Lula da Silva terpilih sebagai presiden Brasil untuk keempat kalinya, cetak rekor sejarah

Sumber gambar, Anadolu via Getty Images
-
- Penulis, Marina Rossi
- Peranan, Redaksi News Brasil
- Melaporkan dari, São Paulo
- Penulis, Leandro Prazeres
- Peranan, Redaksi News Brasil
- Melaporkan dari, Brasilia
- Penulis, Vanessa Buschschlüter
- Peranan, Editor daring Amerika Latin
- Melaporkan dari, London
-
Telah diterbitkan
-
Waktu membaca: 5 menit
Calon presiden petahana Brasil, Luiz Inácio Lula da Silva, kembali terpilih setelah mengalahkan rivalnya dari sayap kanan, Flávio Bolsonaro.
Setelah seluruh suara dihitung, Lula memperoleh 51,79% suara, menang tipis dari Bolsonaro yang meraih 48,21%, demikian diumumkan Mahkamah Pemilihan Umum Brasil. Bolsonaro belum mengakui kekalahan.
Namun hal itu tidak menghentikan Lula, yang genap berusia 81 tahun pada 27 Oktober mendatang, untuk merayakan kemenangan keempatnya dalam pemilihan presiden.
Jalan Lula menuju kemenangan dalam putaran kedua pemilu pada Minggu (25/10) tidaklah mudah.
Dalam sejarah demokrasi Brasil, belum pernah ada presiden yang berhasil terpilih kembali untuk masa jabatan tambahan kedua.
Selain itu, kemenangan setelah menempati posisi kedua pada putaran pertama pemungutan suara juga merupakan hal yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Lula berhasil melawan tren yang terjadi di Amerika Latin, ketika banyak pemilih tidak memilih calon petahana dan beralih mendukung kandidat-kandidat dari sayap kanan.

Sumber gambar, EPA/ Shutterstock
Kampanye Lula bangkit setelah kekalahan di putaran pertama. Ia memimpin upaya besar-besaran melalui media sosial yang disertai demonstrasi jalanan.
Lewatkan Paling banyak dibaca dan terus membaca
Paling banyak dibaca
Akhir dari Paling banyak dibaca
Meskipun demikian, mantan pekerja logam ini menghadapi lanskap politik yang paling menantang sejak pertama kali menjabat presiden pada 2003.
Masa jabatan barunya, yang akan dimulai pada 5 Januari 2027, akan dimulai di tengah kendala signifikan di dalam dan luar negeri, termasuk permusuhan dari Presiden AS Donald Trump.
Meski tidak memberikan dukungan terbuka kepada Flávio Bolsonaro, pemerintahan Trump diyakini lebih menginginkan Brasil dipimpin oleh tokoh konservatif.
Sikap itu berbeda dengan dukungan langsung yang pernah diberikan Trump kepada sejumlah kandidat sayap kanan yang kemudian memenangkan pemilu di Kolombia dan Honduras.
Lewatkan content dan terus membaca
Akhir dari content
Bagi Gedung Putih, Amerika Latin merupakan wilayah strategis dalam pengaruh Amerika Serikat. Karena itu, pemerintahan Trump berupaya membatasi semakin besarnya pengaruh Cina di kawasan tersebut.
Dalam konteks itu, Brasil yang memiliki populasi 213 juta jiwa memiliki posisi penting karena merupakan negara kaya minyak dan pemilik cadangan mineral tanah jarang terbesar kedua di dunia.
Di saat banyak negara besar Amerika Selatan dipimpin tokoh sayap kanan, Lula justru dipandang sebagai pemimpin yang relatif dekat dengan China.
Flávio Bolsonaro telah berjanji untuk menyelaraskan Brasil lebih erat dengan Washington. Di sisi lain, Lula telah memperingatkan AS tidak ikut campur dalam pemilihan, dan bersikeras bahwa Brasil “tidak akan pernah menjadi bagian dari wilayah siapa pun”.
Lewatkan content dan terus membaca
Akhir dari content
Kemenangan Lula ini akan disambut baik oleh para pemerhati lingkungan. Semula, mereka khawatir kemenangan Flávio Bolsonaro akan memberikan lebih banyak kekuasaan kepada sektor agribisnis dan pertambangan Brasil yang berpengaruh.
Mereka menyatakan tingkat deforestasi dan kebakaran hutan mencapai rekor tertinggi di Amazon selama masa kepresidenan Jair, ayah dari Bolsonaro.
Alasannya, jika Bolsonaro muda terpilih, kebijakan lingkungan yang lebih longgar dapat kembali menyebabkan kehancuran di ekosistem kunci ini.

Sumber gambar, Reuters
Pascakemenangan Lula, hasil pemilu menunjukkan negara itu tetap terpecah belah.
Musababnya, perolehan suara Lula dan Bolsonaro beda tipis. Sebanyak 48,21% suara pemilih dari sayap kanan berbanding 51,79% dari sayap kiri.
Selain tantangan menyatukan negara yang sangat terpolarisasi ini, Lula juga harus memerintah bersama Kongres yang paling berhaluan kanan dalam era demokrasi Brasil. Partai Liberal (PL) pimpinan Flávio Bolsonaro adalah partai yang menguasai parlemen.
Sebelum pemilihan, Lula menggambarkan pemilu tersebut sebagai “pembukaan babak baru bagi Brasil”.
Ia berjanji untuk menjembatani kesenjangan Redaksi kutub politik yang berlawanan di Brasil dengan “cara pemerintahan yang baru”, dan menambahkan dalam siaran langsung WhatsApp sebelum pemilihan bahwa “negara ini tidak akan pernah sama lagi”.

Sumber gambar, Paulo Kobayashi/Redaksi
Meskipun Lula tak banyak memberi rincian tentang apa yang akan diwujudkan pemerintahan yang baru, ia menegaskan “tetap teguh dalam perjuangan untuk negara yang lebih adil, memberi kesempatan bagi semua kalangan, serta membuat kebijakan yang diarahkan pada kebutuhan penduduk”.
LRedaksin sebagian besar anggota parlemen berbeda haluan politik dengan Lula, masa jabatan kali ini kemungkinan akan jauh lebih sulit daripada tiga periode sebelumnya.
Kami menggunakan AI untuk membantu menerjemahkan artikel ini, yang awalnya ditulis dalam bahasa Inggris. Jurnalis Redaksi memeriksa terjemahan tersebut sebelum diterbitkan. Selengkapnya tentang bagaimana kami menggunakan AI.



