Kala Istana-DPR Bantah Kritik Dino soal Lawatan Prabowo

REAKSI pemerintah atas kritik yang disampaikan mantan Wakil Menteri Luar Negeri Dino Patti Djalal ihwal kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke luar negeri menuai sorotan. Penyebabnya sikap pemerintah dinilai tidak akomodatif terhadap kritik dan malah menyerang legitimasi Dino.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Dino Patti Djalal yang merupakan pendiri Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) sebelumnya menyoroti frekuensi perjalanan luar negeri Presiden Prabowo Subianto. Dino mencatat selama menjabat presiden, Prabowo menghabiskan satu dari total enam harinya di luar negeri. Sehingga ia tak heran kalau ada yang menyebut perjalanan dinas luar negeri ini tidak lazim. 

Menurut Dino, gaya diplomasi tersebut tidak efisien. “Kunjungan kepala negara ke luar negeri memakan biaya yang besar dan bahkan sangat besar,” ujar Dino dalam unggahan video di Instagram miliknya, @dinopattidjalal,

Ia lantas merekomendasikan lima saran kepada Presiden yakni menjaga komunikasi dengan pemimpin dunia lain melalui daring, memanfaatkan suatu forum internasional untuk bertemu kepala negara agar hemat biaya dan waktu, melakukan perencanaan dengan tujuan yang jelas sebelum melawat, menerima lebih banyak tamu di tanah air ketimbang melakukan perjalanan ke luar negeri, dan meminta agar sebagian besar misi diplomatik yang bersifat taktis dapat dioper ke Menteri Luar Negeri Sugiono

Dalam kritik tersebut, Dino juga mengungkap bahwa Prabowo kerap tidak merespons permintaan kepala negara saat sedang menghadiri forum internasional. Dino bercerita, konon, sewaktu menghadiri sidang PBB di New York tahun lalu, Presiden Finlandia Alexander Stubb, meminta waktu untuk bertemu dengan Presiden Prabowo di New York, tapi tidak pernah direspons.

Salah satu klarifikasi datang dari Sekretaris Kabinet Letnan Kolonel TNI Teddy Indra Wijaya. Ia membuat video klarifikasi berdurasi 6 menit 44 detik untuk membela Prabowo. Selain itu, pembelaan juga dilakukan oleh Ketua Komisi III DPR yang juga Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Habiburokhman. 

Berikut poin-poin pembelaan Istana dan pendukung Prabowo atas kritik Dino:

Teddy Singgung Rekam Jejak Dino

Dalam pernyataannya, Teddy menyinggung rekam jejak Dino Patti Djalal yang pernah menjabat Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu). “Terima kasih atas masukan yang telah diberikan, sangat cermat dan terstruktur. Saya pikir beliau adalah diplomat hebat, pernah menjadi Wakil Menteri Luar Negeri, walau hanya diberi kesempatan sekitar 3 bulan,” tutur Teddy dalam video yang diunggah di akun @sekretariat.kabinet pada Selasa, 2 Juni 2026. 

Gaya komunikasi Teddy dalam klarifikasi tersebut sontak menuai kritik. Warganet menilai ucapan Teddy yang menekankan masa tiga bulan jabatan Dino tampak seperti tengah merendahkan diplomat ulung tersebut, alih-alih fokus pada substansi kritik. 

Selain itu, Teddy mengatakan lawatan Prabowo ke luar negeri untuk membangun kedekatan emosional dengan berbagai pemimpin dunia secara langsung. Teddy mengatakan bahwa setiap pemimpin negara semestinya menjalin hubungan yang dekat dengan pemimpin negara lainnya. “Kita tidak bisa hanya mengandalkan saat krisis baru kita minta bantuan. Tidak, kita harus panen hubungan yang baik,” ujar dia.

Dia pun memaparkan klaim beberapa hasil diplomasi Prabowo selama lebih dari 19 bulan menjabat sebagai presiden. Salah satunya, Teddy menyinggung bergabungnya Indonesia dalam kelompok negara BRICS. Adapun BRICS merupakan kelompok negara berkembang utama yang berfungsi sebagai forum kerja sama ekonomi, politik, hingga keamanan. 

Keberhasilan lainnya, klaim Teddy, yakni kesepakatan perdagangan dengan Uni Eropa yang memberikan tarif 0 persen untuk berbagai produk Indonesia. Dia juga mengklaim aliran investasi senilai sekitar Rp 2.430 triliun masuk ke RI dalam 1,5 tahun terakhir dan Indonesia mampu membebaskan warga negara Indonesia yang sempat ditahan militer Israel di laut bebas. 

Habiburokhman Balik Kritik Dino Patti Djalal

Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Habiburokhman balik mengkritik pernyataan yang disampaikan mantan Wakil Menteri Luar Negeri Dino Patti Djalal. Dia menyebut model komunikasi yang dilakukan Dino tak tepat karena memancing publik untuk membandingkan periode pemerintahan. “Zamannya Pak Dino sehebat apa sih? Kok sekarang seakan menjadi orang yang paling sok Kemlu,” kata Habiburokhman di Kompleks DPR, MPR, dan DPD, Selasa, 2 Juni 2026.

Menurut dia, sebagai figur yang pernah menjabat sebagai Wakil Menteri Luar Negeri, Dino semestinya tetap memprioritaskan etika dan penghormatan ketika menyampaikan pendapat. Dia mencontohkan, dalam konteks negara yang lebih tinggi seperti Amerika Serikat misalnya, mantan presiden seperti George Bush tak pernah mengkritik presiden berikutnya, yakni Barrack Obama ketika menjabat.

Dalam konteks Indonesia, dia melanjutkan, para pimpinan di Komisi III DPR seperti Bambang Pacul hingga Benny Harman juga tak pernah menyerang dirinya yang saat ini menjabat sebagai Ketua Komisi III DPR. “Saya pikir tidak ada istimewanya Pak Dino. Semua orang sama, warga negara,” ujar Habiburokhman.

PDIP Dukung Dino Patti

Ketua Dewan Pimpinan Pusat Bidang Keanggotaan dan Organisasi PDIP, Andreas Hugo Pareira, menyoroti sikap pemerintah ketika menanggapi kritik yang disampaikan mantan Wakil Menteri Luar Negeri Dino Patti Djalal. 

Wakil Ketua Komisi XIII DPR itu mengatakan, pemerintah memang memiliki hak untuk menjawab, termasuk dengan menyiapkan substansi dalam menanggapi kritik. Namun, alangkah baiknya persoalan kunjungan luar negeri dijawab oleh Kementerian Luar Negeri selaku kementerian teknis.

“Sehingga, masyarakat tahu bagaimana kerja dan kinerja dunia diplomasi politik luar negeri Indonesia,” kata Andreas di Kompleks DPR, MPR, dan DPD, Senin, 1 Juni 2026.

Menurut dia, apa yang disampaikan Dino kepada Presiden Prabowo Subianto, sejatinya merupakan vitamin yang bertujuan membangun jalan pemerintahan lebih baik. Ia pun berpendapat latar belakang Dino Patti Djalal juga layak dipertimbangkan. Sebab, mantan Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat ini dikenal sebagai figur yang kenyang pengalaman dalam bidang diplomasi luar negeri.

Ervana Trikanaputri, Andi Adam dan Eka Yudha Saputra berkontribusi dalam penulisan artikel ini. 
  • Related Posts

    AHY Ajak Diaspora Indonesia di Rusia Kolaborasi untuk Pembangunan Nasional

    Jakarta – Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) mengajak diaspora Indonesia di Federasi Rusia untuk mengambil peran lebih aktif. Yakni dalam mendukung pembangunan nasional melalui…

    Kapolres OKI Resmikan Jembatan Merah Putih Penghubung Akses Vital Warga Sumsel

    Jakarta – Polda Sumatera Selatan kembali menunjukkan komitmennya dalam mendukung pembangunan nasional melalui peresmian Jembatan Merah Putih di Desa Pematang Buluran, Kecamatan SP Padang, Kabupaten Ogan Komering Ilir. Jembatan tersebut…

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *