
Sumber gambar, KOMPAS.COM/Tiktok @explore_waykambas
-
- Penulis, Quinawaty Pasaribu
- Peranan, Jurnalis Redaksi News Indonesia
-
Telah diterbitkan
-
Waktu membaca: 13 menit
Sedikitnya 14 taman nasional di Indonesia dilaporkan mengalami kebakaran sepanjang 2026. Lembaga pemerhati lingkungan, Walhi menyebut kejadian tersebut sebagai yang “terbesar” dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Manager Kampanye Hutan dan Kebun Walhi Nasional, Uli Arta Siagian, menilai masifnya kebakaran di taman nasional menunjukkan gagalnya peran Satuan Tugas (Satgas) Inovasi Pembiayaan dan Pengelolaan Taman Nasional yang dipimpin Hashim Djojohadikusumo.
“Jadi asumsi atau kekhawatiran kami di Walhi sejak awal bahwa Satgas Taman Nasional ini dibentuk hanya berorientasi untuk mendapatkan uang dengan klaim menjaga taman nasional, akhirnya terbukti,” ujar Uli.
Redaksi News Indonesia sudah menghubungi Wakil Ketua Satgas, Raja Juli Antoni, namun tidak ada tanggapan.
Dalam perkembangannya terbaru di Taman Nasional Way Kambas, pihak otoritas mengklaim kebakaran sudah berhasil dipadamkan. Namun, petugas masih membasahi area yang terbakar agar bara api tidak kembali muncul.
Seperti apa kebakaran di Taman Nasional Way Kambas?
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Lampung Timur, masih menyisakan titik api hingga Senin (26/10).
Kebakaran yang terjadi di sejumlah lokasi itu menghadapi tantangan pemadaman, terutama di kawasan gambut yang dapat kembali mengeluarkan bara api.
Humas Balai Taman Nasional Way Kambas, Riri Fitriandi, mengatakan kebakaran yang terjadi sejak Agustus 2026 berada di lokasi berbeda dengan kebakaran yang kembali muncul pada September dan Oktober.
Lewatkan Paling banyak dibaca dan terus membaca
Paling banyak dibaca
Akhir dari Paling banyak dibaca
Menurut Riri, kebakaran pada Agustus terjadi di wilayah selatan TNWK. Sementara itu, kebakaran yang mulai terdeteksi sekitar 19 September terjadi di wilayah utara, tepatnya di kawasan Cabang, yang memiliki lahan gambut dan hingga kini belum sepenuhnya padam.
“Yang Agustus itu kan di wilayah selatan. Yang sempat viral itu. Terus dari September kemarin itu di wilayah utara. Yang mulai tanggal 19 September kalau enggak salah, 19 September itu di utara, di wilayah Cabang,” kata Riri saat dihubungi melalui sambungan telepon dari Bandar Lampung, Senin (26/10).
“Yang wilayahnya gambut sampai sekarang juga belum padam total karena gambut, ya susah. Kita juga terbatas,” tambahnya.

Sumber gambar, TNWK
Riri mengatakan, upaya pemadaman di wilayah Cabang masih terus dilakukan dengan melibatkan berbagai unsur, mulai dari TNI, Polri, pemerintah daerah, BPBD, hingga masyarakat.
Sekitar 350 personel disebut terlibat dalam penanganan kebakaran di lokasi tersebut.
Namun, di tengah penanganan kebakaran yang belum tuntas di wilayah utara, titik api baru muncul di kawasan perbatasan TNWK dengan PT Great Giant Pineapple (GGP), tepatnya di sekitar Resort Susukan Baru dan Resort Rawa Bunder.
Warga Desa Pelabuhan Ratu IX, Kecamatan Labuhan Ratu, Lampung Timur, Iksan Sanjaya, bercerita titik api di dekat kawasan PT GGP mulai muncul pada Kamis, 22 Oktober 2026.
Menurut Iksan, kebakaran diduga dipicu oleh kondisi vegetasi berupa semak-semak dan alang-alang yang mudah terbakar. Pada titik kebakaran terbesar, tinggi api diperkirakan mencapai empat meter.
“Kalau titik api yang di dekat PT GGP ini mulai muncul tanggal 22 Oktober 2026, itu hari Kamis. Dan titik api yang paling besar bisa sampai empat meter tingginya, karena memang semak-semak alang-alang,” kata Iksan saat dihubungi secara terpisah dari Bandar Lampung.
Lewatkan content dan terus membaca
Akhir dari content
Iksan berkata, kebakaran di kawasan Rawa Bunder kali ini meluas hingga wilayah Susukan, bahkan menyeberangi sungai yang biasanya menjadi batas alami rambatan api.
Pada kejadian kebakaran sebelumnya, api disebut berhenti di sungai tersebut. Namun, kondisi berbeda terjadi tahun ini karena sungai mengering setelah periode kemarau yang panjang.
“Dulu pernah terjadi kebakaran di situ, tetapi terputus di sungai. Tahun ini, karena kemaraunya panjang dan sungai itu kering, api menyeberang lewat sungai,” ujar Iksan.
Kondisi tersebut menunjukkan bagaimana mengeringnya vegetasi dan sumber air dapat mempersulit pengendalian kebakaran di kawasan konservasi.
Meski api mendekati pagar pembatas TNWK, Iksan menyebut kebakaran tidak sampai menjalar ke permukiman warga. Area yang terdampak berada di sekitar perbatasan kawasan taman nasional dan perkebunan.
Hujan turun, tapi bara api harus diwaspadai
Berdasarkan pemantauan TNWK, kebakaran di sekitar Resort Susukan Baru dan Resort Rawa Bunder telah berhasil dipadamkan setelah petugas melakukan penanganan, dibantu hujan yang turun di kawasan tersebut.
Selain itu, petugas masih melakukan penyiraman dan pemantauan untuk mencegah munculnya kembali titik api.
“Kalau yang di sini sudah mati, tetapi terus dipantau dan terus mop-up, dibasahi terus karena takut juga,” sebut Humas Balai Taman Nasional Way Kambas, Riri Fitriandi.
Dalam penanganan di kawasan perbatasan tersebut, PT GGP diklaim turut membantu menyediakan sumber air dan sarana pemadaman.

Sumber gambar, TNWK
Riri mengatakan dirinya melihat dua mobil tangki di lokasi ketika ikut berada di lapangan pada malam 24 Oktober 2026. Meskipun, ia belum memperoleh informasi mengenai jumlah keseluruhan kendaraan dan personel perusahaan yang terlibat.
Dia juga menyebut, pemadaman dilakukan secara bersama-sama oleh petugas taman nasional, TNI, Polri, masyarakat, serta unsur lain yang membantu penanganan kebakaran.
Pantuannya, titik api di sekitar perbatasan tersebut telah padam pada Minggu sore, 25 Oktober 2026. Meski demikian, penyiraman tetap dilakukan untuk memastikan bara tidak kembali menyala.
Sementara itu, kondisi berbeda masih terjadi di kawasan gambut wilayah Cabang. Di lokasi ini, asap dapat kembali muncul beberapa jam setelah area yang terbakar disiram.
“Gambut, namanya gambut, sudah disiram hidup lagi. Gambut kayaknya sudah mati, ternyata siang berasap lagi,” sambungnya.
Lewatkan content dan terus membaca
Akhir dari content
Menurut dia, kepulan asap putih yang kembali muncul menjadi salah satu tanda bahwa proses pemadaman belum benar-benar tuntas. Petugas harus terus membasahi area tersebut dan memadamkan bara yang kembali muncul.
Hingga Senin (26/10), Riri menyebut penanganan masih berfokus pada dua lokasi, yakni kawasan gambut di wilayah utara, Cabang, dan lokasi kebakaran di bagian tengah TNWK yang berada di sekitar perbatasan dengan PT GGP.
Namun, dia belum memperoleh data mengenai total luas kawasan taman nasional yang terbakar.
“Kalau titik sih, kalau saya masih menyebutnya dua titik, ya. Di utara sama yang di sini, di bagian tengah,” ujar Riri.
Meski begitu, dia mengklaim belum ada laporan mengenai gajah yang ditemukan terdampak kendati kawasan yang terbakar berada di sekitar jalur lintasan gajah liar.
Ia bilang, gajah liar memiliki insting untuk menghindari kebakaran.
Itu mengapa, upaya pemadaman TNWK membutuhkan dukungan berbagai pihak lRedaksin luas taman nasional mencapai sekitar 125.000 hektare.
Berapa banyak taman nasional yang terbakar pada tahun ini?
Sedikitnya ada 14 taman nasional di Indonesia dilaporkan mengalami kebakaran sepanjang 2026.
- Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Jawa Timur
Kebakaran di kawasan Taman Nasional Tengger Bromo Semeru (TNBTS) disebut menjadi salah satu peristiwa karhutla yang paling mematikan lRedaksin setidaknya enam orang relawan meninggal dunia.
Merujuk pada keterangan Kementerian Kehutanan, kebakaran mulai terjadi sejak Agustus 2026 hingga saat ini.
Berdasarkan data dari Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Timur, luas lahan yang terbakar di kawasan TNBTS mencapai 3.531 hektare terhitung dari 1 Januari hingga akhir September 2026.
- Taman Nasional Kerinci Seblat, Jambi
Kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) mengalami kebakaran hutan dan lahan pada Agustus 2026. Secara keseluruhan, total karhutla mencapai 1.776 hektare.
Namun pihak Balai Besar TNKS mengklaim akumulasi luas lahan yang benar-benar terbakar di dalam zona konservasi TNKS tergolong sangat kecil.
Akibat kebakaran, Balai Besar TNKS menutup aktivitas pendakian pengunjung sejak 1 September 2026. Penutupan mencakup jalur Gunung Kerinci dan Gunung Tujuh di Kabupaten Kerinci, serta Gunung Masurai, Kabupaten Merangin.
- Taman Nasional Gunung Ciremai, Jawa Barat
Kebakaran yang melanda Taman Nasional Gunung Ciremai (TNKS) berlangsung pada Oktober 2026. Berdasarkan hasil pemantauan udara, luas kawasan yang terbakar tercatat sekitar 30-60 hektare.
Titik awal kebakaran hutan tersebut mulanya berada di wilayah Kabupaten Kuningan yang menjadi area dengan sebaran terdampak paling besar.
Tapi, pada hari berikutnya, terdapat indikasi perambatan api yang mengarah ke wilayah Kabupaten Majalengka.

Sumber gambar, Redaksi FOTO/Dedi Suwidiantoro
- Taman Nasional Tambora, Nusa Tenggara Barat
Kebakaran juga terjadi di Taman Nasional Tambora, Nusa Tenggara Barat, pada awal September 2026. Berdasarkan data Balai, luas karhutla mencapai 1.956 hektare per Oktober 2026.
Balai TN Tambora mencatat setidaknya tiga kejadian kebakaran yang ditangani petugas pada 1-4 September 2026, masing-masing di Resor Kawinda Toi, Jalur Semen dan Kadondo, serta Jalur Pintu Walet Timur Oi Hodo.
Dugaan awal menyebut kebakaran di Jalur Semen dan Kadondo serta Jalur Pintu Walet Timur Oi Hondo berkaitan dengan rambatan api dari kegiatan pembersihan lahan masyarakat.
- Taman Nasional Manusela, Maluku
Kebakaran yang terjadi di Pulau Seram, Maluku, disebut berlangsung selama berbulan-bulan hingga merambat ke kawasan taman nasional.
Peristiwa itu juga diklaim berkaitan dengan munculnya kabut asap yang menyelimuti sejumlah wilayah Maluku, termasuk Kota Ambon, sampai mengganggu jarak pandang dan aktivitas penerbangan.
Kebakaran tersebut berlangsung sejak 29 Juli 2026. Kepala Balai TN Manusela mengklaim sekitar 26 hektare kawasan konservasi di Pasahari, Kecamatan Seram Utara, terbakar.
Pihak balai menduga terdapat unsur kesengajaan dalam kejadian ini, tapi penyebabnya masih diselidiki.
- Taman Nasional Bukit Baka Bikut Raya, Kalimantan Tengah
Kebakaran di sekitar kawasan Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya, Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah, terjadi pada Agustus 2026.
Pihak Balai mengestimasi luas karhuta di sana mencapai 121 hektare pada Agustus 2026, dengan tambahan penanganan di beberapa titik lain di wilayah Katingan dan area sekitar sekitar 15 hektare.
Akibat peningkatan risiko karhutla, Kementerian Kehutanan telah menutup sementara aktivitas wisata pendakian di sana sejak September 2026.

Sumber gambar, DETIK.COM/TNPT
- Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Jawa Barat
Kebakaran terjadi di Alun-Alun Barat Surya Kencana, kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango dan kawasan Kawah Wadon.
Bupati Cianjur, Mohamad Wahyu Ferdian, mengklaim kebakaran diduga dipicu faktor alam dan manusia.
Adapun perkiraannya, areal yang terbakar mencapai 20 hektare.
- Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai, Sulawesi Tenggara
Kebakaran di Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai terjadi pada awal September 2026 dan menghanguskan sedikitnya 192 hektare.
Karhutla yang berlangsung tahun ini disebut sebagai yang terbesar dan diduga terkait praktik perburuan rusa.
Lahan yang rawan terbakar sebagian besar adalah padang sabana, semak, juga lahan gambut.
- Taman Nasional Manure Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti, Sumba Tengah
Kebakaran di Taman Nasional Manure Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti dilaporkan terjadi pada akhir Agustus 2026.
Mengutip akun instagram @btn_matalawa, petugas balai memadamkan api di kawasan Tanah Daru, Sumba Tengah hingga kondisi dinyatakan aman.
Untuk luas lahan yang terbakar dilaporkan mencapai 1,96 hektare.

Sumber gambar, Nur Hadi Wicaksono/detikJatim
- Taman Nasional Way Kambas, Lampung
Kebakaran di Taman Nasional Way Kambas terjadi sejak Agustus 2026 dan berlokasi di wilayah bagian utara TNWK dekat perbatasan dengan perusahaan di Kabupaten Lampung Tengah.
Saat itu, area yang terdampak karhutla diperkirakan sekitar 40-100 hektare.
Kejadian kedua, berlangsung pada Oktober 2026 dan disebut lebih besar dari kejadian sebelumnya. Kawasan yang terbakar berada di wilayah Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah (SPTN) I, yang mencakup zona rehabilitasi dan sebagian zona rimba.
Berdasarkan laporan relawan, luas area yang terbakar diperkirakan sekitar 100 hektare.
- Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, Sulawesi Selatan
Kebakaran di Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung terjadi pada September hingga Oktober 2026.
Luas area yang terdampak karhutla mencapai hampir 26 hektare.
Kepala Balai TN Bantimurung-Bulusaraung menyebut salah satu penyebab utama meluasnya kebakaran adalah lokasi titik api yang berada di kawasan puncak dan celah-celah karst yang sulit dijangkau petugas.
- Taman Nasional Tanjung Puting, Kalimantan Tengah
Kebakaran di Taman Nasional Tanjung Puting berlangsung pada Oktober 2026. Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per 20 Oktober, tercatat sekitar 1.234 hektare lahan terdampak.
Salah satu upaya pemadaman yang dilakukan adalah mengintensifkan operasi modifikasi cuaca. Langkah itu diharapkan bisa membantu mempercepat pemadaman.
- Taman Nasional Wasur, Papua Selatan
Kebakaran di Taman Nasional Wasur yang berlangsung sejak Januari hingga Agustus 2026 mencapai 8.708 hektare, mengutip data Badan Nasional Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB).
Kawasan tersebut didominasi oleh ekosistem sabana dan pohon eukaliptus yang sangat mudah tersulut api. Selain juga didorong oleh musim kemarau dan fenomen El Niño yang mempercepat pengeringan vegetasi.
- Taman Nasional Lorentz, Papua
Kebakaran di Taman Nasional Lorentz tercatat melanda kawasan ini sepanjang 2026 dengan luasan mencapai 6.532 hektare, per Agustus. Sehingga menempatkannya sebagai taman nasional terluas kedua yang terdampak karhutla.
Mengapa kebakaran di taman nasional disebut terbesar tahun ini?
Manager Kampanye Hutan dan Kebun Walhi Nasional, Uli Arta Siagian, menyebut kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di taman nasional Indonesia sepanjang 2026 menjadi yang “terbesar” dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Kalau pada 2019 dan 2023—periode karhutla terbesar lainnya—kebakaran hanya melanda beberapa taman nasional, salah satunya adalah Taman Nasional Bromo Tengger Semeru.
“Sebelum itu, enggak pernah semasif ini. Termasuk Taman Nasional Tanjung Puting sebelumnya tidak pernah terbakar, kemudian Way Kambas juga sebelumnya sempat turun kebakaran lahannya,” ucap Uli Arta Siagian kepada Redaksi News Indonesia, Senin (26/10).
Uli menyebut ada beberapa penyebab karhutla di taman nasional sangat masif.

Sumber gambar, Redaksi FOTO/Sulthony Hasanuddin
Pertama, minimnya jumlah pengawas hutan dibandingkan dengan luasan wilayah. Situasi tersebut, klaimnya, terjadi di hampir semua taman nasional.
Sialnya lagi, menurut dia, pemerintah juga tidak memanfaatkan teknologi untuk menjawab kekurangan personel di lapangan, seperti apa yang dilakukan Brasil.
Di Brasil, ia mencontohkan, pemerintahnya memasang menara dengan kamera beresolusi tinggi menggunakan algoritma untuk mendeteksi tanda awal asap hampir secara real time.
Sistem lantas mengirimkan peringatan langsung kepada tim pemantau.
Selain itu, Brasil juga mengembangkan aplikasi untuk membantu petugas pemadam kebakaran hutan. Dalam aplikasi itu menggabungkan informasi lokasi, kejadian kebakaran, pergerakan tim, dan catatan operasi.
“Sementara Indonesia punya 57 taman nasional, punya kawasan hutan lainnya dengan fungsi lindung, dan hutan produksi, serta konservasi. Tapi aparat yang menjaga itu atau polisi hutannya enggak banyak.”
“Kondisi itu menunjukkan bahwa gap Redaksi jumlah pengawas dengan luas wilayah yang harus diawasi. Sebenarnya gap ini bisa dijawab dengan teknologi gitu,” tegasnya.
Lewatkan content dan terus membaca
Akhir dari content
Kedua, tidak dimaksimalkannya peran masyarakat di sekitar kawasan taman nasional lRedaksin tak adanya pengakuan dari pemerintah.
Padahal, menurut Uli, peran masyarakat bisa menjadi ujung tombak dalam melindungi hutan termasuk taman nasional.
“Logika sederhananya begini, ngapain sih negara menguasai begitu banyak hutan, taman nasional, tapi tidak bisa menjaga? Padahal sebenarnya ketika taman nasional di bawah penjagaan masyarakat, entah itu wilayah adat atau wilayah kelola, taman nasionalnya terjaga. Kenapa tidak diakui keberadaan mereka?” ungkapnya.
Ketiga, minimnya peran Satgas Inovasi Pembiayaan dan Pengelolaan Taman Nasional yang dibentuk oleh Presiden Prabowo.
Satgas yang dipimpin adik Prabowo yakni Hashim Djojohadikusumo tersebut sedianya bertujuan untuk mendapatkan pendanaan alternatif tanpa menjadikan kawasan konservasi sebagai ajang komersialisasi masif.
Lewatkan content dan terus membaca
Akhir dari content
Sayangnya, Uli menilai, Satgas telah gagal menjaga wilayah taman nasional dengan begitu masifnya kejadian kebakaran. Ia bahkan mencurigai, dana yang diperoleh dari klaim menjaga taman nasional “tidak sampai ke bawah”.
“Karena enggak ada korelasi yang erat Redaksi adanya Satgas dengan perlindungan taman nasional. Justru setelah adanya Satgas, banyak taman nasional yang terbakar,” cetusnya.
“Artinya kan ini kegagalan yang berlipat-lipat ya. Jadi sebenarnya tugas Satgas Taman Nasional ini selain pencarian dana, apa?” sambungnya.
“Tidak ada jaminan uang itu dipakai untuk benar-benar menjaga dan melindungi wilayah tersebut. Kami membacanya Satgas ini lebih kental dimensi profit oriented.”
Itu mengapa, dia menilai Satgas Inovasi Pembiayaan dan Pengelolaan Taman Nasional dibubarkan saja.
Apa dampak kebakaran di taman nasional?
Terlepas dari itu, Walhi Nasional mendesak kepolisian turut menyelidiki insiden kebakaran di taman nasional, tidak hanya di kawasan konsesi.
Merujuk pada Undang-Undang Kehutanan serta Undang-Undang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, ketika terjadi peristiwa kebakaran di satu wilayah—entah konsesi maupun kawasan hutan di bawah kendali negara—maka melekat yang namanya tanggung jawab.
Artinya, pemilik konsesi atau kementerian yang diberikan kewenangan menjaga kawasan harus dimintai pertanggungjawabannya.
“Jadi mau ada faktor sengaja atau tidak sengaja, kita harus melihat tanggung jawabnya. Kalau ada faktor tidak sengaja, berarti mereka tidak menjalankan fungsi-fungsi pengawasan taman nasional,” papar Uli.

Sumber gambar, Redaksi FOTO/Angga Budhiyanto
Dalam peristiwa kebakaran di Taman Nasional Way Kambas, memang hingga saat ini belum ada satwa yang terdampak.
Tapi, menurut Direktur Eksekutif Walhi Lampung, Irfan Tri Musri, ketika habitat gajah mengalami perubahan, penyusutan, bahkan kehilangan tutupan lahan, artinya ada potensi gajah kehilangan wilayah jelajah.
“Kedua, ada potensi gajah kehilangan sumber pakan, dan memicu interaksi gajah di luar taman nasional,” jelasnya kepada Redaksi News Indonesia, Senin (26/10).
Hal lain yang juga dicermati, terbakarnya taman nasional dapat membunuh satwa secara langsung. Satwa yang selamat pun bisa kehilangan tempat berlindung, sumber makanan, tempat berkembang biak, dan akses menuju sumber air.
Akibatnya, satwa terpaksa berpindah ke hutan lain, perkebunan, atau permukiman. Perpindahan ini meningkatkan risiko konflik dengan manusia, termasuk ketika satwa mencari makanan di kebun.
Dalam jangka panjang, saat habitat rusak dan sumber makanan berkurang, satwa yang populasinya sudah kecil atau memiliki wilayah jelajah terbatas bisa menghadapi risiko yang lebih besar, yakni kepunahan.
Jurnalis Robertus Bejo di Lampung berkontribusi untuk laporan ini.




