KEPALA Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Karangmekar 2, Nur Arif Putra Pratama, menyampaikan permohonan maaf atas insiden keamanan pangan atau keracunan yang terjadi setelah siswa dan guru mengonsumsi menu makan bergizi gratis (MBG) pada Rabu, 25 Februari 2026.
Nur memastikan pihaknya telah bergerak untuk menangani laporan tersebut. Sejumlah langkah dilakukan, mulai dari koordinasi dengan fasilitas kesehatan, pemberian penanganan medis oleh dokter, hingga komunikasi kepada orang tua siswa. “Kami memberikan informasi dengan baik kepada orang tua dengan tidak membuat mereka panik dan melakukan penjelasan gizi lalu permohonan minta maaf,” ujar Nur, seperti dikutip dari keterangan tertulis, Jumat, 27 Februari 2026.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Menu yang dibagikan pada hari kejadian meliputi onigiri, telur rebus, biskuit sari gandum, kurma, biskuit regal, dan susu. Hingga Rabu malam, tercatat 43 orang terdampak dan menjalani pemeriksaan medis di sejumlah rumah sakit di Cimahi. Gejala yang dilaporkan berupa muntah lebih dari dua hingga tiga kali. Namun, tidak ada laporan kondisi berat maupun kritis.
Sampel makanan yang diduga menjadi penyebab insiden telah diamankan untuk diperiksa di laboratorium. Nur menyatakan pihaknya juga telah melaporkan kronologi kejadian kepada Badan Gizi Nasional serta berkoordinasi dengan aparat kepolisian apabila diperlukan langkah pengamanan.
Nur mengklaim proses produksi makanan telah mengikuti Standar Operasional Prosedur (SOP). Berdasarkan laporan internal, bahan baku diterima pada 24 Februari 2026 pukul 07.00 WIB dan langsung diperiksa kualitasnya oleh ahli gizi sebelum disimpan dalam mesin pendingin.
Persiapan makanan dilakukan pukul 12.30 WIB dengan prosedur enam langkah cuci tangan, penggunaan alat pelindung diri (APD), serta pencucian bahan menggunakan air mengalir. Ayam direbus pukul 13.30 WIB untuk diolah menjadi ayam suwir, nasi dimasak pukul 16.00 WIB, dan pencetakan onigiri dilakukan pukul 20.30 WIB oleh relawan yang disebut dalam kondisi sehat.
Distribusi makanan berlangsung pukul 06.50 WIB dan dikonsumsi sekitar pukul 12.00 WIB. Seluruh proses produksi disebut berada dalam pengawasan Kepala SPPG dan staf. “Saat ini investigasi penyebab penurunan kualitas makanan masih dilakukan bersama Dinas Kesehatan dan Kesling,” kata Nur. Hingga kini, hasil uji laboratorium atas sampel makanan tersebut masih menunggu proses pemeriksaan lebih lanjut.






