Teka teki kematian ilmuwan Rusia di pusat penelitian wabah pes di Siberia – Apa yang diketahui sejauh ini?

Sumber gambar, Smith Collection/Gado/Getty Images, gambar milik CDC
-
- Penulis, Patrick Jackson
-
Telah diterbitkan
-
Waktu membaca: 5 menit
Media Rusia melaporkan pekan lalu bahwa hampir 200 orang yang diketahui pernah melakukan kontak dengan perempuan yang meninggal itu berada dalam pemantauan medis sebagai langkah pencegahan.
Dalam perkembangan terbaru, Presiden Donald Trump mengatakan Amerika Serikat tengah “mencermati dengan sangat serius” kasus seorang teknisi laboratorium Rusia yang meninggal di sebuah pusat penelitian wabah pes di Siberia.
Ketika ditanya apa yang akan dilakukan Washington terkait risiko penyebaran wabah pes dari Rusia, Trump mengatakan dia belum membicarakan hal itu dengan Kremlin.
“Saya prihatin mereka mengalaminya,” katanya, sebelum menambahkan: “Kami akan membantu. Siapa pun yang menghadapi masalah seperti itu, kami akan selalu membantu.”
Menteri Luar Negeri Marco Rubio mengatakan Washington memantau perkembangan kasus tersebut dengan saksama di tengah kekhawatiran bahwa insiden itu dapat menyebabkan penyebaran pes pneumonik.
Namun, ia mengatakan tidak ada alasan untuk khawatir.
Perempuan yang meninggal itu, yang disebut media Rusia bernama depan Daria dan berusia akhir 20-an, baru-baru ini mengunjungi wilayah Buryatia di perbatasan dengan Mongolia.

Sumber gambar, Science Artwork/Science Photo Library/Getty
Gubernur Irkutsk, Igor Kobzev, mengumumkan penyebab kematian perempuan itu sebagai “pneumonia dengan penyebab yang belum diketahui”.
Lewatkan Paling banyak dibaca dan terus membaca
Paling banyak dibaca
Akhir dari Paling banyak dibaca
Ia mengatakan “tidak ditemukan mikroorganisme” yang berkaitan dengan pekerjaannya dalam “sampel biologisnya”.
Rusia pantau ratusan orang yang pernah kontak dengan korban
Gubernur Irkutsk, Igor Kobzev, mengutip badan pengawas perlindungan konsumen dan kesehatan Rusia, Rospotrebnadzor, mengatakan belum ada laporan mengenai staf lain dari lembaga penelitian wabah pes tersebut yang mencari pertolongan medis sejak teknisi laboratorium itu meninggal.
Rospotrebnadzor mengatakan tim keamanan hayati telah memeriksa Institut Anti-Wabah Siberia dan Timur Jauh di Irkutsk dan tidak menemukan situasi darurat di sana.

Sumber gambar, Getty
Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov meminta masyarakat agar tidak “mendengarkan berbagai rumor”, melainkan “berpegang pada pernyataan resmi Rospotrebnadzor”.
Media Rusia melaporkan pekan lalu bahwa hampir 200 orang yang diketahui pernah melakukan kontak dengan perempuan yang meninggal itu berada dalam pemantauan medis sebagai langkah pencegahan.
Menlu AS: ‘Kami terus mengawasi’
Ketika seorang wartawan meminta “perkembangan terbaru mengenai dugaan kasus pes di Rusia”, Menteri Luar Negeri Marco Rubio mengatakan:
“Tampaknya ada seorang pekerja di laboratorium yang terinfeksi dan ada kekhawatiran bahwa infeksi itu mungkin telah menyebar, setidaknya secara internal. Kita telah melihat mereka melakukan karantina dan langkah-langkah semacam itu.
“Jika sesuatu seperti ini menyebar ke luar, penyakit itu bisa dengan cepat meluas. Jadi, kami mengawasi dan memantaunya dengan saksama. Saya rasa ini bukan alasan untuk panik, tetapi memang perlu mendapat perhatian dan terus diawasi, dan itulah yang sedang kami lakukan.”

Sumber gambar, EPA
Apa kaitan dengan pandemi ‘Black Death’ pada abad ke-14?
Bakteri penyebab pes, atau Yersinia pestis, yang menewaskan hingga separuh populasi Eropa pada abad ke-14 ketika wabah itu dikenal sebagai Black Death, ditemukan pada hewan pengerat seperti marmot di wilayah tersebut.
Institut Anti-Pes Siberia dan Timur Jauh didirikan lebih dari 100 tahun lalu sebagai respons terhadap wabah yang terjadi pada dekade 1920-an.
Baca juga:

Sumber gambar, Oxford Science Archive/Print Collector/Getty Images
Dr Simon Clarke, profesor madya mikrobiologi seluler di University of Reading, mengatakan kepada program PM di Redaksi Radio 4 bahwa pes pneumonik yang disebabkan oleh Yersinia pestis hampir selalu berakibat fatal jika tidak diobati, tetapi dapat ditangani dengan antibiotik.
“Pes pneumonik dapat menular dari orang ke orang dan itulah yang menimbulkan kekhawatiran,” katanya.
Kemungkinan digunakan sebagai senjata biologis?
Namun, dia menambahkan: “Tentu saja, setiap kali terjadi wabah penyakit menular, pikiran orang langsung tertuju pada… karantina wilayah dan Covid. Namun, bukan itu yang akan terjadi dalam kasus ini.”
“Orang-orang berpikir, ‘Oh, pes, penyakit itu sudah hilang, sudah lenyap ratusan tahun lalu,’ tetapi kenyataannya tidak demikian,” kata Clarke.
“Penyakit ini masih ada dan di sejumlah wilayah di dunia, penyakit ini menjadi ancaman bagi kesehatan manusia. Itulah sebabnya penyakit ini perlu diteliti.”
Ketika ditanya apakah patogen tersebut mungkin diteliti untuk kemungkinan digunakan sebagai senjata biologis, Clarke mengatakan hal itu mungkin saja.
“Karena ini terjadi di Rusia, pikiran orang mengarah ke sana, tetapi saya kira penjelasan saya sebelumnya lebih mungkin,” kata Clarke.






