BENCANA banjir bandang dan longsor masih membayangi Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Pemerintah pusat dan daerah terus melakukan sejumlah langkah penanganan, mulai dari perpanjangan masa tanggap darurat hingga pengerahan alat berat. Berikut rangkuman penanganan bencana di Agam.
Masa Tanggap Darurat di Agam Diperpanjang
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan Pemerintah Kabupaten Agam memperpanjang masa tanggap darurat karena masih terjadi longsor susulan. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari mengatakan longsor terakhir terjadi hingga tiga hari sebelum 4 Januari 2026.
“Kabupaten Agam beberapa kali hingga tiga hari lalu masih ada bencana longsor susulan,” kata Abdul dalam konferensi pers penanganan pascabencana Sumatera, Ahad, 4 Januari 2026.
Ancaman Longsor Susulan Masih Tinggi
BNPB mendeteksi adanya rekahan di wilayah hulu Agam. Menurut Abdul, hujan dengan intensitas sedang tetapi berdurasi lama masih berpotensi memicu longsor susulan. “Kalau ada hujan intensitas sedang tapi berdurasi lama, masih berpotensi longsor susulan,” ujarnya.
Pemerintah terus melakukan pemantauan dan upaya mitigasi untuk meminimalkan dampak bencana lanjutan.
Longsor 120 Meter Terjadi di Ngarai Sianok
Salah satu kejadian besar adalah longsor di Gebing Ngarai Sianok, Kabupaten Agam. Longsor memiliki tinggi sekitar 120 meter dan lebar 15 meter, terjadi setelah hujan deras berkepanjangan. BNPB memastikan tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut.
Dua Alat Berat Dikerahkan untuk Antisipasi Longsor
Balai Wilayah Sungai Sumatera V Padang berencana mengerahkan dua unit alat berat ke Agam. Kepala Balai Wilayah Sungai Sumatera V Padang Naryo Widodo mengatakan satu alat berat dijadwalkan tiba pada 3 Januari 2026 dan satu unit lainnya pada 6 Januari 2026.
Pengerahan ini difokuskan pada kawasan Kelok 28 yang masih menyimpan material longsoran dan berpotensi memicu bencana susulan.
Puluhan Alat Berat Disiagakan Berbagai Instansi
Selain dua unit tambahan, sejumlah instansi telah mengerahkan alat berat di lokasi bencana. Alat tersebut berasal dari Polri, Balai Wilayah Sungai, dan Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Agam. Kementerian Pekerjaan Umum mencatat hingga akhir Desember 2025 telah menyiagakan total 341 unit alat berat di wilayah terdampak Sumatera, terdiri dari 114 unit milik kementerian dan 227 unit dari BUMN.
Pengungsi di Agam Terus Bertambah
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Agam mencatat jumlah pengungsi akibat banjir bandang di Muaro Pisang, Pasar Maninjau, Kecamatan Tanjung Raya, meningkat menjadi 428 orang.
“Sebelumnya pengungsi hanya 314 orang dan kini bertambah menjadi 428 orang,” kata Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Agam Abdul Ghafur. Banjir bandang di wilayah tersebut berulang kali terjadi akibat meluapnya Sungai Muaro Pisang.
Warga Dipindahkan ke Hunian Sementara
Kementerian Pekerjaan Umum memindahkan warga terdampak di Kecamatan Tanjung Raya ke hunian sementara di Palembayan, Kabupaten Agam. Selain itu, pemerintah juga memobilisasi satu unit Mobile Treatment Unit dan lima hidran umum untuk memenuhi kebutuhan air bersih di lokasi pengungsian.
BNPB mencatat adanya tambahan 10 korban meninggal dunia akibat bencana ekologis di Sumatera pada 4 Januari 2026. Total korban meninggal kini mencapai 1.177 orang, termasuk dua korban dari Sumatera Barat. Jumlah pengungsi di seluruh Sumatera tercatat masih mencapai 242.174 jiwa, meski mengalami penurunan dibandingkan hari sebelumnya.
Pilihan Editor: Orde Baru Bangkit dari Kubur






