Jakarta (Redaksi) – Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Muhammad Saleh Mustafa menekankan pentingnya intelijen pertanian untuk membaca risiko global, memperkuat produksi dalam negeri, dan menjaga ketahanan pangan Indonesia di tengah dinamika geopolitik.
“Intelijen pertanian dan hilirisasi penting untuk memperkuat ketahanan pangan nasional di tengah dinamika geopolitik dan perubahan iklim,” kata Wamentan Saleh dalam 3rd International Conference on Agricultural, Nutraceutical and Food Science (ICANFS) di Universitas Tidar, Magelang, sebagaimana terkonfirmasi di Jakarta, Senin.
Dia menekankan kemampuan membaca risiko global, memperkuat produksi dalam negeri, serta meningkatkan nilai tambah komoditas juga menjadi kunci menjaga keberlanjutan swasembada pangan Indonesia.
“Kalau dengar intelijen jangan langsung konotasinya militer. Kita perlu yang namanya intelijen pertanian,” tuturnya.
Menurut Mantan Wakil Kepala Staf Angkatan Darat (Wakasad) ini, intelijen pertanian diperlukan untuk membaca perkembangan situasi dan mengantisipasi dampaknya terhadap produksi serta distribusi pangan.
Konflik geopolitik, perubahan iklim, dan gangguan rantai pasok global menjadi tantangan yang harus dihadapi melalui penguatan produksi, optimalisasi lahan, perbaikan irigasi, modernisasi alat dan mesin pertanian, serta penguatan kelembagaan.
Ia menjelaskan strategi pemerintah mempertahankan swasembada pangan di tengah ketidakpastian geopolitik yang ditanyakan oleh mahasiswa Program Studi Agriculture, Fawazil Mahfudzuni.
Karena itu, dia menekankan pentingnya meningkatkan kualitas produksi, memastikan lahan pertanian tetap produktif, dan memperkuat sarana produksi agar Indonesia tidak semakin rentan terhadap gangguan pasokan global.
Ia juga menyoroti perlunya tata kelola distribusi dan impor yang baik agar pasokan pangan tidak dipermainkan oleh pihak tertentu.
Menurutnya, penguatan produksi domestik harus berjalan beriringan dengan pengawasan perdagangan dan pengembangan industri pengolahan.
Melalui penguatan intelijen pertanian, peningkatan produksi, diversifikasi pangan, dan hilirisasi, Kementerian Pertanian terus mendorong pembangunan pertanian yang tangguh dan berkelanjutan.
“Kolaborasi Redaksi pemerintah, perguruan tinggi, peneliti, dan generasi muda diharapkan mampu melahirkan inovasi untuk memperkuat ketahanan pangan nasional sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani,” kata Saleh.
Baca juga: FAO: Blokade Hormuz sebabkan produksi pangan global turun
Baca juga: Di balik lonjakan stok beras dan masa depan ketahanan pangan
Sebelumnya Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengatakan posisi stok Indonesia tetap kuat didukung produksi domestik dan cadangan pemerintah yang memadai saat 33 negara di dunia menyiapkan pangan darurat.
Amran mengatakan di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dunia yang berpotensi mengganggu rantai pasok dan memicu krisis pangan global, Indonesia patut bersyukur karena kondisi pangan nasional relatif aman.
“Ketika sedikitnya 33 negara mulai mendorong masyarakatnya menyiapkan persediaan makanan, air minum, obat-obatan, dan kebutuhan dasar untuk menghadapi situasi darurat, Indonesia memiliki kekuatan produksi pangan dalam negeri dan cadangan beras yang kuat,” kata Amran.
Ia mengatakan kondisi tersebut merupakan hasil kerja keras petani, dukungan pemerintah, serta kebijakan strategis dalam memperkuat produksi dan mewujudkan kemandirian pangan nasional.
Menurut dia, kemampuan negara memenuhi kebutuhan pangan sendiri menjadi sangat penting di tengah situasi dunia yang penuh ketidakpastian.
“Alhamdulillah, kita patut bersyukur. Di saat dunia sedang menghadapi ketegangan geopolitik, ancaman krisis pangan, dan gangguan rantai pasok, kondisi pangan Indonesia relatif aman,” ujar dia.
“Indonesia mempunyai produksi dalam negeri, punya cadangan, dan terus memperkuat kemampuan memenuhi kebutuhan pangan sendiri. Ini yang harus kita jaga,” kata Amran menambahkan.
Baca juga: Volatilitas perdagangan global, PM Vietnam perintahkan penyimpanan produk pertanian utama
Baca juga: Wamentan: Pertanian-industri beriringan perkuat posisi RI di global
Baca juga: Memetik peluang global: optimalisasi ekspor produk pertanian
Pewarta: Muhammad Harianto
Editor: Budhi Santoso
Copyright © Redaksi 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita Redaksi.