Populer: Prabowo Tertibkan Pengkritik, Pembatasan Air Keras

BERAGAM tanggapan para ahli terhadap pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang ingin menertibkan para pengamat yang acap mengkritik pemerintah menjadi topik paling banyak disorot pada akhir pekan kemarin, Minggu, 15 Maret 2026. Salah satu artikel yang paling banyak dibaca adalah komentar Public Virtue Research Institute (PVRI) yang menyebut pernyataan Prabowo sebagai akar masalah kekacauan politik.

Selain itu, artikel soal pernyataan Celios yang menilai adanya sikap paranoid dalam pernyataan Prabowo juga mendapat perhatian pembaca. Adapun topik penyiraman air keras terhadap aktivis Kontras Andrie Yunus juga masih diperbincangkan. Berikut tiga berita paling banyak dibaca di kanal nasional Tempo pada 15 Maret kemarin:

PVRI: Pernyataan Prabowo Akar Masalah Kekacauan Politik

Public Virtue Research Institute (PVRI) mempertanyakan sikap antikritik Presiden Prabowo Subianto yang disampaikan usai serangan air keras terhadap Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) Andrie Yunus.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Belum genap 24 jam sejak penyiraman air keras terhadap Andrie, Presiden Prabowo Subianto menyampaikan ingin menertibkan pengkritik dan pengamat yang dianggapnya ‘tidak patriotik’ di hari penyerangan Andrie.

Ketua Dewan Pengurus PVRI Usman Hamid menyebut pernyataan Prabowo tersebut sebagai ancaman serius terhadap aktivis, akademisi, mahasiswa, pelajar, dan warga biasa yang membela demokrasi. Kritik mereka dianggap Prabowo sebagai kekacauan sehingga harus ditertibkan.

Padahal, kata Usman, yang kacau adalah orientasi pikiran Prabowo beserta kebijakan, pernyataan, dan tindakannya. “Pernyataan itu menunjukkan pemikiran dan pernyataan Prabowo adalah akar masalah dari kekacauan politik hari ini yang mengganggu jalannya proses hukum oleh pihak berwajib seperti kepolisian,” kata Usman kepada Tempo, Ahad, 15 Maret 2026.

Usman meyakini kepolisian pasti mampu dan bisa mengusut teror kepada pengkritik. Namun ia memastikan proses hukum pelaku penyerangan bisa mentok kalau kepala negaranya antikritik.

Baca selengkapnya di sini 

Prabowo Singgung Pengamat Tak Patriotik, Celios: Paranoid

Center for Economic and Law Studies atau Celios mengkritik ucapan Presiden Prabowo Subianto soal pengamat yang tidak patriotik. Menurut Direktur Eksekutif Celios Bhima Yudhistira, tudingan itu adalah bentuk paranoid Prabowo terhadap perbedaan pendapat di masyarakat.

Bhima mengatakan Prabowo tidak seharusnya memperlakukan kritik sebagai ancaman. “Ini merupakan sikap paranoid terhadap dissenting opinion (pandangan berbeda),” kata Bhima saat dihubungi pada Ahad, 15 Maret 2026.

Bhima berujar, ancaman bagi peneliti, termasuk Celios, meningkat di bawah kepemimpinan Prabowo. Ancaman itu, kata dia, semakin intens di ruang digital. “Seminggu terakhir narasi lembaga riset didanai asing dan tidak patriotik seolah makin intens,” ucapnya.

Celios, kata dia, merasakan semakin banyak ancaman di ruang digital setelah mereka melakukan riset soal makan bergizi gratis dan perjanjian dagang Indonesia-Amerika Serikat. Bhima memandang fenomena tersebut sebagai bagian dari upaya untuk membungkam pengamat yang kritis.

Menurut Bhima, pemerintah harusnya senang karena ada lembaga-lembaga sipil yang mau meriset kebijakan tanpa menggunakan anggaran negara. “Seharusnya data itu bisa digunakan untuk pengambilan kebijakan, tapi malah diancam,” tuturnya.

Baca selengkapnya di sini 

Stafsus Gibran Minta Peredaran Air Keras Diperketat

Staf Khusus Wakil Presiden, Nico Harjanto, menyatakan bersimpati sekaligus mengecam tindakan penyerangan terhadap Andrie Yunus. Aktivis Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan atau Kontras itu disiram air keras oleh orang tak dikenal.

Merespons itu, Nico meminta kepada lembaga terkait untuk memperketat peredaran air keras dan bahan berbahaya lainnya. “(Terlebih) yang sering dipergunakan untuk kejahatan, tawuran, dan serangan ke warga tidak bersalah,” kata dia dalam keterangan tertulisnya pada Ahad, 15 Maret 2026.

Selain itu, dia meminta agar Andrie Yunus mendapatkan perawatan medis yang terbaik hingga pulih, tanpa harus terkendala oleh biaya. Pemerintah, ujar dia, juga berfokus pada pemulihan korban dan pengusutan kasus hingga tuntas.

“Saya berharap kejadian tragis yang dialami Andrie Yunus adalah yang terakhir,” ujar Nico.

Staf Khusus Wakil Presiden lainnya, Suwardi juga mengutuk aksi penyerangan terhadap aktivis pro demokrasi tersebut. Menurut dia, serangan air keras kepada Andrie berpotensi menimbulkan kekhawatiran dan memicu rasa saling curiga di tengah masyarakat.

“Tudingan dan kecurigaan publik sangat mudah diarahkan kepada pemerintah sebagai penyelenggara negara,” kata dia dalam keterangan tertulis pada Ahad, 15 Maret 2026.

Baca selengkapnya di sini 

Novali Panji Nugroho dan Eka Yudha berkontribusi dalam penulisan artikel ini
  • Related Posts

    Macet Parah Bikin 17 Pemudik Tumbang di Pelabuhan Gilimanuk Bali

    Jakarta – Kemacetan parah mengular hingga 32 kilometer (km) menuju Pelabuhan Gilimanuk, Jembrana, Bali mengakibatkan 17 pemudik pingsan pada Minggu (15/3) kemarin. Pemudik tumbang akibat kelelahan dan paparan cuaca panas…

    Hari Pertama WFA Jelang Libur Lebaran, Stasiun Palmerah Lengang Pagi Ini

    Jakarta – Suasana hari Senin di Stasiun Palmerah, Jakarta Pusat (Jakpus) kini lebih sepi dibanding biasanya. Tidak ada antrean pada mesin tiket KRL. Pantauan detikcom di Stasiun Palmerah, Senin (16/3/2026)…

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *