Jakarta –
Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) Natalius Pigai menyebut inisiatif Presiden Prabowo Subianto untuk menjadi mediator dalam perang Iran sebagai bentuk intervensi kemanusiaan. Ia menilai perang bertentangan dengan nurani manusia. Hal ini merespons eskalasi konflik Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.
Pigai menekankan perang tanpa akhir tidak boleh dibiarkan karena dampaknya meluas pada kemanusiaan global.
Ia mengajak individu, komunitas, pemimpin, hingga negara besar maupun kecil untuk memiliki kepedulian dan tanggung jawab bersama mendorong intervensi kemanusiaan demi terciptanya perdamaian, termasuk di Timur Tengah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Semua pihak memiliki kepentingan dan kewajiban moral yang sama untuk berkontribusi dalam menciptakan perdamaian,” ujar Pigai dalam keterangan tertulis, Rabu (4/3/2026).
Pigai mengatakan keinginan Prabowo mengambil peran sebagai juru damai merupakan bagian dari intervensi kemanusiaan (humanitarian intervention). Menurutnya, langkah itu menjadi kontribusi nyata Indonesia dalam mendorong tatanan dunia yang lebih damai dan berkeadilan.
“Sikap tersebut adalah bagian dari langkah intervensi kemanusiaan. Tentu saja sesuatu yang sangat baik. Siapa pun tidak menginginkan perang karena itu berdampak luas pada kemanusiaan global,” kata Pigai.
Ia menegaskan tidak ada yang keliru dari upaya Prabowo untuk terlibat aktif dalam proses perdamaian. Pigai menilai sikap tersebut sejalan dengan semangat Indonesia yang kini memegang peran sebagai Presiden Dewan HAM Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dalam mendorong pemajuan dan perlindungan HAM di tingkat global.
“Melalui semangat ini, maka kita janganlah merasa kecil, rendah diri, dan tidak sanggup,” pungkasnya.
(prf/ega)






