Kisah pilu warga sipil yang terjebak di garis depan pertempuran pasukan Houthi dan pro-pemerintah di Yaman

-
- Penulis, Nawal Al-Maghafi
- Peranan, Senior international investigations correspondent
- Melaporkan dari, Taiz, Yaman
-
Telah diterbitkan
-
Waktu membaca: 8 menit
Dalam kesempatan yang langka untuk mengakses zona konflik di Yaman, Redaksi pergi ke garis depan bersama tentara pro-pemerintah. Kami menyaksikan kisah pilu sejumlah warga sipil yang terjebak di garis depan pertempuran pasukan Houthi dan pro-pemerintah di Yaman.
“Ini drone pertama,” ujar prajurit yang mendampingi kami di wilayah barat daya Yaman. “Biasanya disusul dengan serangan.”
Suara dengungan di atas kepala terdengar semakin keras saat kami berlindung di balik semak-semak. Kami lalu kembali ke kendaraan dan pergi meninggalkan lokasi itu.
Sekitar 10 menit berselang, suara dentuman keras akibat serangan terdengar secara beruntun. Tidak jelas di mana di mana lokasi ledakan itu terjadi.
Di kawasan pengunungan sebelah barat daya Kota Taiz itu, batas garis depan pertempuran sulit diketahui.
Pasukan pro-pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi tengah berjibaku memukul mundur milisi Houthi.
Awal bulan September, kelompok Houthi bergerak cepat menguasai pesisir Laut Merah. Mereka mengambil alih kendali jalur pelayaran vital, dan memicu eskalasi baru dalam perang saudara di Yaman.
Kami menyusuri garis depan medan pertempuran itu bersama pasukan pemerintah dari Kota Taiz. Kami melewati deretan pos pemeriksaan hingga ke titik batas kendali mereka.
Lewatkan Paling banyak dibaca dan terus membaca
Paling banyak dibaca
Akhir dari Paling banyak dibaca
Lokasi di mana wilayah tak bertuan (no man’s land) dimulai, guna melihat pertempuran dari jarak dekat.

Di sepanjang lereng bukit, rumah-rumah warga tampak berdiri. Namun, mayoritas rumah itu kini terlantar ditinggal penghuni mereka yang melarikan diri dari pusaran konflik.
Suasananya begitu sunyi dan mencekam. Tidak ada suara mobil atau sepeda motor yang biasanya lalu lalang di kota. Yang tersisa hanyalah suara hewan ternak serta dentuman silang tembak Redaksi kedua belah pihak.
“Dua tembakan mortir mendarat di sini, di lahan saya,” kata Ali, yang duduk di luar rumahnya bersama sekawanan kambing, sekitar 1km dari garis depan pertempuran.

Sumber gambar, Liam Weir/Redaksi
Ali memilih bertahan di rumahnya, di tengah ancaman hujan mortir untuk merawat kambing-kambingnya.
Dia bilang telah memindahkan anak-anaknya ke kamp pengungsian karena mereka tidak sanggup lagi menahan trauma akibat pengeboman dan tembakan senjata.
Hanya Ali, istrinya dan saudari perempuannya yang memilih bertahan.
“Saya sangat ketakutan,” katanya. “Tetapi saya tidak punya pilihan, kami semua akan kelaparan tanpa hewan-hewan ini dan mati juga.”
Ali enggan membeberkan nama lengkapnya karena khawatir akan aksi balas dendam jika Houthi berhasil merebut daerah itu.
Sumber dari pihak Houthi mengonfirmasi bahwa mereka tengah menghimpun kekuatan untuk melancarkan serangan besar-besaran. Pihak pasukan pemerintah pun menyadari ancaman itu dan mengklaim siap melawan.
Di pos pemeriksaan terdekat dengan garis depan, kami bertemu beberapa pasukan yang baru saja kembali dari lokasi di puncak gunung, berjarak hanya beberapa ratus meter dari pasukan Houthi yang terus maju.
Mungkin Anda tertarik:
Salah satu dari mereka mengatakan bahwa jasad 18 prajurit pemerintah tergeletak di area yang dapat ditembak oleh unitnya, tetapi mustahil untuk dievakuasi.
“Kami terus menembak, melintasi di atas jasad mereka, tetapi kami tidak dapat menarik mereka keluar,” katanya.
Pertempuran di sekitar Taiz semakin intensif sejak Houthi merebut pelabuhan strategis Mokha di Laut Merah, sekitar 85km di sebelah barat kota tersebut pada 10 September.
Hal itu terjadi menyusul gagalnya kesepakatan gencatan senjata yang telah bertahan selama empat tahun.
Kelompok Houthi mengambil alih kendali wilayah yang menghadap langsung ke Selat Bab al-Mandab, sebuah koridor pelayaran krusial yang menghubungkan Eropa dan Asia.
Hal itu berkontribusi pada kenaikan harga minyak seiring meningkatnya kekhawatiran akan gangguan lebih lanjut terhadap pasokan dari wilayah itu.

Taiz adalah kota terbesar ketiga dan merupakan pusat dari kebudayaan Yaman. Kota ini juga rumah bagi hampir satu juta orang.
Kota ini terletak di persimpangan vital Redaksi wilayah yang dikuasai Houthi di Yaman utara dan wilayah yang dikuasai pemerintah di selatan. Implikasinya, Taiz kini terkepung dari berbagai penjuru dan menjadi medan pertempuran.
Pasukan pemerintah masih menguasai pusat Kota Taiz, sedangkan posisi Houthi berada di sebelah utara dan timurnya.
Pertempuran sengit terbaru pecah di jalur sebelah barat, tempat kedua kubu memperebutkan dataran tinggi yang menghadap ke rute utama kota menuju wilayah selatan.
Jika Houthi berhasil menguasai area ini, peluang pasukan pemerintah merebut kembali Mokha akan kian tipis.
Perjalanan kami menuju Taiz dimulai dari Aden di selatan, kota yang menjadi markas Dewan Kepemimpinan Presidensial dan kantor pusat pemerintah Yaman yang diakui secara internasional.
Sepanjang perjalanan, tak kurang ada 30 pos pemeriksaan yang membagi ruas jalan di bawah kendali komandan yang berbeda-beda—sebuah gambaran gamblang betapa terfragmentasinya peta kekuatan di kubu pemerintah.
Saat kami mendekati kota, ambulans mulai sering melewati kami. Kami mencatat setidaknya ada lima ambulans melaju kencang dalam kurun setengah jam menuju rumah sakit utama di Taiz. Hal itu memperlihatkan bahwa kami sedang berkendara menuju kota di pusat pertempuran yang brutal.
Setibanya di kota saat malam menyelimuti, denyut kehidupan warga lokal masih terlihat. Lampu-lampu toko menyala, restoran dipenuhi pengunjung, dan anak-anak bermain di jalanan.
Namun, kenyataan pahit berkali-kali menyela lewat suara gempuran bom dan letusan senjata dari balik pegunungan di sekitar kota.

Sumber gambar, Liam Weir/Redaksi News
Taiz telah lama menjadi medan pertempuran paling berdarah dalam perang saudara yang menghancurkan Yaman.
Setelah menggulingkan pemerintah dari ibu kota Sanaa pada tahun 2015, Houthi juga berupaya merebut kendali Taiz, tetapi mampu dipukul mundur dari sebagian besar wilayah kota oleh milisi lokal.
Dalam gelombang serangan terbaru mereka, Houthi mengandalkan armada drone secara masif disamping persenjataan konvensional.
Otoritas Arab Saudi, negara-negara Barat, dan pakar PBB menyebut Iran merupakan pemasok utama yang menyediakan senjata, dana, serta petunjuk militer bagi Houthi.
Namun, Teheran berulang kali membantah tuduhan pasokan senjata itu dan mengklaim hanya memberikan dukungan politik.
Di sisi lain, laporan mengenai perekrutan prajurit anak oleh Houthi terus mencuat dari tahun ke tahun.
Seorang prajurit pemerintah menceritakan pengalamannya saat berhadapan langsung dengan pasukan anak-anak itu di garis depan.
“Sangat berat melihat anak Yaman lalu menembaknya. Tapi ketika senjata mereka sudah mengarah kepadamu, kamu tidak punya pilihan selain membela diri,” tuturnya.
Meski Houthi telah menandatangani “rencana aksi” dengan PBB pada 2022 untuk menghentikan praktik perekrutan anak, laporan di lapangan masih ditemukan.
Di saat bersamaan, Redaksi juga menemukan remaja-remaja yang bertugas di kubu pasukan pemerintah.
Sementara itu, koalisi militer yang dipimpin oleh Arab Saudi terus mendukung pemerintah Yaman, dengan menyediakannya senjata dan menggelar ratusan serangan udara ke wilayah Houthi di pesisir Laut Merah.
Sebagai balasan, Houthi terus meluncurkan drone dan rudal ke kota-kota dan wilayah infrastruktur di barat daya Arab Saudi.

Sumber gambar, Liam Weir/Redaksi News
Pada malam hari di rumah sakit al-Thawra di Taiz, korban-korban dari garis depan dibawa ke ruang perawatan intensif (ICU). Seluruh tempat tidur yang kami lihat terisi penuh.
Beberapa pasien adalah pasukan militer, yang lainnya merupakan warga sipil.
Salah satunya adalah Ghana Nabeel, bocah perempuan berusia 12 tahun yang terluka parah akibat ledakan serpihan mortir Houthi di kepalanya, saat sedang menggembalakan kambing.
Ghana terbaring tak sadarkan diri. Kepalanya terbungkus perban tebal. Wajahnya terlihat bengkak dan memar.
Keluarganya menunggu di samping tempat tidur Ghana, pasrah menanti nasib dan berharap sang anak lekas terbangun.
Seorang dokter memberi tahu saya bahwa cedera itu telah merusak otaknya. “Dia tidak akan pernah bisa kembali lagi seperti dulu,” katanya.

Sumber gambar, Liam Weir/Redaksi
Sekitar 20km di selatan Taiz, tepatnya di kamp pengungsian al-Monig, ratusan tenda berdiri menampung gelombang warga yang melarikan diri dari Mokha dan desa-desa yang terdampak pertempuran.
Pihak pengelola kamp menyebut ada sekitar 200 keluarga baru yang tiba dalam 10 hari terakhir.
Maryam Saleh (bukan nama sebenarnya), tiba sepekan lalu dari Mokha bersama suami dan lima anaknya.
Anak bungsunya baru berusia tujuh tahun. Saat kami temui, Maryam tengah menenun topi untuk dijual demi membungkus makanan hari itu.
“Kami berjalan tanpa alas kaki dan kami tidak membawa apa-apa selain anak-anak kami,” kenangnya.
Keponakan laki-lakinya tewas terkena serpihan mortir tepat di belakangnya, saat mereka melarikan diri.
Maryam menggambarkan mencekamnya situasi saat mereka terjebak di Redaksi bentrokan dan penembak sniper di depan dan belakang mereka.
“Kami pikir, kami sudah tamat,” katanya. Anak-anak berteriak dan menangis, tetapi keluarga itu terus berjalan, tambahnya.

Sumber gambar, Liam Weir/Redaksi
Kisah pilu lain datang dari Fatma Mohammed Saleh. Perempuan penyandang disabilitas yang tak sanggup berjalan ini terbaring di atas karung beras kosong, di luar tenda pengungsi lain.
“Saya tidak punya apa-apa lagi… tidak ada tempat bernaung, tidak ada kasur, tidak punya keluarga. Tidak ada sama sekali,” lirihnya.
Fatma menceritakan bahwa ia awalnya melarikan diri bersama dua putra dan cucu-cucunya ketika pertempuran mencapai desa mereka.
Namun karena fisiknya yang terbatas dan menyulitkan langkah mereka, ia mendesak anak-anaknya untuk lari terlebih dahulu menyelamatkan para cucunya.
Selama dua hari, Fatma merangkak seorang diri menggunakan tangan dan lututnya di tengah perang yang berkecamuk.
“Saya merangkak di saat peluru dan ledakan bom berhamburan dari segala arah. Di atas saya suaranya menggelegar seperti petir. Saya hanya bisa berdoa kepada Tuhan.”
Fatma selamat usai seorang pengendara sepeda motor melihatnya dan membawanya ke kamp pengungsian. Hingga kini, ia belum pernah bertemu lagi dengan keluarganya.
Pada 22 September, badan pengungsi PBB (UNHCR) mencatat lebih dari 130.000 orang terpaksa mengungsi di seluruh Yaman hanya dalam bulan ini saja.
Angka itu menambah deretan panjang 5,2 juta orang yang telah lebih dulu kehilangan tempat tinggal mereka akibat perang saudara.
PBB memperingatkan, sekitar 100.000 orang lainnya terancam bernasib sama seperti Fatma—terusir dari rumah mereka dalam tiga bulan ke depan.
Laporan tambahan oleh Jasmin Dyer




