KEMENTERIAN Pertahanan masih menghitung kebutuhan biaya operasional, perawatan, dan modernisasi kapal induk pertama Indonesia, Giuseppe Garibaldi. Kapal itu akan dihibahkan pemerintah Italia untuk Indonesia.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Kepala Biro Informasi Pertahanan Sekretariat Jenderal Kementerian Pertahanan Brigadir Jenderal Rico Ricardo Sirait mengatakan penghitungan kapal dari galangan Fincantieri dilakukan bersama Tentara Nasional Indonesia (TNI).
“Saat ini Kemhan bersama TNI masih melakukan penghitungan dan kajian menyeluruh terkait kebutuhan operasional, perawatan, serta modernisasi agar kapal dapat memenuhi standar dan kebutuhan strategis TNI AL,” kata Rico saat dikonfirmasi, Sabtu, 14 Februari 2026.
Kemhan juga menyiapkan penyesuaian sistem persenjataan dan dukungan teknis. Rico menyebut Indonesia akan melengkapi dan menyesuaikan kapal tersebut sesuai kebutuhan operasi TNI AL. Penyesuaian itu mencakup sistem pendukung, ketersediaan suku cadang, hingga konfigurasi teknis lainnya melalui tahapan perencanaan yang berlaku.
Adapun ihwal syarat atau perjanjian yang mengikat dalam hibah tersebut, Rico menegaskan tidak ada ketentuan khusus di luar mekanisme hibah antar pemerintah. “Tidak ada ketentuan khusus yang mengikat penggunaan kapal tersebut di luar mekanisme hibah antar pemerintah yang dilaksanakan sesuai aturan dan ketentuan yang berlaku,” ujar dia.
Kepala Staf TNI Angkatan Laut Laksamana Muhammad Ali mengatakan kapal induk buatan Italia, Giuseppe Garibaldi, ditargetkan tiba di Indonesia sebelum peringatan HUT TNI pada 5 Oktober 2026. “Untuk Garibaldi, masih dalam proses ya. Harapannya bisa sampai di Indonesia sebelum HUT TNI,” kata Ali saat jumpa pers di Jakarta, Kamis, 12 Februari 2026 dikutip dari Antara.
Kapal induk sepanjang 180,2 meter itu memiliki kesamaan produsen dengan dua kapal perang terbaru TNI AL, yakni KRI Brawijaya dan KRI Prabu Siliwangi, yang sama-sama dibuat oleh perusahaan galangan kapal Italia, Fincantieri.
Giuseppe Garibaldi mampu melaju hingga 30 knot atau sekitar 56 kilometer per jam. Kapal pengangkut pesawat tempur itu dilengkapi radar jamming serta sejumlah sistem persenjataan, antara lain peluncur oktupel Mk.29 untuk rudal antipesawat Sea Sparrow/Selenia Aspide, meriam kembar Oto Melara 40L70 DARDO, tabung torpedo rangkap tiga kaliber 324 milimeter, serta rudal permukaan ke permukaan Otomat Mk 2.






