
Sumber gambar, Piotr Krasinski
-
- Penulis, Jessica Abrahams
- Peranan, Redaksi World Service
-
Telah diterbitkan
-
Waktu membaca: 10 menit
“Seperti ditembakkan dari sebuah meriam” adalah perbandingan paling mendekati yang bisa digunakan Susanne Callin untuk menggambarkan olahraga ekstrem yang digelutinya.
Callin merupakan juara Eropa dua kali di ajang Top Fuel drag racing, yang kerap disebut sebagai olahraga tercepat di dunia.
Balapan dimulai dengan suara gemuruh yang menggetarkan tubuh. Mobil-mobil dengan akselerasi tercepat di dunia melesat meninggalkan garis mula, sementara api menyembur dari knalpot.
Mobil-mobil tersebut bisa melaju hingga lebih dari 480 kilometer per jam, dengan durasi balapan hanya sekitar empat detik. Dalam waktu sesingkat itu, para pembalap mengalami gaya gravitasi (g-force) yang bahkan lebih besar dibandingkan yang dirasakan astronaut saat meluncur ke luar angkasa.
Top Fuel drag racing juga menjadi satu-satunya kelas motorsport elite di mana pembalap perempuan kerap mengalahkan pembalap laki-laki untuk meraih gelar juara bergengsi.
Dalam sembilan Kejuaraan Eropa terakhir, pembalap perempuan memenangkan tujuh di Redaksinya. Hingga belum lama ini, pembalap asal Amerika Serikat, Brittany Force, juga memegang rekor kecepatan dunia di cabang olahraga tersebut.
Sebagai perbandingan, sudah 50 tahun sejak seorang perempuan terakhir kali tampil dalam balapan Grand Prix Formula 1.

Sumber gambar, Ben Feetham / Pitlane News
Menurut kelompok kampanye More Than Equal, perempuan hanya mencakup sekitar 10% dari seluruh peserta balapan otomotif dan hanya 4% dari pembalap di level elite.
Lewatkan Paling banyak dibaca dan terus membaca
Paling banyak dibaca
Akhir dari Paling banyak dibaca
Namun, pada musim Top Fuel di Amerika Serikat dan Eropa tahun ini, perempuan menyumbang sekitar 20% dari total pembalap.
More Than Equal menyebut drag racing sebagai “olahraga motorsport yang paling setara gender di dunia”.
Top Fuel merupakan kelas paling ekstrem dalam drag racing. Namanya merujuk pada bahan bakar nitrometana berdaya ledak tinggi yang digunakan mobil-mobil tersebut.
Balapan berlangsung di lintasan lurus sepanjang hanya 305 meter. Biasanya, dua mobil beradu cepat secara bersamaan.
Gaya gravitasi yang sangat kuat langsung terasa pada detik pertama, ketika mobil yang semula diam melesat hingga 160 kilometer per jam. Hantaman kedua terasa ketika kopling sepenuhnya terhubung, sekitar pertengahan lintasan.
Dari luar, balapan ini bisa terlihat sangat menakutkan. Tapi, bagi pembalap asal Swedia, Susanne Callin, 43 tahun, sensasi adrenalin justru “sangat membuat ketagihan”, ungkapnya kepada Redaksi Global Women.
“Kekhawatiran mengenai risikonya selalu ada,” sambung Callin. Namun, menurutnya, “sistem keselamatannya benar-benar bekerja.”
Para pembalap mendapat perlindungan yang sangat ketat, sementara berbagai prosedur keselamatan terus diperkuat setelah terjadi kecelakaan fatal yang melibatkan mobil berbahan bakar nitrometana pada 2004 dan 2008. Setelah kecelakaan tersebut, jarak balapan juga diperpendek.

Sumber gambar, Remco Sheelings
Bahkan sekadar menyaksikan balapan dari tribun saja sudah menjadi pengalaman yang begitu terasa secara fisik. Getaran dari mobil-mobil tersebut dapat mengguncang tubuh penonton hingga terasa di tanah.
Penonton bahkan disarankan menggunakan pelindung telinga karena tingkat kebisingannya setara dengan suara yang terdengar ketika berdiri di dekat jet tempur yang sedang lepas landas.
Kecepatan tertinggi yang pernah tercatat secara resmi dalam balapan Top Fuel mencapai lebih dari 558 km/jam, jauh di atas kecepatan lebih dari 372 kilometer per jam dalam balapan Formula 1.
Rem saja tidak cukup untuk menghentikan mobil secepat itu dalam waktu singkat. Karena itu, parasut akan terbuka dari bagian belakang mobil begitu mencapai garis finis.
Lewatkan content dan terus membaca
Akhir dari content
Hentakan saat mobil berhenti mendadak terasa sangat kuat. Callin menggambarkannya seperti “ditendang seseorang tepat di dada”. “Sampai-sampai napas Anda hilang,” cetusnya.
Pembalap Top Fuel membutuhkan reaksi secepat kilat sekaligus ketahanan fisik untuk menghadapi gaya yang sangat besar selama balapan.
Kemampuan mengendalikan mobil dengan presisi juga sangat penting karena pembalap harus terus melakukan penyesuaian kecil agar mobil tetap berada di jalurnya.
“Semua harus dilakukan dengan reaksi seketika,” ujar Callin. “Begitu Anda sempat memikirkannya, semuanya sudah terlambat… Anda benar-benar harus menyatu dengan mobil.”
Selain itu, seorang pembalap juga membutuhkan keberanian yang luar biasa.
Jndia Erbacher, pembalap asal Swiss berusia 32 tahun yang sekaligus menjadi rival dan sahabat Callin, bercanda kepada Redaksi bahwa olahraga ini membutuhkan “nyali besar.”

Sumber gambar, Callum Pudge
Callin berhasil meraih gelar juara Eropa Top Fuel untuk kedua kalinya secara beruntun pada September lalu di lintasan drag Santa Pod, dekat Northampton, Inggris. Ini merupakan tahun keempat berturut-turut gelar tersebut dimenangkan oleh pembalap perempuan.
Sementara di Amerika Serikat, pembalap pemegang rekor kecepatan, Brittany Force, berhasil menjadi juara nasional yang diselenggarakan oleh National Hot Rod Association (NHRA) pada 2017 dan 2022.
Menurut Fran Longstaff, Chief Innovation Officer di More Than Equal, yang mendukung dan mengadvokasi perempuan di dunia motorsport, drag racing merupakan cabang yang “sangat tidak biasa” dibandingkan olahraga balap otomotif lainnya.
Menurutnya, keberadaan perempuan yang berkompetisi dan memenangkan kejuaraan dalam olahraga ini kini sudah dianggap hal yang biasa, bukan sesuatu yang luar biasa. Hal itu termasuk keberhasilan yang terus berlanjut di kelas Top Fuel.
Fran Longstaff turut memimpin penelitian untuk mencari tahu mengapa drag racing menjadi cabang balap otomotif yang paling maju dalam hal kesetaraan gender. Menurutnya, penelitian tersebut tidak menemukan faktor fisik maupun biologis yang dapat menjelaskan keunggulan perempuan dalam cabang ini.
Sebaliknya, ia menunjuk pada “kemunculan terus-menerus sosok pembalap perempuan yang bisa menjadi panutan dan terlihat oleh publik”.
Selain itu, drag racing memiliki “struktur akar rumput yang mudah diakses, program untuk pembalap muda, area pit yang terbuka untuk publik, serta budaya yang mengedepankan keluarga dan kerja sama.”

Sumber gambar, Disney General Entertainment Content via Getty Images
Dalam dunia drag racing, kata Callin, perempuan sudah memenangkan balapan-balapan besar sejak puluhan tahun lalu.
Salah satu nama yang paling dikenal adalah Shirley Muldowney, yang dijuluki “First Lady of Drag Racing“.
Muldowney merupakan perempuan pertama yang memperoleh lisensi untuk berlaga di kelas Top Fuel. Ia memenangkan kejuaraan NHRA pada 1977 dan kemudian menjadi pembalap pertama yang berhasil meraih tiga gelar juara, dengan kemenangan berikutnya pada 1980 dan 1982.
Perjalanannya tidak mudah. Muldowney harus berjuang agar diizinkan berkompetisi di level tertinggi dan beberapa kali menghadapi permusuhan, baik dari sesama pembalap maupun penonton. Tapi, kini ia justru dipuji karena kegigihannya.
Ketika Redaksi menghabiskan waktu bersama Callin di area pit di Santa Pod di sela-sela balapan, suasananya dipenuhi suara mesin yang meraung dan bau karet terbakar.
Sambil timnya mempersiapkan mobil, Callin melayani permintaan tanda tangan dari para penggemar—mulai dari anak-anak hingga orang dewasa, baik laki-laki maupun perempuan.
“Saya tidak pernah merasa diremehkan atau diperlakukan buruk hanya karena saya perempuan. Tidak pernah,” kata Callin.
Pengalaman tersebut sangat berbeda dengan yang dialami perempuan yang ingin menembus dunia Formula 1.
Sejumlah pembalap perempuan muda mengaku pernah sengaja didorong keluar lintasan karting oleh pembalap laki-laki. Mereka juga menghadapi komentar-komentar seksis, baik secara langsung maupun di media sosial.
Penelitian More Than Equal juga menyoroti budaya drag racing yang erat, berorientasi pada keluarga, dan mengutamakan kerja sama.
Seperti banyak pembalap drag racing papan atas lainnya, Callin berasal dari keluarga yang memang dekat dengan dunia balap. Ia sudah terlibat sejak kecil, mengikuti jejak ayah dan pamannya yang sama-sama pernah berkompetisi sebagai pembalap.
Begitu pula dengan Erbacher. Ayahnya, Urs, merupakan juara Eropa Top Fuel tiga kali. Sementara Brittany Force adalah putri dari John Force, pemegang 16 gelar juara NHRA drag racing.
Para pembalap perempuan juga telah membuktikan, mereka tetap bisa meraih kesuksesan di Top Fuel setelah memiliki anak.
Callin sempat berhenti membalap selama lebih dari satu dekade untuk membesarkan putri dan anak-anak tirinya. Ketika kembali ke lintasan pada usia 35 tahun, justru saat itulah kariernya mulai berkembang pesat.
Lewatkan content dan terus membaca
Akhir dari content
Hal serupa dialami pembalap asal Finlandia, Anita Mäkelä, yang telah empat kali menjuarai Kejuaraan Eropa. Tiga dari empat gelar tersebut diraihnya setelah ia sempat berhenti selama enam tahun untuk fokus mengurus anak-anaknya sekaligus menjalankan peternakan ayam milik keluarganya.
Bagi Callin, dunia balap sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan keluarganya.
Ayahnya masih menjadi bagian dari timnya. Suaminya, Keith Bartlett, yang kadang dijuluki “godfather of UK drag racing“, mengelola Santa Pod Raceway.
Dua putri mereka bahkan sudah mengendarai mobil dragster junior dengan kecepatan lebih dari 120 kilometer per jam, sebelum cukup umur untuk mengikuti ujian SIM mobil biasa. Putri bungsu mereka, Jacqueline, kini berusia 19 tahun dan sudah berlaga di kelas dewasa.
Meski persaingan di lintasan sangat ketat, budaya di Redaksi para pembalap tetap penuh kerja sama. Hal itu terlihat pada kejuaraan tahun lalu ketika Erbacher menawarkan suku cadang kepada Callin setelah mobilnya mengalami kerusakan.
“Kami saling membenci di garis start, tetapi saling menyayangi di garis finis,” ucap Erbacher.

Ketika ditanya soal keselamatan, Callin dan Erbacher sama-sama mengatakan bahwa mereka selalu memiliki “rasa hormat” terhadap mobil yang mereka kendarai dan risiko yang menyertainya.
Selama bertahun-tahun, prosedur dan aturan ketat dalam Top Fuel terus dikembangkan untuk meningkatkan keselamatan pembalap.
Para pembalap mengenakan pakaian tahan api dan duduk di kokpit yang dilengkapi perlindungan berlapis. Bahkan setelah mengalami kecelakaan hebat, dalam banyak kasus pembalap bisa keluar tanpa cedera serius.
Callin adalah salah satunya. Ia pernah mengalami dua kecelakaan besar, yang membuatnya mengalami gegar otak dan memar pada tulang selangka, tetapi tidak mengalami cedera permanen.
Menurut Callin, kecelakaan serius hanya terjadi dalam “persentase yang sangat kecil”. Meski demikian, ia mengaku masih belum yakin akan merasa tenang jika putrinya ingin mengikuti balap Top Fuel dengan kecepatan ekstrem tersebut.
Erbacher juga mengisahkan bahwa ayahnya awalnya melarangnya membalap. Namun, sang ayah akhirnya mengalah setelah Erbacher mengatakan bahwa ia akan tetap melakukannya, dengan atau tanpa bantuan sang ayah. Kini, ayahnya justru menjadi manajer timnya.
More Than Equal juga menilai hambatan finansial untuk terjun ke drag racing relatif lebih rendah dibandingkan beberapa cabang motorsport lainnya.
Untuk bisa mencapai Formula 1, seorang pembalap membutuhkan biaya hingga jutaan dolar dan dukungan sponsor dalam jumlah besar. Balap drag level elite memang tetap membutuhkan biaya mahal, tetapi tidak sebesar itu.
Di level paling dasar, tersedia ajang balap yang lebih mudah diakses yang disebut “track days“. Dalam ajang ini, peserta bisa datang dan langsung turun ke lintasan menggunakan mobil biasa milik mereka sendiri.

Amerika Serikat, Eropa, dan Australia telah melahirkan sejumlah juara drag racing perempuan. Tetapi, di belahan dunia lainnya, olahraga ini belum terlalu berkembang. Kelas Top Fuel pun masih jarang ditemukan, sehingga kondisi dan peluang bagi pembalap perempuan sangat beragam.
Meski demikian, perempuan mulai menerobos batas di berbagai cabang motorsport. Di sejumlah negara, pembalap perempuan juga mulai membuka ruang bagi diri mereka di dunia drag racing.
Di Brasil, misalnya, perempuan mulai menunjukkan pengaruh dalam skema drag racing yang populer. Salah satunya adalah Fabiola Dal Bo, yang dalam beberapa tahun terakhir pernah memegang rekor di salah satu kelas.
Di Afrika Selatan, sebuah tim bahkan menyelenggarakan balapan drag khusus perempuan. Sementara itu, acara reality show populer The Fastest in Arabic ikut meningkatkan perhatian terhadap pembalap perempuan di Timur Tengah.
Di India, Uvashri Kannadasan Balajeyanthi, 35 tahun, berhasil mengalahkan sejumlah pembalap laki-laki dalam ajang drag racing utama di negara tersebut, Valley Run. Ia meraih kemenangan di tiga kelas berbeda dalam sejumlah perlombaan yang digelar sepanjang 2022 hingga 2024.
Lewatkan content dan terus membaca
Akhir dari content
Ia dikenal dengan julukan Octy Girl, merujuk pada mobil Skoda Octavia yang telah dimodifikasi dan menjadi mobil yang pertama kali digunakannya untuk balapan.
Kepada Redaksi, ia mengaku memiliki “perasaan campur aduk” ketika pencapaiannya justru disambut dengan rasa terkejut.
“Kenapa mereka harus kaget? Siapa pun bisa mengemudi, kan?” ujarnya.
Namun, ia mengaku ada kalanya dirinya merasa bangga.
“Kadang saya merasa bangga… karena saya berhasil menembus batas sebagai perempuan dalam olahraga yang didominasi laki-laki,” katanya.
Sementara itu, kembali ke Eropa, Callin mengatakan menjadi perempuan di lintasan drag racing adalah sesuatu yang “sangat biasa”.
Ia menyebut keberhasilannya menjuarai Kejuaraan Eropa selama dua tahun berturut-turut sebagai “pencapaian yang luar biasa”.
Namun, Callin tidak ingin berhenti sampai di situ. Ia sudah mengincar target berikutnya: menjadi orang pertama—baik laki-laki maupun perempuan—yang berhasil menjuarai Kejuaraan Eropa selama tiga tahun berturut-turut.

- Ini adalah bagian dari seri Global Women dari Redaksi World Service, yang menyajikan kisah-kisah penting dan belum banyak diketahui dari seluruh penjuru dunia.




