Duta Besar UEA untuk Indonesia Abdulla Salem Al-Dhaheri mengungkapkan kondisi konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Israel dan Amerika Serikat. Menurutnya, Iran tak hanya menargetkan fasilitas militer, tapi juga menghancurkan fasilitas publik.
“Banyak korban jiwa dan luka-luka, serta kerusakan pada infrastruktur sipil yang vital, bandara, pelabuhan, fasilitas energi, dan area perumahan. Fakta-fakta ini dengan jelas menunjukkan bahwa serangan-serangan tersebut tidak terbatas pada target militer,” kata Al-Dhaheri dalam jumpa pers di kediamannya, kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (8/4/2026).
Untuk itu, Al-Dhaheri membantah klaim yang menyebut serangan Iran hanya menargetkan fasilitas militer. Menurutnya, hal itu untuk merusak tatanan ekonomi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Apa yang kita saksikan adalah pergeseran berbahaya menuju penargetan infrastruktur sipil dengan tujuan merusak stabilitas ekonomi, alih-alih mencapai tujuan militer yang sah,” ungkapnya.
Selain itu, menurut Al-Dhaheri, konflik Iran melawan Israel dan Amerika bukanlah perang agama. Katanya, konflik ini berkaitan dengan hukum dan kedaulatan.
“Selain itu, izinkan saya memperjelas poin ini. Upaya untuk membingkai konflik ini sebagai perang agama adalah menyesatkan dan tidak mencerminkan kenyataan. Ini adalah masalah keamanan, kedaulatan, dan hukum internasional, bukan agama. Saya ulangi, ini bukan perang agama,” tegasnya.
Al-Dhaheri menilai Iran ingin perang lebih besar dengan memperluas serangannya ke negara tetangga. Bahkan dia mencatat, serangannya ke Israel hanya sebagian kecil.
“Iran mengarahkan sebagian besar serangannya ke negara-negara tetangga, negara-negara yang tidak memicu eskalasi dan tidak menginginkan perang ini. Statistik terbaru menunjukkan bahwa 85% rudal dan drone Iran diluncurkan ke arah negara-negara Muslim, sementara hanya 15% yang menargetkan Israel,” ungkap dia.
Untuk itu Al-Dhaheri meminta masyarakat dunia, khususnya Indonesia, dapat menilai konflik ini dengan seimbang. Dia tak ingin narasi yang dibangun berat sebelah.
“Tanpa dipengaruhi oleh narasi emosional yang bertentangan dengan fakta. Saya mendesak netralitas dan solidaritas, serta dukungan untuk dunia Arab dan negara-negara Muslim yang terkena dampak perang yang sedang berlangsung di Timur Tengah,” jelasnya.
“UEA, GCC, dan Yordania telah menunjukkan penahanan diri, tanggung jawab, dan kedisiplinan. Kami tidak membalas dengan cara yang sama meskipun ada serangan berulang dari Iran, karena kami sangat yakin bahwa kepemimpinan tidak diukur dari eskalasi, melainkan dari kemampuan untuk mencegah konflik yang lebih luas,” sambungnya.
Dia melanjutkan, UEA saat ini aktif berkomunikasi dengan para pemimpin dunia termasuk Presiden Prabowo Subianto untuk mencapai tujuan deeskalasi konflik.
“Di bawah kepemimpinan Sheikh Mohammed bin Zayed Al Nahyan, Presiden Uni Emirat Arab, UEA telah secara aktif berdialog dengan para pemimpin global, termasuk Yang Mulia Prabowo Subianto, Presiden Republik Indonesia, untuk mempromosikan deeskalasi dan koordinasi internasional,” katanya.
Al-Dhaheri mengungkapkan kondisi UEA tetap aman di tengah konflik dan agresi Iran sebelumnya. Menurutnya pertahanan negaranya masih efektif.
“Saya ingin meyakinkan, Uni Emirat Arab tetap aman, stabil, dan sepenuhnya siap. Begitu pula dengan Bahrain, Qatar, Yordania, dan Kuwait. Sistem pertahanan kami sangat efektif. Institusi kami beroperasi penuh,” tegasnya.
Dia menerangkan ekonomi di UEA masih kuat. Namun, ekonomi global terpengaruh termasuk Indonesia lantaran pasokan minyak terhambat.
“Kenaikan harga energi, peningkatan biaya pengiriman dan transportasi, serta tekanan pada rantai pasokan global. Di sini saya ingin mengatakan bahwa Indonesia tidak kebal. Seperti banyak ekonomi Asia lainnya, Indonesia terkena dampak langsung karena harga bahan bakar juga meningkat, peningkatan biaya barang, dan gangguan rantai pasok,” katanya.
(tsy/rfs)





