Jakarta (Redaksi) – Mi instan menjadi salah satu makanan yang praktis dan mudah ditemukan. Tinggal direbus beberapa menit, tambahkan bumbu, lalu mi siap disantap.
Namun, di balik kepraktisannya, muncul pertanyaan lain, sebenarnya apa yang terjadi pada usus setelah seseorang makan mi instan?
Usus memiliki peran penting dalam sistem pencernaan. Setelah makanan melewati lambung, usus halus melanjutkan proses pencernaan sekaligus menyerap sebagian besar zat gizi. Sementara itu, usus besar berperan menyerap air dan membentuk feses.
Karena itu, jenis makanan yang dikonsumsi, termasuk seberapa banyak serat di dalamnya, dapat memengaruhi kerja saluran pencernaan.
Ada anggapan kalau mi instan bisa menempel di dinding usus atau meninggalkan sisa yang sulit dikeluarkan tubuh.
Anggapan tersebut tidaklah tepat.
Mi instan tetap diproses melalui sistem pencernaan seperti makanan lainnya. Setelah melewati lambung, komponen makanan masuk ke usus halus untuk dicerna dan diserap. Sisa yang tidak diserap kemudian bergerak menuju usus besar dan pada akhirnya dikeluarkan sebagai feses.
Jadi, tidak ada proses mi instan yang kemudian “menempel” di usus selama berhari-hari.
Yang lebih penting justru adalah komposisi makanan tersebut dan pola makan secara keseluruhan.
Baca juga: Saat mi instan Indonesia bikin warga Korea ketagihan di ajang ramyeon
Serat menjadi bagian penting
Salah satu hal yang perlu diperhatikan ketika membicarakan mi instan dan kerja usus adalah kandungan serat.
Serat tidak dicerna seperti karbohidrat, protein atau lemak. Sebagian jenis serat dapat membantu menambah volume feses dan membuatnya lebih mudah melewati saluran pencernaan.
Menurut National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK), konsumsi makanan dengan serat yang cukup serta minum cairan yang memadai dapat membantu mencegah dan meredakan sembelit. Sebaliknya, makanan yang sedikit atau hampir tidak mengandung serat dapat menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan pada orang yang mengalami konstipasi.
Mi instan sendiri umumnya bukan sumber serat yang tinggi. Masalahnya bisa muncul ketika mi instan menggantikan makanan lain yang sebenarnya kaya serat, seperti sayuran, buah, kacang-kacangan dan biji-bijian.
Jadi, persoalannya bukan karena mi instan “merusak” usus, tapi bisa membuat pola makan keseluruhan menjadi rendah serat.
Baca juga: Mitos atau fakta? Mi instan penyebab usus buntu, ini penjelasannya
Bagaimana dengan bakteri baik di usus?
Di dalam usus terdapat triliunan mikroorganisme yang dikenal sebagai mikrobiota usus. Mereka berinteraksi dengan makanan yang kita konsumsi dan ikut berperan dalam berbagai proses di tubuh.
Serat dari makanan, misalnya, dapat menjadi sumber makanan bagi sebagian mikroorganisme di usus. Penelitian yang dilakukan NIDDK menunjukkan bahwa pola makan yang lebih banyak menyediakan serat dan makanan minim proses dapat mengubah komposisi serta fungsi mikrobiota usus dibandingkan pola makan yang lebih rendah serat dan lebih banyak makanan olahan.
Karena itu, jika seseorang terlalu sering mengonsumsi makanan rendah serat sementara jarang makan sayur, buah dan sumber serat lainnya, asupan yang dibutuhkan mikrobiota usus juga bisa menjadi lebih terbatas.
Namun, belum tepat jika langsung dikatakan bahwa makan mi instan sesekali akan membuat bakteri baik di usus berkurang secara drastis.
Sebuah penelitian terhadap 224 perempuan dewasa di Jepang menemukan adanya hubungan Redaksi konsumsi ramen dan keragaman mikrobiota usus. Kelompok dengan konsumsi ramen lebih tinggi memiliki keragaman mikrobiota yang lebih rendah dan asupan serat yang juga lebih rendah.
Namun, penelitian tersebut bersifat cross-sectional, sehingga hanya menunjukkan hubungan dan tidak dapat membuktikan bahwa konsumsi ramen secara langsung menyebabkan perubahan mikrobiota usus.
Hal ini penting karena kondisi mikrobiota usus tidak hanya ditentukan oleh satu jenis makanan. Pola makan secara keseluruhan, aktivitas fisik, usia, kondisi kesehatan dan berbagai faktor lainnya juga dapat berpengaruh.
Baca juga: Yang bisa terjadi bila konsumsi mi instan berlebih
Bisa membuat BAB tidak lancar?
Jika mi instan dikonsumsi terlalu sering dan tidak diimbangi makanan berserat, seseorang bisa saja mendapatkan asupan serat yang lebih rendah.
Dalam kondisi tersebut, terutama jika asupan cairan juga kurang, feses dapat menjadi lebih keras dan buang air besar menjadi kurang lancar.
Tetapi, sekali lagi, bukan berarti makan satu porsi mi instan otomatis menyebabkan sembelit.
Pengaruhnya lebih berkaitan dengan pola makan secara keseluruhan. Jika seseorang makan mi instan sesekali tetapi tetap rutin mengonsumsi sayuran, buah, kacang-kacangan dan cukup minum, kondisinya tentu berbeda dengan orang yang hampir setiap hari mengandalkan mi instan dan jarang mengonsumsi sumber serat.
Pada orang yang memiliki gangguan pencernaan tertentu, efeknya juga bisa terasa berbeda. Sebuah penelitian pada orang dewasa Korea dengan sindrom iritasi usus besar atau IBS, misalnya, menemukan bahwa mi instan termasuk makanan yang cukup sering dilaporkan memicu gejala. Penelitian tersebut mengaitkannya dengan karakteristik makanan yang tinggi lemak dan mengandung gluten, tetapi hasilnya tetap perlu dipahami dalam konteks kondisi masing-masing individu.
Baca juga: Tips konsumsi mi instan kuah dengan modifikasi bumbu dan lauk
Membahas efek mi instan terhadap usus bukan berarti seseorang harus menghindarinya sepenuhnya.
Mi instan tetap bisa menjadi bagian dari pola makan, terutama jika dikonsumsi sesekali dan dilengkapi dengan bahan makanan lain.
Cara sederhananya adalah menambahkan sayuran dan sumber protein seperti telur, ayam, ikan atau tahu. Buah juga dapat dikonsumsi pada waktu makan yang berbeda untuk membantu memenuhi kebutuhan serat harian.
Porsi dan frekuensi konsumsi juga perlu diperhatikan. Jika mi instan sudah menjadi menu hampir setiap hari, ada baiknya mulai menggantinya secara berkala dengan makanan yang lebih beragam.
Konsumsi mi instan sesekali tidak serta-merta membuat usus bermasalah. Namun, jika mi instan terlalu sering menggantikan makanan kaya serat dan pola makan menjadi kurang beragam, kebutuhan sistem pencernaan dan mikrobiota usus bisa tidak terpenuhi secara optimal.
Jadi, yang perlu diperhatikan bukan sekadar “boleh atau tidak makan mi instan”, tetapi apa yang dimakan bersama mi instan, seberapa sering dikonsumsi, serta bagaimana pola makan sehari-hari secara keseluruhan.
Baca juga: Bolehkah makan mi instan setiap hari? Simak penjelasan Kemenkes
Baca juga: Mi instan mengendap berhari-hari di lambung? Ini faktanya
Pewarta: Raihan Fadilah
Editor: Suryanto
Copyright © Redaksi 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita Redaksi.