Gibran Puji Gus Dur dan Megawati soal Perayaan Imlek

WAKIL Presiden Gibran Rakabuming Raka berbicara soal warisan Presiden keempat, Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Dalam unggahan video monolog di saluran YouTube-nya, Gibran memuji keberanian Gus Dur dalam melindungi dan memperjuangkan hak-hak kelompok minoritas.

Gibran mulanya membicarakan perihal kondisi perayaan Imlek hari ini di Indonesia yang hangat, penuh kebersamaan, hingga memeriahkan ruang-ruang publik. Menurut dia, kondisi itu lahir karena keteguhan dan keberanian para pendahulu dalam merawat keberagaman.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

“Berawal dari sebuah keputusan besar Presiden keempat, Bapak Abdurrahman Wahid, melalui Keppres Nomor 6 Tahun 2000, Gus Dur membuat kebijakan yang bukan sekadar administratif, tapi sebagai tonggak sejarah yang mengajarkan arti toleransi dan persaudaraan,” kata Gibran dalam keterangannya pada Sabtu, 28 Februari 2026.

Kebijakan Gus Dur itu, ujar dia, kemudian dilanjutkan oleh kepemimpinan Megawati Soekarnoputri. Ketika itu pada 2002, putri Soekarno itu menetapkan perayaan Imlek sebagai hari libur nasional.

“Ini adalah wujud nyata pengakuan utuh bahwa setiap negara memiliki hak yang sama untuk mengekspresikan identitas budayanya,” ujar putra sulung mantan presiden Joko Widodo tersebut.

Keberanian Gus Dur membela hak minoritas, kata Gibran, mengisyaratkan bahwa demokrasi seharusnya tidak melulu soal suara terbanyak. “Tapi juga tentang keberpihakan terhadap keadilan, di mana negara harus hadir untuk semua tanpa terkecuali,” ujar Gibran.

Gibran berujar pendiri Partai Kebangkitan Bangsa itu juga mengajarkan perihal pentingnya persaudaraan kebangsaan. Gus Dur, kata dia, menempatkan rasa persaudaraan itu berada di atas segala perbedaan.

“Di mana toleransi bukan hanya membiarkan, tapi menghargai. Bukan sekadar menerima keberadaan, tapi turut menjaga dan merawat kebhinekaan,” kata Gibran.

Gibran mengajak para generasi muda dan penerus bangsa untuk merawat semangat dan warisan pemikiran pemimpin-pemimpin bangsa. Termasuk menjaga agar ruang publik tetap teduh, inklusif, tanpa ada lagi orang yang merasa asing di tanah kelahirannya sendiri. “Karena tidak akan ada Indonesia jika tanpa kebhinekaan,” kata Gibran.

  • Related Posts

    Di Kupang, Mensos Gus Ipul Ajak Pemda Lakukan Pemutakhiran DTSEN

    Jakarta – Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul mengungkap data Dewan Ekonomi Nasional (DEN) 2025 bahwa sekitar 45 persen penerima Program Keluarga Harapan (PKH) ditengarai tidak tepat sasaran. Temuan…

    Bakom: Sejak Awal Agenda Presiden Prabowo Hanya ke Prancis

    KEPALA Badan Komunikasi Pemerintah atau Bakom Muhammad Qodari membantah Presiden Prabowo Subianto diagendakan mengunjungi negara-negara lain setelah kunjungan empat hari ke Prancis pada 26-29 Mei 2026. Menurut Qodari, sejak awal…

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *