Kesaksian kapten kapal MT Honour 25 yang disandera perompak Somalia – ‘Kru saya berjongkok dan ditodong senjata’

Sumber gambar, M Aidil
-
- Penulis, M Aidil
- Peranan, Jurnalis di Sulawesi Selatan
-
Telah diterbitkan
-
Waktu membaca: 10 menit
Ashari Samadikun, kapten kapal MT Honour 25, menangis ketika mengingat rentetan kejadian dalam penyanderaan oleh gerombolan perompak Somalia.
Ashari yang selamat dari maut setelah disekap bersama 16 rekannya selama lebih dari lima bulan masih dibayangi ketakutan dan trauma.
“Kalau saya dengar suara hentakan, saya kira tembakan. Sampai sekarang itu yang masih terbawa,” kata Ashari saat ditemui di kediamannya yang terletak di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, 8 Oktober lalu.
Ashari dan rekan-rekannya bisa bebas setelah aparat bersenjata Puntland—wilayah semi-otonomi di Somalia—melakukan penyerbuan terhadap para perompak yang membajak kapal MT Honour 25 pada Selasa pagi, 29 September 2026.
Dalam upaya pembebasan itu, lima ABK (anak buah kapal) MT Honour 25 meninggal dan lima orang lainnya mengalami luka tembak.
Bagaimana pembajakan berawal? Bagaimana para ABK bertahan hidup selama lima bulan? Bagaimana operasi pembebasan berlangsung?
Ashari menuturkan kisahnya.
Bagaimana pembajakan berawal?
Ashari mengatakan aksi pembajakan kapal MT Honour 25 itu terjadi pada 21 April 2026.
Lewatkan Paling banyak dibaca dan terus membaca
Paling banyak dibaca
Akhir dari Paling banyak dibaca
Kala itu, para perompak yang datang dari sisi sebelah kanan kapal langsung melepaskan beberapa kali tembakan. Mereka merapat ke kapal tanpa perlawanan karena para ABK tidak dilengkapi senjata apapun.
Ketika para perompak naik di atas kapal, orang pertama yang mereka cari adalah Ashari selaku kapten dari kapal MT Honour 25 tersebut. Para perompak lantas menyisir dan mendobrak semua pintu di dek kapal.
Ashari lalu meminta seluruh kru untuk berkumpul di depan kamarnya.
Di tempat itu, semua kru kapal MT Honour 25 diminta tetap menunduk serta mengangkat tangan.
“Jadi hari itu cuma saya yang berdiri. Saya bilang: ‘Tenang, jangan takut, jangan ada panik, jangan berbuat apa-apa’. Jadi semua kru saya itu tunduk, jongkok, angkat tangan semua. Cuma saya berdiri,” terang Ashari kepada jurnalis M Aidil yang melaporkan untuk Redaksi News Indonesia.
“Baru ditodong semua [senjata] di situ,” katanya.
Ashari menghadapi para perompak bersenjata dan meminta agar mereka tidak menembak.
“Saya bilang: ‘Don’t shoot, I am Muslim‘ (Jangan tembak, saya Muslim). Langsung dia [perompak] bilang: ‘Ok, no shoot,” kata Ashari.
“Dia [perompak] bilang: ‘Mana kapten?’ Saya bilang: ‘Saya kapten. Assalamu’alaikum’. Dia bilang: ‘Waalaikumsalam,” paparnya.
“Saya bilang: ‘Saya muslim, kalian muslim, semua muslim bersaudara’.”
Untuk menghindari anggotanya menjadi sasaran amukan dari para perompak bersenjata, Ashari juga melakukan pendekatan persuasif sejak hari pertama kapalnya dibajak.
“Saya awalnya itu minta izin salat Ashar, habis itu kami salat berjamaah semua. Mulai di situ, mereka [perompak] agak turun [emosi]. Cuma kami tetap ditodong [senjata]. Alhamdulillah kami tidak diikat dan dipukul,” tambah Ashari.
Kapal tanker MT Honour 25 itu diawaki 17 pelaut. Empat diRedaksi mereka merupakan WNI, yakni:
- Ashari Samadikun selaku kapten kapal asal Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan.
- Adi Faizal selaku 2nd Officer asal Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan.
- Wahudinanto selaku Chief Officer asal Pemalang, Jawa Tengah.
- Fiki Mutakin asal Bogor, Jawa Barat.
Lewatkan content dan terus membaca
Akhir dari content
Para perompak kemudian meminta Ashari menunjukkan kamarnya dan meminta uang.
“Saya kasih uang. Di kapal ada uang cash untuk digunakan sewaktu-waktu kalau ada mendesak. Saya kasih US$4.400,” terang Ashari.
Selain itu, kata dia, perompak juga menyita semua handphone milik kru kapal MT Honour 25.
Ashari bilang sebelum perompak bersenjata itu naik di atas kapal, dia telah memencet tombol SSAS atau Ship Security Alert System untuk memberitahukan bahwa kapal MT Honour 25 tersebut telah dibajak.
“Alhamdulillah saya sempat pencet itu satu kali, baru [perompak] masuk di kamar saya,” jelas Ashari.
Apa momen paling mencekam selama penyanderaan?
Selama lebih dari lima bulan disandera para perompak Somalia, momen paling mencekam terjadi pada lima hari pertama pembajakan.
Saat itu, pihak perusahaan dari kapal MT Honour 25 mengirim orang sebanyak tiga kapal untuk menyelamatkan para sandera.
Menurut Ashari, para perompak panik, menembak ke berbagai arah, dan mengancam akan membunuh sandera yang ada di atas kapal.
“Di situ mencekam sekali, saya diancam mau dibunuh,” kata dia.
“Kru saya menangis semua. Ada sampai gemetaran. Lima hari pertama itu berat sekali.”
Beberapa hari sesudahnya, pihak Kedutaan Besar RI menghubungi para ABK.
“KBRI kontak kami, mereka berupaya bagaimana caranya meyakinkan perompak. Jangan panik, jangan menyakiti kru.”
Bagaimana cara para ABK bertahan hidup?
Semakin lama penyanderaan berlangsung, semakin buruk pula kondisi kesehatan para ABK. Apalagi, mereka tidak pernah mendapat suplai makanan dari perusahaan, tempat mereka bekerja.
Di tengah kondisi itu, Ashari bersama dengan krunya hanya dapat bertahan dengan cara memancing di laut lepas.
“Saya bawa peralatan pancing biasa, itu kami gunakan untuk survive,” tutur Ashari.
Ketika bahan makanan di atas kapal telah menipis, para perompak bersenjata memberikan makanan kepada ABK yang disandera.
“Seingat saya, selama hampir lima bulan itu, kami disuplai kambing 15 ekor. Itu pun kambingnya kurus-kurus, kecil. Tapi mau bagaimana lagi,”
“Saya bilang ke anggota saya, setidaknya kita punya makanan. Kalau pun mancing, kadang dapat kadang tidak. Itu yang berat. Belum lagi minuman,” katanya.
“Kami [sandera] bertahan makan seadanya. Saya yang penting bisa kenyang, bisa bertahan. Alhamdulillah kru saya kompak semua, mereka bisa sabar. Kami bisa bertahan.”

Sumber gambar, AFP via Getty Images
Pada awal penyanderaan, Ashari bersama ABK lainnya sesekali diberi kesempatan oleh para perompak untuk menghubungi keluarga masing-masing menggunakan telepon kapal secara bergiliran.
Akan tetapi, ketika penyanderaan telah memasuki bulan ketiga, para ABK MT Honour 25 sudah tidak diperbolehkan menghubungi keluarga.
“Di bulan ketiga itu tidak ada lagi telepon, tidak ada lagi komunikasi sama sekali. Terus makanan sudah habis, alat generator semua sudah [mati].”
Ashari bersama ABK lain sempat mengalami putus asa ketika penyanderaan sudah berlangsung selama tiga bulan.
“Semua sudah kritis. Makanan sudah kritis, minuman sudah kritis. Sudah betul-betul saya bilang,” kata dia.
“Mesin produksi air tawar kita itu sudah rusak semua.”
Di titik itu, Ashari hampir saja menyerah dengan keadaan.
Terlebih lagi, kata Ashari, jumlah tebusan yang diminta para perompak untuk 17 orang sandera awalnya sangat tidak masuk akal, yaitu US$7 juta.
“Saya sudah merasa mungkin sampai di sini hidup kami. Mungkin sampai di sini perjuangan kami,” kata Ashari.
Di atas kapal, Ashari bersama ABK lainnya sering kali menyemangati satu sama lain.
“Saya tidak berani bilang sama anggota saya. Saya cuma yakinkan, Insya Allah kita pulang. Makanya, di situ beratnya ketika ada yang meninggal ujung-ujungnya,” tutur Ashari sembari menyeka air matanya.
“Yang menguatkan kami sebenarnya cuma pasrah kepada Allah. Itu saja,” katanya.

Sumber gambar, Istimewa
Memasuki bulan keempat penyanderaan, satu-satunya sandera yang diberikan akses untuk menghubungi keluarga dan pemerintah adalah Ashari.
Ashari memanfaatkan kesempatan itu sebaik mungkin.
Selain memberikan kabar kepada keluarganya, Ashari tak pernah lupa menghubungi keluarga ABK yang ikut disandera bersamanya.
Melalui sambungan telepon maupun video call itu, Ashari selalu berusaha menyemangati keluarga anggotanya. Begitu juga sebaliknya.
“Saya selalu semangati keluarganya, bapakmu baik-baik saja. Insya Allah saya yakin kita bisa pulang semua.”
Apakah ada upaya negosiasi pembebasan?
Selama penyanderaan berlangsung, upaya negosiasi dilakukan berbagai pihak, termasuk perusahaan pemilik kapal MT Honour 25.
Namun, negosiasi berjalan alot karena, menurut Ashari, para perompak menginginkan jumlah tebusan sebesar US$7 juta.
Ashari mengatakan jumlah itu sangat tidak masuk akal.
“Saya jelaskan kapal ini cuma muat segini minyaknya, harga minyak segini, harga kapal segini. Itu tidak logis, tidak bakal ada yang bisa kau [perompak] dibayar,” terang Ashari.
Mendengar perkataan Ashari, perompak itu pun kemudian menurunkan jumlah tebusan menjadi US$4 juta.
“Setelah itu, saya ini lagi sama penerjemahnya itu [perompak]. Saya yakinkan lagi, dia kasih turun lagi sampai US$3 juta.
“Habis itu diturunkan jadi US$2 juta. Terakhir US$1,5 juta,” kata dia.
Untuk dapat turun hingga US$1,5 juta, Ashari sampai harus berdebat sengit dengan para pembajak selama sepekan.
“Saya bilang kami ini sudah lima bulan, tidak ada solusi. Kalau kamu [perompak] berpikir bisa mendapat uang yang banyak, kami di sini tidak bisa bebas,” jelas Ashari.

Sumber gambar, Istimewa
Setelah kejadian itu, Ashari mengaku menerima komunikasi dari seseorang yang mengklaim dirinya merupakan utusan pemerintah UK. Redaksi belum bisa memverifikasi apakah pemerintah UK terlibat dalam negosiasi.
Dalam komunikasi itu, kata Ashari, orang itu mengatakan pemerintah UK memerlukan jaminan dari para perompak bahwa semua kru kapal selamat.
“Untuk mempermudah negosiasi, harus ketemu dulu untuk tahap pertama. Harus medical check up sama kru bahwa mereka selamat dan tidak apa-apa,” beber Ashari.
Ashari bilang kapal diminta bergerak dari Durdura menuju Dinowda, yang jaraknya sekitar 170 mil (273 kilometer).
“Pada saat kami bergerak itu, saya bilang sama pembajak: ‘Saya tidak yakin kapal saya bisa bergerak karena kondisi kesehatan mesinnya cuma 30 persen’.”
“Tapi dia [perompak] bilang: ‘Kita coba saja, semoga sampai di sana dibayar tebusanmu’.”
Namun, sebelum sampai ke Dinowda kapal MT Honour 25 tak dapat bergerak lRedaksin kondisi arus yang sangat kuat.
Di tempat itu, kata Ashari, para perompak mendapat kabar bahwa kapal lain yang disandera telah diserang.
“Mereka [perompak] panik, standby semua keliling. Mereka pasang semua senjata antiudara, senapan AK47 dipasang semua keliling kapal,” jelas Ashari.
Sehari kemudian, suasana di atas kapal berubah mencekam. Setiap kali ada kapal yang dicurigai sebagai kapal perang, para perompak menodong senjata.
“Dia [perompak] bilang; ‘Kalau mereka menyerang, kalian yang pertama kali mati, baru saya. Saya akan taruh kau di depan, saya di belakangmu’,” terang Ashari menirukan ucapan perompak.
“Saya bilang: ‘Oke, tidak masalah’.”
Sesaat kemudian perompak kembali mendapat informasi bahwa kapal MT Honour 25 akan diserang.
Para sandera di atas kapal ketika itu diikat setelah salat subuh.
“Kru saya dibuka bajunya, diikat melingkar semua.”
Ashari menghubungi semua otoritas setempat melalui panggilan radio dan meminta untuk tidak melakukan penyerangan.
“Saya bilang minta tolong jangan ada yang serang kapal ini karena yang paling pertama mereka bunuh kalau ada apa-apa anggota saya. Habis itu tidak ada yang menyerang,” tuturnya.
“Tidak lama dilepas kru saya semua. Kami diminta istirahat kembali,” katanya.
Pada pukul 7 pagi, Ashari ditarik dari tempat tidurnya. Dia diminta oleh perompak untuk segera menjalankan kapal. Para ABK kembali diikat di dek kapal.
Sekitar satu jam kemudian, sebuah kapal tanker mendekat.
Ternyata kapal itu digunakan aparat Puntland untuk menyerbu.
Bagaimana operasi penyerbuan berlangsung?
Operasi pembebasan para sandera kapal MT Honour 25 berlangsung pada Selasa pagi, 29 September 2026.
Aparat Puntland yang menumpang kapal tanker menghubungi para perompak di kapal MT Honour 25 melalui radio, meminta mereka untuk menyerah dan turun dari kapal.
Setelah itu aparat sontak melepaskan tembakan.
“Saya kaget, tidak lama kemudian terdengar tembakan dari kapal itu, senapan mesin,” paparnya.
“Tembakannya bertubi-tubi. Itu suara peluru saya sudah tidak bisa kenali yang mana peluru besar,” tambah Ashari.
Menurut Ashari, penembakan itu berlangsung sejak pukul 08.00 pagi hingga pukul 14.00 siang.

Sumber gambar, Getty Images
Ashari mengungkapkan saat penembakan berlangsung, dia bersama dengan Adi Faizal berada di ruang kemudi kapal.
Di tempat itu, Ashari menghubungi aparat Puntland di kapal tanker melalui radio dan meminta penembakan dihentikan.
“Jangan tembak, jangan tembak. Kru saya di dek, kru saya diikat di dek, jangan tembak,” ujar Ashari menirukan ucapannya sendiri kala itu.
Namun, permintaan itu tidak dihiraukan. Menurut Ashari, aparat Puntland terus menembak.
“Saya bilang kru saya di dek, kalian bisa bunuh kru saya,” kata Ashari.
“Dia bilang: ‘Saya tidak peduli, mau kru mati, mau pembajak mati. Yang jelas tidak ada pembajak lagi di Puntland’. Habis itu dia tetap menembak,”
Ashari bilang penembakan sempat berhenti setelah dia mengancam akan melaporkan kejadian itu ke pemerintah Indonesia.
“‘Kalau kau tidak mau berhenti menembak, saya laporkan kau ke pemerintah Indonesia, pemerintah Pakistan’. Tidak lama dia jeda di situ sekitar dua menit,” katanya.
“Habis itu menembak lagi. Para pembajak ketakutan, mereka sembunyi semua. Jadi yang tersisa di dek itu kru saya semua,” jelas Ashari.
Pada saat penembakan mereda, Ashari berdiri. Di situ, dia melihat sejumlah krunya sudah terkapar.
“Karena pembajak panik. Jadi setelah saya berdiri, sudah terkapar anggota saya. Di situ saya tidak berhenti menangis.”

Sumber gambar, Redaksi FOTO
Dalam keterangan kepada Redaksi Somali, Wakil Menteri Informasi Puntland, Bile Qabowsade mengatakan bahwa sebanyak lima orang sandera dibunuh perompak sebelum aparat menaiki kapal tanker MT Honour 25.
Qabowsade mengatakan korban yang tewas terdiri dari atas tiga warga negara Pakistan, satu warga negara India, dan satu warga negara Myanmar.
Beberapa awak mengalami luka-luka. Salah satu diRedaksinya adalah Fiki Mutakin, WNI asal Bogor, Jawa Barat.
Pejabat setempat mengatakan bahwa 16 terduga perompak telah ditangkap, sementara pelaku lainnya berhasil melarikan diri dan masih dalam pengejaran.
Kapal tanker yang dibajak itu berlabuh di dekat pantai Somalia, di Redaksi Kota Xaafun dan Bander Beyla.
Apa yang terjadi setelah para ABK dibebaskan?
Pada 6 Oktober 2026, empat WNI yaitu Ashari Samadikun, Wahudinanto, Adi Faizal, dan Fiki Mutakin telah tiba di Indonesia setelah disandera para perompak Somalia selama lebih dari lima bulan.
Meski telah bebas dan kembali ke kampung halaman, Ashari mengaku masih selalu teringat dengan para ABK MT Honour 25.
Dia sangat terpukul karena terdapat lima ABK yang meninggal dunia. Apalagi, sebelum meninggal dunia, kelima rekannya sudah lama tidak berkomunikasi dengan keluarga mereka.
“Jujur sampai sekarang, kalau saya lihat anak saya, saya ingat anak-anak anggota saya yang meninggal,” katanya.
“Karena setiap saya lihat anak saya, saya ingat anak-anak kru saya. Saya lihat ibu saya, saya lihat ibu-ibu kru saya. Betul-betul saya tidak bisa lupa sampai sekarang.”

Sumber gambar, M AIDIL




