Pesan Suara Dokter Myta Sebelum Meninggal: Aku Enggak Kuat

KEMENTERIAN Kesehatan memutar rekaman suara mendiang Myta Aprilia Azmi yang diduga meninggal karena kelelahan bekerja sebagai dokter magang di Rumah Sakit Umum Daerah KH. Daud Arif, Kuala Tungkal, Jambi. Rekaman itu diungkap dalam pemaparan hasil investigasi oleh Pelaksana Tugas Inspektur Jenderal Kementerian Kesehatan Rudi Supriatna Nata Saputra pada Kamis, 7 Mei 2026.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Menurut Rudi, Myta mulai mengalami demam, batuk, dan pilek pada 24 Maret 2026, tapi ia memaksakan diri tetap berjaga di IGD hingga beberapa hari setelahnya. Namun, Myta tidak kunjung membaik hingga 31 Maret 2026. Keesokan harinya, Myta menceritakan kondisinya yang mengalami demam 40 derajat celcius hingga kesulitan membuka mata.

Myta mengirimkan pesan suara lewat aplikasi Whatsapp kepada rekan sesama dokter berinisial M pada 1 April 2026. Cerita Myta berdasarkan percakapannya dengan dokter bernama David yang menjadi rekannya bertugas di IGD. “Kok kelihatan sakit nian gitu. Iyo, Bang, Myta bilang kan, batuk pilek, Bang, demam, panas nian. Eh, silau, dak bisa buka mato gitu kan,” kata Myta dalam rekamannya.

Dalam rekaman itu Myta mengatakan telah mengonsumsi obat paracetamol 1.000 miligram sebagai penawar demamnya. Kemudian dalam pesan suara kedua yang ditampilkan, Myta mengeluhkan tubuhnya yang terasa panas, menggigil hingga mual. Akhirnya Dokter David memberikan Myta obat dio lansoprazole dan meminta dia melepas masker agar mudah meminumnya.

“Aku make masker kan, aku batuk pilek kan, takut bae gitu kan. ‘Buka bae eh biar napasnyo enak. Mual, Bang. Nak muntah gitu’. Ya sudah diambilnyo obat, dio lansoprazole biaso sih memang,” ucap dia menceritakan ulang kepada temannya.

Kemudian dalam pesan suara ketiga, Myta mengklaim kondisinya sudah lebih baik. Namun ia merasa bersalah kepada David karena mengambil alih pasien di IGD dan berulangkali menyampaikan permohonan maaf.

Kondisi kesehatan Myta belum juga membaik hingga 11 April 2026. Dua hari setelahnya Myta merayakan ulang tahun ke-25 sambil tangannya diinfus untuk ditransfer paracetamol. Myta kembali drop setelah ia berjaga malam. Lalu untuk pertama kalinya, Myta meminta temannya menggantikan ia bekerja pada shift pagi karena kondisinya makin memburuk pada 15 April 2026.

“Aku Mau minta tolong gantiin jadwal aku, yang pagi ini. Kalau misa kamu bisa. Hari ini saja. Nanti yang malam biarlah Rena nanti yang gantiin. Kalau yang aku (rasakan) sih kayak enggak kuat, Astri,” ucap Myta terbata-bata dengan nafas yang sesak.

Saat itu keluarga sempat tidak bisa menghubungi Myta sehingga meminta bantuan dokter lain untuk mencarinya. Rudi menuturkan, Myta ditemukan sedang berdiri di bawah tangga kosnya dalam keadaan linglung. Rudi menduga Myta mengalami hipoksia atau penurunan kadar oksigen dalam sel-sel tubuh karena masih ingin berangkat kerja dalam kondisi tersebut.

Akhirnya pada sejak 15 April Myta dirawat di tempatnya bekerja dan ia diperbolehkan pulang pada 20 April 2026 pagi. Namun, keesokan harinya Myta kembali demam dan mengeluhkan sesak napas sehingga keluarganya membawa dia ke RSUD Raden Mattaher Jambi yang berjarak tiga jam perjalanan darat dari Kuala Tungkal. Selama tiga hari Myta dirawat dan kemudian kembali ke RSUD KH Daud Arif untuk menjalani magang pada 24 April 2026.

Melihat kondisi Myta, dokter pendampingnya memperbolehkan dia agar beristirahat. Keluarganya pun memutuskan membawa Myta pulang ke Palembang dan merawatnya di RSUP Dr Mohammad Hoesin di ruang isolasi infeksi pada 27 April 2026. Kemudian Myta masuk ICU karena membutuhkan bantuan pernapasan karena kondisinya terus menurun. Nyawa Myta tidak tertolong setelah dirawat beberapa hari di ICU Rumah Sakit Mohammad Hoesin.

“Karena ada gangguan paru, bernafasnya berat, maka perlu alat bantu pernafasan. Jadi dipasang ventilator, itu sekitar pukul 16.00. Dan dokter MAA dirawat di ICU hingga wafat,” ujar Rudi.

Rudi memaparkan bahwa hasil medical check up Myta menunjukkan dalam kondisi sehat saat pertama kali magang di Labkesmas Palembang I pada 4 Agustus 2025. Myta juga belum memiliki masalah kesehatan apa pun saat menjalani magang stase di Puskesmas Kuala Tungkal II pada 11 Agustus 2025-10 Februari 2026. Kemudian dia melanjutkan magang stase di RSUD KH. Daud Arif per 11 Februari 2026 dalam keadaan sehat.

Saat itulah Myta mulai bekerja melebihi batas maksimal yang ditetapkan oleh Kemenkes yaitu 8 jam setiap hari atau total 40 jam setiap pekan dan toleransi hingga 48 jam. Rumah sakit membagi dua shift dokter magang di IGD dengan durasi masing-masing 12 jam per hari. Shift pertama mulai 08.00-20.00 WIB, dan shift kedua 20.00-08.00 WIB.

Direktur Jenderal Sumber Daya Manusia Kesehatan Kemenkes Yuli Farianti mengungkap bahwa Myta dan dokter magang lain di RSUD KH. Daud Arif tidak pernah mendapatkan libur. Di akhir pekan yang seharusnya libur, dokter magang tetap melakukan kunjungan ke bangsal pasien yang seharusnya menjadi tugas dokter penanggung jawab pelayanan.

Yuli juga menyampaikan bahwa sistem kerja di rumah sakit yang mengharuskan dokter magang mencapai target jaga dan kinerja bisa menjadi penyebab Myta enggan mengajukan izin saat sedang sakit. Sebab, bagi yang tidak mencapai target bisa mendapatkan penambahan waktu bekerja.

Atas kejadian ini, Kementerian Kesehatan mempertegas pembagian kerja dan pengaturan libur bagi dokter magang. Kemenkes mewajibkan rumah sakit wahana untuk menerapkan minimal satu hari libur tiap pekan dan tidak lagi memberikan toleransi 20 persen dari total jam kerja tiap pekan. Artinya, hanya terdapat dua pola kerja yaitu 5 hari per pekan dengan 8 jam setiap hari atau 6 hari kerja per pekan dengan durasi 6-7 jam setiap hari.

  • Related Posts

    INMF: Daftar Media yang Beredar Merupakan Pemetaan Ekosistem

    KOMITE Indonesia New Media Forum atau INMF menyayangkan pencatutan nama media dalam konferensi pers yang diselenggarakan Badan Komunikasi Pemerintah RI pada Rabu, 6 Mei 2026. Dalam keterangan tertulis bertanggal 7…

    Trump mengatakan gencatan senjata masih 'berlaku' ketika Iran dan AS melancarkan serangan dagang

    Iran menuduh AS melancarkan gencatan senjata dengan menargetkan kapal-kapal Iran dan melakukan serangan di wilayah pesisir. hidup Video ini mungkin berisi pola atau gambar cahaya yang dapat memicu kejang atau…

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *