IKRAR PTKI 2026: Tadarus Akademik Kampus Islam di Bulan Ramadan

INFO NASIONAL – Ramadan selama ini identik dengan tradisi spiritual. Tadarus Al-Qur’an, penguatan ibadah, dan refleksi keagamaan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari bulan suci.

Namun di lingkungan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI), Ramadan juga menjadi ruang refleksi intelektual.

Melalui program Inovasi, Kajian, dan Riset Akademik Ramadan (IKRAR) PTKI 2026, Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (Diktis) Kementerian Agama menghadirkan forum akademik nasional yang mempertemukan gagasan, riset, dan inovasi dari kampus-kampus Islam di seluruh Indonesia.

Program ini berlangsung sepanjang Ramadan dan diselenggarakan secara daring. Sejumlah forum akademik strategis di lingkungan PTKI turut terlibat, seperti Forum Kepala Pusat Penelitian (Kapuslit), Forum Kepala Pusat Pengabdian kepada Masyarakat (PPM), Forum Kepala Pusat Publikasi Ilmiah (PPI), serta Forum Kepala Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA).

Bagi Diktis, kegiatan ini bukan sekadar agenda tahunan. IKRAR diposisikan sebagai ruang pertemuan gagasan para peneliti dan akademisi PTKI untuk memperkuat ekosistem riset di lingkungan perguruan tinggi Islam.

Kasubdit Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Diktis, Nur Kafid, menyebut IKRAR sebagai bentuk “tadarus akademik”.

“Jika masyarakat melakukan tadarus Al-Qur’an selama Ramadan, maka sivitas akademika PTKI melakukan tadarus gagasan, riset, dan pengalaman ilmiah,” kata Nur Kafid.

Menurut dia, konsep tersebut menegaskan bahwa Ramadan tidak hanya dimaknai sebagai momentum spiritual, tetapi juga ruang refleksi keilmuan. Melalui forum ini, perguruan tinggi Islam diharapkan dapat memperkuat kontribusinya bagi masyarakat.

Dari Diskursus Kebijakan ke Praktik Lapangan

Pada penyelenggaraan tahun ini, pembahasan IKRAR diperluas. Jika sebelumnya lebih banyak menyoroti kebijakan pendidikan tinggi di tingkat makro, kini forum ini juga membahas praktik nyata hasil riset dan pengabdian kepada masyarakat.

“IKRAR tahun ini tidak hanya membahas kajian teoritis, tetapi juga praktik nyata hasil penelitian, publikasi ilmiah, dan pengabdian kepada masyarakat, termasuk isu gender dan anak,” ujar Nur Kafid.

Pendekatan ini dianggap penting karena salah satu tantangan dunia akademik adalah memastikan pengetahuan tidak berhenti pada publikasi ilmiah, tetapi juga memberi dampak nyata bagi masyarakat.

Sejumlah lembaga nasional turut terlibat sebagai narasumber, di antaranya Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT), Persatuan Robotika Seluruh Indonesia, serta AI Forum Indonesia.

Keterlibatan lembaga-lembaga tersebut menunjukkan upaya integrasi antara ilmu keislaman, sains, teknologi, dan kebijakan publik dalam ekosistem pendidikan tinggi Islam.

Kurikulum Berbasis Cinta

Salah satu agenda penting dalam IKRAR 2026 adalah penguatan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC). Program ini menjadi salah satu prioritas Direktorat PTKI.

Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam, Sahiron, mengatakan IKRAR juga menjadi ruang untuk mengkaji berbagai kebijakan transformasi pendidikan tinggi Islam.

“IKRAR menjadi wadah untuk mengkaji hasil penelitian yang menjadi ciri khas PTKI. Salah satu program unggulan yang kita dorong adalah Kurikulum Berbasis Cinta yang kini telah diterbitkan dalam bentuk buku ber-ISBN,” ujarnya.

Kementerian Agama RI menerbitkan Buku Materi Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) sebagai panduan baru dalam sistem pendidikan di lingkungan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI). Dok. PTKI

Gagasan kurikulum ini lahir dari refleksi atas berbagai fenomena sosial kontemporer, seperti meningkatnya polarisasi sosial, intoleransi, dan fragmentasi identitas di masyarakat.

Menurut Abdul Mustaqim, salah satu penulis buku KBC, pendidikan yang kehilangan dimensi cinta berisiko melahirkan manusia yang kering secara moral.

“Tanpa fondasi cinta, pendidikan akan terasa kering dan gagal membentuk karakter manusia yang utuh,” katanya.

Sementara itu, Muhammad Zainuddin, anggota tim penulis lainnya, menjelaskan bahwa paradigma KBC dibangun di atas pendekatan teo-antroposentris, yakni keseimbangan antara dimensi ketuhanan dan kemanusiaan.

Melalui pendekatan ini, pendidikan diharapkan mampu melahirkan generasi yang memiliki lima pilar cinta: kepada Tuhan, Rasul, sesama manusia, alam, dan tanah air.

Riset PTKI dan Krisis Global

IKRAR juga menyoroti kontribusi riset PTKI dalam merespons berbagai tantangan global, mulai dari krisis kemanusiaan hingga perubahan iklim dan perkembangan teknologi.

Dalam sesi bertajuk Frontiers of Islamic Research, sejumlah peneliti mempresentasikan temuan inovatif dari berbagai kampus Islam.

Salah satu riset datang dari tim peneliti UIN Ar-Raniry Banda Aceh yang mengembangkan komponen baterai kendaraan listrik berbasis bahan alami dari tumbuhan.

Penelitian yang dipimpin Abd. Mujahid Hamdan ini didanai melalui skema MoRA The AIR Funds. Riset tersebut berangkat dari keprihatinan terhadap krisis lingkungan dan bencana iklim yang kerap terjadi di Aceh.

Hasilnya, prototipe baterai yang dikembangkan memiliki kapasitas 22,73 persen lebih tinggi dibandingkan produk serupa yang ada di pasar.

“PTKI tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga harus menjadi penemu teknologi,” ujar Mujahid.

Pengetahuan Lokal dan Gerakan Sosial

Selain inovasi teknologi, IKRAR juga menyoroti praktik pengabdian kepada masyarakat yang berbasis pengetahuan lokal.

Dalam salah satu sesi diskusi, Maghfur dari UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan memaparkan riset tentang gerakan perempuan pesisir dalam menghadapi krisis lingkungan.

Penelitian tersebut menunjukkan bagaimana perempuan di wilayah pesisir mengembangkan strategi adaptasi melalui praktik kearifan lokal.

Dalam situasi krisis ekologis, perempuan sering menghadapi beban ganda—baik secara ekonomi maupun sosial. Namun mereka juga menjadi aktor penting dalam menjaga keberlanjutan lingkungan.

“Nilai lokalitas bukan hambatan bagi kemajuan, melainkan mitra bagi pengetahuan modern dalam menjaga lingkungan,” kata Maghfur.

Membangun Budaya Publikasi

Selain riset dan pengabdian masyarakat, IKRAR juga membahas penguatan ekosistem publikasi ilmiah di lingkungan PTKI.

Forum ini menyoroti pentingnya membangun budaya menulis, sitasi, serta knowledge impact agar publikasi akademik tidak berhenti pada angka indeksasi semata.

Dalam beberapa tahun terakhir, jumlah publikasi ilmiah dari PTKI terus meningkat. Tantangan berikutnya adalah memastikan hasil riset tersebut dapat memberi dampak nyata bagi kebijakan publik dan transformasi sosial.

Salah satu langkah yang didorong adalah hilirisasi riset, yaitu upaya agar hasil penelitian dapat dimanfaatkan oleh pemerintah, masyarakat, maupun industri.

Menguatkan Posisi PTKI

Secara keseluruhan, penyelenggaraan IKRAR 2026 menjadi bagian dari upaya Direktorat PTKI untuk memperkuat posisi perguruan tinggi Islam dalam ekosistem ilmu pengetahuan nasional dan global.

Melalui forum ini, PTKI tidak hanya dipandang sebagai lembaga pendidikan agama, tetapi juga sebagai pusat produksi pengetahuan yang relevan dengan berbagai tantangan zaman.

Kolaborasi antara peneliti, dosen, lembaga pemerintah, dan mitra industri menjadi modal penting untuk memperkuat peran tersebut.

Dalam jangka panjang, IKRAR diharapkan dapat memperkuat tradisi intelektual di lingkungan perguruan tinggi Islam sekaligus memastikan bahwa ilmu pengetahuan yang lahir dari kampus tetap terhubung dengan realitas sosial masyarakat. (*)

  • Related Posts

    Kecelakaan Motor Tabrak Truk Mogok di Puncak Bogor, 2 Orang Tewas

    Jakarta – Kecelakaan lalu lintas melibatkan sebuah sepeda motor menabrak truk terjadi di Jalan Raya Puncak, Kecamatan Cisarua, Bogor, Jawa Barat. Dua orang meninggal dunia akibat kecelakaan itu. “Akibat dari…

    Polisi Tangkap 2 Remaja Pembunuh Wanita dalam Boks di Medan

    Medan – Polisi menangkap dua terduga pembunuh wanita muda di dalam boks di Jalan Menteng, Kecamatan Medan Denai, Kota Medan, Sumatera Utara. Dua pelaku itu masih remaja. “Sudah (ditangkap), iya…

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *