KEMENTERIAN Kesehatan melaporkan, tren kasus suspek campak mengalami peningkatan di Januari dalam kurun waktu tiga tahun terakhir. Plt. Dirjen Penanggulangan Penyakit Kemenkes Andi Saguni mengatakan ada 7.060 kasus suspek campak pada Januari 2026.
Angka ini meningkat bila dibandingkan pada Januari 2024 dan 2025. Berdasarkan grafik yang ditampilkan Andi, ada sekitar 2 ribu kasus suspek campak pada Januari 2024. Pada Januari 2025, kasus suspek campak mencapai 5 ribu.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
“Tiga tahun terakhir pada Januari memang terjadi kenaikan jumlah kasus. Januari 2026 lebih tinggi,” ujar Andi dalam konferensi pers dipantau YouTube Kemenkes, Kamis, 26, Februari 2026.
Secara umum, kasus suspek campak pada periode 2024 sampai 2025 mengalami peningkatan sampai 147 persen. Pada 2024, ada 25.639 kasus campak. Jumlahnya meningkat pada 2025, yaitu 64.822 kasus suspek campak. “Sementara 2026 belum bisa dibandingkan karena tahun belum selesai,” kata Andi.
Sementara itu, sepanjang 2025 tercatat 116 Kejadian Luar Biasa (KLB) campak yang tersebar di 89 kabupaten/kota pada 16 provinsi. Total kasus suspek mencapai 63.769. Dari jumlah itu, ada 69 kematian dengan Case Fatality Rate (CFR) sebesar 0,1 persen.
Pada minggu ke-7 tahun 2026, Kemenkes mencatat ada8.224 kasus suspek campam, 572 kasus terkonfirmasi laboratorium. Dari jumlah itu dilaporkan 4 kematian dengan CFR berada di angka 0,05 persen.
Andi mengatakan pemerintah melakukan pengendalian campak meliputi penguatan surveilans campak secara nasional, terutama di daerah yang mengalami KLB pada tahun 2025–2026. Setiap temuan kasus segera ditindaklanjuti melalui penyelidikan epidemiologi dalam waktu maksimal 24 jam setelah kasus ditemukan. “Kemudian dilanjutkan dengan kajian epidemiologi,” kata dia.
Di pintu masuk negara, pemerintah melakukan skrining terhadap pelaku perjalanan melalui pengisian deklarasi kesehatan, pemeriksaan suhu tubuh, serta pengamatan visual terhadap tanda dan gejala penyakit. Dari sisi pencegahan, penguatan imunisasi rutin dan imunisasi kejar campak–rubela (MR) terus dilakukan, terutama di wilayah dengan cakupan imunisasi rendah. Selain itu, diberikan imunisasi MR tambahan di daerah yang mengalami KLB pada tahun 2025–2026 dengan prioritas sasaran anak usia PAUD dan TK.






