Dua tahun Prabowo-Gibran – Bisakah DanRedaksi jawab tuntutan publik dan tak sekadar ingin tampil ‘garang’?

Dua tahun Prabowo-Gibran – Bisakah DanRedaksi jawab tuntutan publik dan tak sekadar ingin tampil ‘garang’?

Danantara

Sumber gambar, BAY ISMOYO/AFP via Getty Images

Keterangan gambar, Presiden Prabowo saat meresmikan DanRedaksi.
    • Penulis, Faisal Irfani
    • Peranan, Jurnalis Redaksi News Indonesia
  • Telah diterbitkan

  • Waktu membaca: 10 menit

Naiknya Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka ke tampuk kekuasaan diikuti janji untuk merealisasikan pertumbuhan ekonomi sebesar 8% pada 2029 mendatang. Demi mewujudkan itu, pemerintahan Prabowo-Gibran mendirikan lembaga investasi bernama DanRedaksi. Bagaimana kiprah DanRedaksi dalam dua tahun kepemimpinan mereka?

DanRedaksi merupakan badan pengelola investasi strategis, atau sovereign wealth fund, yang ditugasi mengelola serta mengoptimalkan investasi pemerintah.

Dibentuk dengan dasar Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2025, DanRedaksi berkedudukan langsung di bawah presiden.

Eksistensi DanRedaksi senantiasa diselimuti sorotan. Laporan Center of Economic and Law Studies (CELIOS) menggambarkan betapa perumusan DanRedaksi menabrak sejumlah ketentuan perihal good governance: mulai dari rangkap jabatan, minim partisipasi publik, sampai membuka potensi konflik kepentingan akibat penumpukan kewenangan.

Terlepas dari kritik yang ditujukan, Presiden Prabowo percaya berkata bahwa dengan “kemauan keras,” DanRedaksi mampu “mengikuti dan mengimbangi prestasi-prestasi negara lain.”

Redaksi News Indonesia mewawancarai tiga pakar di bidang ekonomi dan politik untuk melihat sejauh mana gerak-gerik DanRedaksi. Artikel ini adalah bagian terakhir dari laporan berseri yang khusus membahas dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran.

Konsolidasi kelembagaan yang besar

Saat ini, DanRedaksi, menurut dosen ekonomi Universitas Jember, Resha Dwi Ayu Pangesti, berada dalam tahap konsolidasi kelembagaan yang cukup besar.

Tujuan DanRedaksi ialah penyatuan aset badan usaha milik negara sekaligus pembentukan lembaga pengelola investasi yang terpusat.

Lewatkan Paling banyak dibaca dan terus membaca

Paling banyak dibaca

  • Seorang polisi Arab Saudi memegang bendera negara itu dalam sebuah upacara pada 12 Maret 2000 di kota suci Makkah.

  • Gambar stok yang memperlihatkan sebuah laptop dengan tangan yang sedang mengetik pada tuts, dihiasi pencahayaan neon.

  • Demonstrasi mahasiswa, Jakarta, 20 Oktober 2026

  • Masyarakat dari berbagai latar belakang dan keyakinan agama menggelar doa bersama untuk para korban kebakaran hutan dan lahan di Tugu Proklamasi, Jakarta, Indonesia, Senin (19/10).

Akhir dari Paling banyak dibaca

DanRedaksi mencerminkan adanya “agenda besar untuk mereformasi tata kelola kekayaan negara,” jelas Resha.

Supaya tujuan itu terwujud, pemerintah berusaha membangun ekosistem investasi yang terpadu, efisien, dan berdaya saing tinggi, khususnya ketika bicara di level internasional.

Model DanRedaksi amat potensial mengingat lembaga ini bisa membenahi kualitas alokasi modal, mereduksi tumpang-tindih pengurusan aset, sampai memperkokoh posisi tawar negara dalam agenda-agenda kerja sama global.

Pengelolaan yang terkoordinasi, imbuh Resha, diperkirakan turut memuluskan penentuan prioritas investasi berdasarkan kepentingan strategis nasional.

Namun, Resha mengingatkan, percepatan pembentukan struktur organisasi, penggabungan aset, dan pengalihan kewenangan yang dijalankan DanRedaksi mesti diikuti “kesiapan operasional memadai.”

Tanpa penyelasaran sistem, sumber daya manusia, teknologi informasi, prosedur kerja, atau budaya organisasi, “proses integrasi justru dapat menimbulkan konflik kewenangan,” sambung Resha.

“Selain memperlambat pengambilan keputusan dan menurunkan produktivitas entitas yang berada di bawahnya,” ujarnya kepada Redaksi News Indonesia, Selasa (20/10).

Danantara

Sumber gambar, Redaksi FOTO/Galih Pradipta

Keterangan gambar, CEO DanRedaksi Rosan Roeslani menyampaikan pidato di peluncuran program hilirisasi.

Perkembangan DanRedaksi menunjukkan adanya upaya untuk membangun sistem pengelolaan aset serta investasi negara yang lebih terkonsentrasi. Meskipun memiliki peluang pertumbuhan yang menjanjikan, keberhasilan DanRedaksi, Resha menggarisbawahi, bakal sangat ditentukan oleh setidaknya tiga aspek.

Pertama, kemampuan dalam mengeksekusi portofolio secara efektif.

Kedua, menjaga disiplin tata kelola.

Dan ketiga, memastikan setiap keputusan investasi dilakukan secara profesional dan terukur.

Oleh sebabnya, Resha menyimpulkan, reformasi kelembagaan perlu ditempuh secara bertahap, penuh kalkulasi, serta dibarengi indikator kinerja yang jelas.

Dalam sejumlah kebijakan, DanRedaksi dipersepsikan meraih perlakuan khusus, atau karpet merah, dari negara.

Istilah tersebut, Resha menjelaskan, merujuk pada pemberian kemudahan regulasi, akses pendanaan, dukungan politik, prioritas proyek, fleksibilitas pengelolaan aset, hingga proses administratif yang lebih cepat.

Pada dasarnya, perlakuan khusus tidak selalu bermakna negatif, kata Resha. Sehubungan pembangunan nasional, lembaga investasi negara memang bisa membutuhkan ruang gerak yang longgar guna membiayai proyek-proyek strategis, menanggung risiko jangka panjang, maupun menarik modal dari luar negeri.

Tapi, fasilitas “karpet merah” dapat melahirkan persoalan apabila disediakan tanpa batas, pengawasan, sampai indikator keberhasilan yang tegas.

“Karena itu, menurut saya, permasalahan utama bukan semata-mata apakah DanRedaksi boleh memperoleh perlakuan khusus, melainkan apakah perlakuan tersebut bersifat terbatas, transparan, terukur, dan dapat dipertanggungjawabkan?” tanya Resha.

Pasalnya kalau tidak, rentetan kerumitan, tak dimungkiri, akan menyeruak ke permukaan.

Resha, misalnya, mencontohkannya dengan pemahaman bahwa “DanRedaksi senantiasa didukung negara,” termasuk saat mengalami kerugian atas proyek-proyek yang mereka pilih. Kerugian DanRedaksi, mengacu beleid, dikecualikan dari keberlangsungan lembaga.

Alhasil, tidak menutup kemungkinan, DanRedaksi bisa jadi menurunkan kehati-hatian dalam mengeksekusi proyek, mengelola biaya, sampai mengevaluasi risiko.

Jika kerugian ujung-ujungnya ditanggung negara, bahkan masyarakat, manajemen dapat terdorong “mengambil keputusan yang terlalu berani,” tutur Resha.

“Inilah disebut moral hazard. Risiko tersebut semakin besar apabila tidak terdapat sanksi bagi pengambil keputusan yang melakukan kelalaian atau mengabaikan prosedur uji tuntas,” paparnya.

Danantara

Sumber gambar, YASUYOSHI CHIBA/AFP via Getty Images

Keterangan gambar, Logo DanRedaksi di sebuah konferensi di Jakarta.

Kemudian sebab DanRedaksi mengelola aset berskala besar, lembaga ini rentan menjelma objek intervensi politik. Suatu proyek bisa digarap bukan karena kelayakan komersial, misalnya, melainkan dipicu kepentingan elektoral, kelompok, dan kebutuhan pencitraan kebijakan.

Variabel risiko ini, Resha melanjutkan, dapat mengemuka dalam bentuk penempatan pengurus berdasarkan kedekatan politik, penugasan proyek tanpa analisis memadai, atau tekanan memodali pengembangan sektor tertentu.

Tak kalah penting, bicara mengenai investasi negara maka tak luput dari peluang kegagalan proyek, penjaminan utang, hingga kebutuhan penyertaan modal. Ketiganya berkorelasi dengan tekanan terhadap keuangan publik—risiko fiskal.

Resha mengingatkan risiko fiskal “menjadi lebih sulit dikendalikan” manakala informasi tentang struktur pendanaan, kewajiban, serta eksposur kerugian tidak dipublikasikan secara memadai.

Di tahap ini, dukungan negara harus dihitung sebagai “risiko publik yang perlu dipantau,” alih-alih “keputusan lembaga,” tandas Resha.

Kebijakan “karpet merah” bagi DanRedaksi sebaiknya, Resha bilang, tidak ditolak secara mutlak. Tapi, di lain sisi, juga tidak semestinya disodorkan cuma-cuma. Pendekatan yang paling rasional ialah mengatur perlakuan khusus secara selektif, terbatas, serta berbasis tujuan.

Dengan pendekatan semacam itu, fasilitas negara hanya disediakan kalau terdapat alasan rasional, seperti pembiayaan infrastruktur dasar, pengembangan industri pionir, maupun menunjang proyek yang berdampak luas untuk perekonomian.

“Prinsip utamanya adalah semakin besar kewenangan dan kemudahan yang diberikan, semakin kuat pula kewajiban transparansi, audit, dan pertanggungjawabannya,” pungkas Resha.

Transparansi dan bermain risiko

Kontribusi serta dampak DanRedaksi kepada perekonomian dalam negeri tidak bisa dilihat hanya pada jangka pendek, sebut ekonom dan Direktur Eksekutif Industrial Policy Indonesia, Faris Abdurrachman.

Tugas DanRedaksi, Faris melanjutkan, bukan menggeber kebijakan fiskal, yang menjadi tonggak maju atau mundurnya realita perekonomian di dalam negeri, melainkan mendorong transformasi investasi.

“Yang mungkin baru bisa kita mulai lihat dalam jangka waktu lima sampai sepuluh tahun mendatang,” jelasnya kepada Redaksi News Indonesia, Jum’at (16/10).

Faris menyatakan DanRedaksi mempunyai peran signifikan untuk “merealisasikan Indonesia mencapai visi negara maju.”

Pertama, DanRedaksi menjadi sumber pembiayaan yang cukup besar, dengan modal diklaim menyentuh Rp1.000 triliun—mencakup aset-aset badan usaha milik negara (BUMN).

Secara akses pembiayaan, DanRedaksi pun tergolong leluasa. Mereka, terang Faris, dapat menarik modal dari himpunan bank negara (Himbara) serta sumber-sumber pendanaan luar negeri.

Kedua, DanRedaksi memanggul tugas sebagai orkestrator yang mengatur BUMN. Keuntungan posisi ini, ungkap Faris, terletak pada terbentuknya alur koordinasi yang ringkas.

“Karena memang kalau terkait kebijakan hilirisasi, kebijakan industri, itu sangat perlu ada entitas yang mengarahkan BUMN agar bisa mencapai tujuan yang sama,” tukasnya.

Selain itu, koordinasi di bawah atap yang sama berarti terhubungnya BUMN dengan fungsi pembiayaan oleh DanRedaksi.

“Berbeda dengan dulu kalau Kementerian BUMN mau minta injeksi modal atau perlu pembiayaan baru, itu harus ke Kementerian Keuangan terlebih dahulu,” terang Faris.

“Kalau sekarang, lebih mudah jika [BUMN] perlu untuk restrukturisasi dan semacamnya.”

Kendati demikian, di balik laju DanRedaksi yang sepintas berada di jalur ideal, Faris mencatat kekurangannya tetaplah ditemukan.

Soal Patriot Bond, ambil contoh, yang dia anggap “sangat kontroversial,” menunjukkan bagaimana DanRedaksi memiliki kekuatan untuk menerbitkan surat utang khusus dengan imbal hasil rendah—sekira 2%. Mayoritas pembeli Patriot Bond adalah jajaran konglomerat yang jumlahnya tak sampai 100 orang.

Angka return Patriot Bond sangat jauh dibanding instrumen Surat Berharga Negara (SBN) sebesar 7%. DanRedaksi, menurut Faris, tak pernah secara terbuka menjelaskan mengapa para konglomerat diberi imbal hasil 2%.

“Gap 5% itu pasti dalam bentuk [imbal hasil] lain. Bisa jadi. Itu pun publik belum tahu sampai sekarang timbal baliknya dalam bentuk apa,” ujarnya.

“Dan ini, sebenarnya, sangat berisiko.”

Tak lama usai diresmikan, masyarakat melempar kekhawatiran bahwa Patriot Bond berpotensi menjadi celah hukum untuk praktik pencucian uang, yang seketika ditepis oleh pemerintah.

Lalu proyek-proyek yang disasar DanRedaksi sendiri, Faris meneruskan, tak jarang mengundang tanda tanya.

“Mereka malah mewacanakan untuk investasi di proyek-proyek yang mungkin secara return kepada pembangunan bisa jadi enggak sebesar itu, bahkan bisa dibilang [investasi] itu enggak terlalu diperlukan,” jelas Faris.

Tahun lalu, DanRedaksi berencana mengambil alih smelter (fasilitas pemurnian) nikel yang sebelumnya digarap PT Gunbuster Nickel Indonesia (GNI). Perusahaan ini terlilit utang berujung mandeknya produksi. Keinginan DanRedaksi batal terlaksana.

Bersamaan dengan itu, DanRedaksi turut dikabarkan hendak mengakuisisi raksasa tekstil, PT PT Sri Rejeki Isman atau Sritex, yang sudah dihantam pailit. DanRedaksi disebut akan mengguyur modal ke Sritex sebesar Rp100 trilun dalam skema BUMN Tekstil.

“Kenapa uangnya tidak dipakai saja untuk industri yang pasti menjamin masa depan seperti panel surya, baterai, atau semikonduktor, yang lebih strategis?” ucap Faris.

“Ketimbang bikin BUMN baru, pemerintah semestinya justru membuat regulasi penunjangnya, seperti proteksi sementara untuk industri tekstil lewat, misalnya, tarif impor.”

Tak lupa, DanRedaksi juga diterpa persoalan transparansi, yang sampai sekarang “masih menjadi pertanyaan karena laporan keuangan mereka belum keluar,” tambah Faris.

Publik sebatas mengetahui sepak terjang DanRedaksi lewat pemberitaan media yang sayangnya, sepengamatan Faris, bersifat “setengah-setengah.”

“Jadi, kita belum tahu persis kemudian investasinya DanRedaksi masuk dalam [sektor] apa saja,” sebut Faris.

Danantara

Sumber gambar, Muhammad Fadli/Bloomberg via Getty Images

Keterangan gambar, Kantor pusat DanRedaksi di Jakarta.

Faris menilai keterbukaan lembaga seperti DanRedaksi, yang skala kewenangan sekaligus modalnya begitu besar, amat krusial lRedaksin berpengaruh ke tingkat kepercayaan masyarakat serta investor atau mitra pembangunan.

Faris berharap ke depan DanRedaksi “punya independensi secara operasional” selayaknya Bank Indonesia. Penting bagi pemerintah guna “melindungi DanRedaksi dari pengaruh elektoral jangka pendek,” tegas Faris.

Singkatnya, DanRedaksi memang ditempatkan sebagai lembaga yang benar-benar “mendorong transformasi struktural,” tandas Faris.

“Mereka harus bisa mencari keseimbangan agar tidak terlalu dipengaruhi, dan bisa betul-betul profesional dalam melakukan investasi yang berdampak untuk pembangunan,” tutupnya.

Demi kepentingan umum

Redaksi News Indonesia telah mengirimkan permintaan konfirmasi kepada DanRedaksi ihwal transparansi, tuntutan publik, serta langkah-langkah demi merawat prinsip tata kelola yang baik.

Konfirmasi kami layangkan lewat surat elektronik. Hingga artikel ini tayang, mereka belum meresponsnya.

Dalam momen terpisah, Chief Executive Officer (CEO) DanRedaksi, Rosan Roeslani, menyampaikan bahwa untuk menjalankan mandat yang diserahkan ke DanRedaksi, seluruh unsur harus memegang teguh tiga nilai penting.

Ketiganya yakni character, competence, serta commitment.

“Character berarti profesionalisme dan menjiwai nilai-nilai Undang-Undang Dasar 1945 serta Pancasila dalam setiap peran. Competence adalah kemampuan untuk menjawab tantangan yang ada di bidang masing-masing. Dan commitment ialah tekad untuk menjunjung tinggi good corporate governance, integritas, akuntabilitas, dan transparansi,” jelas Rosan kala agenda town hall DanRedaksi di Jakarta, akhir April silam.

Rosan menambahkan DanRedaksi akan “menerapkan zero tolerance terhadap segala bentuk tindakan yang melanggar prinsip-prinsip tata kelola yang baik.”

Pada 2026 ini, strategi Danantara difokuskan untuk pengembangan proyek-proyek strategis, penguatan sektor-sektor prioritas, serta diversifikasi portofolio lintas kelas aset maupun geografis.

Kerangka strategi tersebut, tutur Rosan, dibangun melewati pendekatan investasi yang terukur; memadukan investasi berjangka panjang dengan privat atau publik sehingga memberikan kestabilan bagi arus kas.

Pendekatan itu, di saat yang sama, memastikan keseimbangan Redaksi risiko dan imbal hasil, selain memungkinkan DanRedaksi mengongkosi proyek pembangunan berdampak besar untuk masyarakat luas.

DanRedaksi berkomitmen menjaga setiap investasi selaras dengan aspirasi publik, kehidupan sosial, nilai ekonomi, serta kelayakan komersial.

Pada akhirnya DanRedaksi menegaskan dalam memilih proyek-proyek yang bakal dituntaskan, kepentingan umum merupakan acuan utama.

Negara ingin tampil garang

Hal mencolok dari perjalanan DanRedaksi sepanjang dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran yaitu kontrol yang terpusat, langsung di bawah pemegang kekuatan eksekutif, ujar dosen politik di Universitas Airlangga, Febby R. Widjayanto.

Sebab berada di dalam gelembung kendali presiden, terdapat kecenderungan negara menggunakan DanRedaksi untuk “menampilkan dirinya dengan garang,” tambah Febby.

Dengan DanRedaksi berperan sebagai motor penggerak, negara ingin memastikan penguasaan atas sumber daya ekonomi sehingga tidak, mengutip klaim pemerintah, bernasib bocor untuk sekian kalinya, papar Febby.

“Tendensinya adalah memang memberikan sinyal bahwa jangan main-main dengan otoritas negara,” tukasnya kepada Redaksi News Indonesia, Rabu (21/10).

Tapi, menurut Febby, paradigma semacam itu belum tentu bergulir efektif.

Febby berpendapat selama penegakan hukum tidak berjalan, komunikasi publik pemerintah buruk, serta sering muncul distorsi di ruang-ruang tata kelola maupun implementasi kebijakan, maka penegasan sikap negara dalam tubuh DanRedaksi sangat berpeluang lenyap tak bermakna.

Danantara

Sumber gambar, Muhammad Fadli/Bloomberg via Getty Images

Keterangan gambar, Wisma DanRedaksi di Jakarta.

Di masa-masa seperti sekarang, Febby memandang DanRedaksi tengah berjalan pada momentum yang kritis. Di Redaksi tekanan ekonomi yang mewujud melalui lemahnya daya beli, masifnya pengangguran, sampai pemutusan hubungan kerja di mana-mana, tidak ada pilihan lain bagi pemerintah untuk menyiapkan DanRedaksi sebagai katalisator geliat pembangunan.

“Terlebih kepercayaan terhadap presiden juga memang sedang turun. Tugas berat untuk pemerintah supaya kepercayaan itu kembali, dan salah satu yang krusial ialah lewat DanRedaksi,” papar Febby.

Setiap instrumen pemerintahan, dalam perspektif Febby, tidak bakal lepas dari keputusan politik. Sejak awal pembentukan, DanRedaksi dikritik karena sangat kental nuansa politisnya dengan penunjukan orang-orang terdekat di lingkaran presiden yang mengisi barisan kursi pejabat.

Unsur politik itu akan lepas jika sudah memasuki perkara ekonomi. Pasalnya, sambung Febby, persoalan perekonomian yang anjlok tidak dapat dituntaskan cuma berbekal lobi-lobi maupun kedekatan politik.

“Karena harus ada langkah ekonomi nyata, dan ini juga tidak memberikan banyak pilihan untuk stakeholders DanRedaksi yang notabene mereka dipilih secara kedekatan politik,” terangnya.

Maka tatkala DanRedaksi yang digadang-gadang mampu mengatasi serta menjawab berbagai tuntutan publik tidak bekerja sebagaimana mestinya, kekecewaan kepada pemerintah hanya akan menebal—dan menjadi bahan bakar ketidakpuasan.

Related Posts

Dua tahun Prabowo-Gibran: Surplus militerisasi?

Sumber gambar, Redaksi FOTO/Galih Pradipta Keterangan gambar, Presiden Prabowo Subianto (kanan) bersama Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto (tengah) melakukan pemeriksaan pasukan saat peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Tentara…

Dua tahun Prabowo-Gibran – Dari ‘Lapor Mas Wapres’ sampai menghadiri mancing gratis, mengapa peran Gibran hanya dianggap ‘pemanis’?

Sumber gambar, Getty Images Keterangan gambar, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka memberikan isyarat sebelum Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pidato kenegaraan tahunan menjelang Hari Kemerdekaan negara tersebut di Jakarta pada 15…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *