BADAN Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia atau BEM UI meminta pemerintah berhenti membodohi rakyat terkait kondisi Indonesia. Pernyataan itu merespons omongan Presiden Prabowo Subianto yang mengatakan nilai tukar dolar tak berefek pada orang-orang di desa.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
“Teruntuk Presiden dan Menkeu (Menteri Keuangan), stop bodohi rakyat. Karena rakyat tidak sebodoh bapak yang tutup mata dengan kondisi sebenarnya,” ujar Ketua BEM UI Yatalathof Ma’shum Imawan dalam keterangan tertulis yang diterima, Ahad malam, 17 Mei 2026.
Athof, sapaannya, mengaku heran ketika Presiden Prabowo Subianto bisa mengeluarkan pernyataan sebodoh itu mengenai nilai tukar dolar terhadap rupiah yang terus naik tak berpengaruh ke pedesaan.
“Entah itu karena Bapak Presiden bodoh atau bawahan Bapak yang bodoh. Pada faktanya, ketika nilai tukar dolar terus naik maka rakyat desa sangat rentan terhadap dampaknya,” kata Athof.
Menurut Athof, jika nilai tukar dolar naik, maka harga pupuk juga turut naik dan berefek kepada petani yang merugi. Begitu pula ketika nilai tukar dolar terus naik maka bahan bakar minyak (BBM) juga berisiko akan naik karena belinya masih impor.
“Dan nelayan merugi serta biaya hidup bagi buruh dan keluarga akan mahal karena harga di warung-warung akan naik juga,” tutur Athof.
Kemudian, Athof juga mempertanyakan pernyataan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang optimistis terhadap keadaan ekonomi hari ini. Menurut dia, pernyataan itu seperti halusinasi.
“Terakhir Menkeu berkelakar “Jangan panik karena fondasi ekonomi bagus”. Lantas jika memang fondasi ekonomi Indonesia bagus, mengapa kurs rupiah jatuh paling bawah di Asia Tenggara, kedua paling bawah setelah Filipina yang sedang kehabisan BBM.”
“Jadi pertanyaannya adalah apakah memang fondasi ekonomi Indonesia bagus atau bapak justru sedang berhalusinasi dan lupa bahwa kita justru terendah kedua di Asia Tenggara.”
Untuk itu, BEM UI meminta agar pemerintah berhenti berhalusinasi dan membodohi rakyat dengan retorika. “Karena rakyat tidak sebodoh Bapak dan rakyat juga tidak tutup mata dengan kondisi sebenarnya. Karena kami lah yang paling merasakan dampak, bukan Bapak yang tidak perlu khawatir besok hari akan makan apa,” kata Athof.






