Tim Advokasi Demokrasi Duga Ada Peran Sipil di Kasus Andrie

TIM Advokasi untuk Demokrasi (TAUD) menyampaikan temuan investigasinya ihwal kasus percobaan pembunuhan terhadap aktivis hak asasi manusia (HAM), Andrie Yunus. Mereka menduga terdapat pelaku berlatar belakang sipil yang terlibat di peristiwa penyiraman air keras terhadap Wakil Koordinator KontraS ini.

Investigasi independen TAUD dilakukan oleh sejumlah organisasi non-pemerintah. Mereka di antaranya Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), LBH Jakarta, YLBHI, Trend Asia, Amar Law Firms, LBH Pers, Imparsial, hingga Greenpeace Indonesia.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

TAUD mengatakan dugaan ini didasari oleh adanya pelaku yang terlihat di sekitar kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia, tempat Andrie Yunus melakukan siaran podcast sebelum kejadian. Menurut TAUD, pelaku diduga sipil juga terlihat membuntuti Andrie Yunus di tempat kejadian perkara dengan mengenakan atribut ojek online.

Selain itu, TAUD juga mengindikasikan jumlah pelaku yang lebih dari empat orang dalam penyerangan air keras ke Andrie Yunus ini. Temuan tim dari kelompok masyarakat sipil ini didapat dari pantauan kamera pengawas yang terpasang di kantor YLBHI.

“Investigasi independen TAUD juga mengidentifikasi adanya belasan orang pelaku yang diduga kuat saling berkoordinasi sepanjang malam kejadian perkara,” kata TAUD, dalam keterangan yang dikirim pengurus KontraS Jane Rosalina ke Tempo, Ahad, 22 Maret 2026.

Temuan keterlibatan sipil dan belasan terduga pelaku lainnya dinilai menunjukkan operasi penyerangan ke Andrie Yunus ini terstruktur dan terorganisir. TAUD menduga operasi besar ini digerakkan oleh pihak yang memiliki otoritas. “TAUD terus mendalami bukti-bukti guna memastikan akuntabilitas aparat penegak hukum,” ujarnya.

TAUD mendesak agar pengusutan kasus penyerangan ke Wakil Koordinator KontraS itu tak hanya meringkus aktor lapangan. Kepolisian diminta untuk mencari auktor intelektualis sekaligus aktor-aktor yang berperan dalam hal operasional.

TAUD mendesak Presiden Prabowo Subianto untuk segera membentuk Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) independen melalui keputusan presiden. Tim ini harus melibatkan unsur masyarakat sipil.

Selain itu, mereka mendesak penuntutan terhadap para terduga pelaku, baik dari aparat maupun sipil, tidak dilakukan di peradilan militer, melainkan di peradilan umum. TAUD menyatakan komitmen menerapkan mekanisme peradilan umum dalam penuntutan kasus penyerangan air keras terhadap Andrie Yunus dapat menjadi langkah awal bagi negara memutus rantai impunitas. “Apabila tidak (peradilan umum), berarti negara memang ingin merawat impunitas dan melindungi para pelaku dan auktor intelektual di belakangnya,” ucap TAUD.

Andrie Yunus disiram air keras oleh orang tak dikenal di kawasan Jalan Talang, Salemba, Jakarta Pusat, pada Kamis malam, 12 Maret 2026. Koordinator KontraS Dimas Bagus Arya mengatakan, Andrie mengalami luka bakar hingga 24 persen akibat kejadian itu. Andrie ditangani oleh enam orang dokter dengan spesialisasi berbeda-beda yakni mata; telinga, hidung, tenggorokan atau THT; syaraf, tulang; thorax; organ dalam; dan kulit. 

Kepolisian merilis dua terduga pelaku penyiraman air keras dari hasil penyelidikan. Berdasarkan barang bukti yang dikumpulkan polisi, dua terduga pelaku berinisial BHC dan MAK.

Sedangkan versi Mabes Tentara Nasional Indonesia atau TNI mengumumkan empat pelaku yang telah ditangkap instansi pertahanan dalam kasus penyerangan ke Andrie Yunus ini. Keempatnya disebut berasal dari satuan Badan Intelijen Strategis (BAIS) TNI berinisial NDP, SL, BHW, dan ES.

NDP berpangkat kapten atau pangkat tertinggi dalam kelompok perwira pertama. SL dan BHW berpangkat letnan satu, satu tingkat di bawah kapten. Sementara itu, ES berpangkat sersan dua, yakni pangkat bintara terendah dalam struktur kemiliteran Indonesia.

  • Related Posts

    Berita Terkini, Berita Hari Ini Indonesia dan Dunia | tempo.co

    Asas jurnalisme kami bukan jurnalisme yang memihak satu golongan. Kami percaya kebajikan, juga ketidakbajikan, tidak menjadi monopoli satu pihak. Kami percaya tugas pers bukan menyebarkan prasangka, justru melenyapkannya, bukan membenihkan…

    Hutan Lestari Pertamina: Menenun Harmoni Alam, Menuai Kesejahteraan Warga

    Jakarta – Suara lonceng yang memecah keheningan di lereng Gunung Agung menjadi mukadimah bagi sebuah harapan baru. Di Pura Kancing Gumi, Bali, doa-doa melambung setinggi 250 meter dari permukaan laut,…

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *