Dorong Indonesia Emas, Wamendagri Soroti Peran Strategis Desa

Jakarta

Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Akhmad Wiyagus menegaskan pembangunan desa menjadi tolok ukur kemajuan suatu negara. Menurutnya, desa merupakan garda terdepan pelayanan publik sekaligus penggerak utama pembangunan nasional berbasis potensi wilayah.

“Artinya, Indonesia akan maju jika desanya maju,” katanya dalam keterangan tertulis, Rabu (14/1/2026).

Hal itu disampaikan Wiyagus saat membuka Lokakarya Desa dan Kelurahan Berprestasi di Pendopo Gedhe, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, dalam rangkaian kegiatan peringatan Hari Desa Nasional Tahun 2026.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Wiyagus, pencapaian visi Indonesia Emas 2045 hanya dapat terwujud apabila tata kelola pemerintahan berjalan dengan baik serta pembangunan terhadap 75.266 desa dan 8.496 kelurahan dilakukan secara berkelanjutan dan inklusif. Apalagi, pembangunan desa menjadi salah satu prioritas utama dalam pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

Sejalan dengan Asta Cita keenam, desa kini ditempatkan bukan lagi sebagai objek, melainkan sebagai subjek pembangunan yang berdaya, mandiri, dan inovatif. Dalam konteks tersebut, ia mengapresiasi tren positif pembangunan desa yang tercermin dari meningkatnya jumlah desa berstatus berkembang dan maju. Capaian ini diiringi dengan penguatan transparansi, peningkatan partisipasi masyarakat, serta pertumbuhan ekonomi lokal melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).

Selanjutnya, Wiyagus juga menekankan pentingnya penguatan ekonomi kerakyatan melalui Koperasi Desa dan Kelurahan (Kopdeskel) Merah Putih. Sebagai penggerak produksi, distribusi, dan pemasaran hasil desa, Kopdeskel Merah Putih dinilai dapat disinergikan dengan Program Makan Bergizi Gratis melalui penyediaan bahan pangan lokal serta penguatan rantai pasok pangan nasional.

Tak ketinggalan, Wiyagus juga menyampaikan duka cita atas bencana banjir dan longsor yang terjadi di wilayah Aceh, Sumatra Barat, dan Sumatra Utara. Menurutnya, kondisi tersebut menjadi pengingat akan pentingnya membangun desa yang lebih tangguh dalam menghadapi bencana melalui perencanaan yang tepat, penguatan kapasitas aparatur, serta pemanfaatan dana desa yang menyasar mitigasi dan pemulihan pascabencana.

“Kemandirian desa juga harus diimbangi dengan kesiapan menghadapi dampak perubahan iklim agar kesejahteraan masyarakat bisa tetap terjaga,” tandasnya.

(akn/ega)

  • Related Posts

    1 Rumah Cuma Dihuni 1 Orang, Berapa Banyak Orang Tinggal Sendirian?

    Jakarta – Tinggal sendirian dalam satu rumah menjadi fenomena sosial yang masih terjadi di Indonesia. Ada beberapa daerah yang memiliki penduduk yang tinggal sendirian di satu rumah. Daerah mana yang…

    Prabowo Akan Terima Kredensial 17 Calon Dubes Pekan Depan

    PRESIDEN Prabowo Subianto diagendakan menerima surat kepercayaan alias letter of credence dari 17 calon duta besar negara sahabat pada awal pekan depan. Prosesi itu akan dihelat di Istana Kepresidenan Jakarta,…

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *