemberitahuan yang diterima mengenai kegiatan Humanity First dari seluruh Indonesia,” ujarnya.

Terkait rencana kegiatan yang semula dijadwalkan berlangsung hingga Ahad, 7 Juni 2026, Abu mengatakan pihaknya akan terus memantau di lokasi bersama aparat. “Pastinya begitu (memantau). Itu merupakan permintaan dari masyarakat setempat agar dilakukan pendampingan dan pemantauan sampai tanggal 7 Juni,” katanya.

  • Related Posts

    AS mengatakan drone Iran ditembak jatuh, situs radar menyerang di Pulau Qeshm, Goruk

    PBB melaporkan bahwa 1,4 juta orang membutuhkan bantuan di Lebanon di tengah serangan Israel terhadap negara tersebut. Durasi Video 05 menit 23 detik 05:23 Pembicaraan AS-Iran Berisiko Saat Ketegangan Lebanon…

    Para Aktivis yang Alami Teror karena Vokal Kritik Pemerintah

    SEJUMLAH aktivis mengalami teror dari orang tak dikenal setelah mereka menyampaikan kritik terhadap kebijakan pemerintah. Salah satu peristiwa teror yang menonjol adalah saat Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan…

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *