Jakarta –
KPK menggelar upacara peringatan Hari Lahir Pancasila pagi ini di halaman Gedung Merah Putih KPK, Jalan Kuningan Persada Kavling 4, Kuningan, Jakarta Selatan (Jaksel). Dalam upacara tersebut, Wakil Ketua KPK Johanis Tanak bertindak sebagai inspektur upacara dan menyampaikan pidato dari Kepala BPIP Yudian Wahyudi.
Tanak mengajak ari Pancasila menjadi momentum refleksi nilai-nilai luhur dari Pancasila. Ia menyebut bahwa lima sila tidak sekadar relevan untuk menjaga keutuhan bangsa Indonesia, namun juga menjadi jawaban terciptanya perdamaian dunia yang abadi.
“Sebagai bangsa yang besar, kita terus menunjukkan kepemimpinan nyata. Kontribusi pasukan perdamaian Indonesia di bawah bendera Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB), peran kita dalam mediasi konflik regional, serta konsistensi kita dalam menyuarakan keadilan bagi bangsa-bangsa terjajah adalah pengejawantahan dari sila kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab,” ucap Tanak saat menyampaikan pidato dalam upacara, Senin (1/6/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Masih mengutip pidato BPIP, Tanak menerangkan Indonesia ingin perdamaian tetap terus terjaga, maksudnya yakni hadirnya keadilan bagi seluruh manusia. “Kita ingin dunia melihat bahwa perdamaian bukan sekadar ketiadaan perang, melainkan hadirnya keadilan bagi seluruh umat manusia,” imbuhnya.
Sementara itu Jubir KPK Budi Prasetyo menyampaikan pihaknya sebagai lembaga negara memandang Hari Lahir Pancasila sebagai pengingat. Maksudnya adalah Pancasila juga merupakan fondasi moral dalam membangun tata kelola pemerintahan yang bersih dan berintegritas.
KPK, kata Budi, menilai langkah pemberantasan korupsi merupakan wujud dari nilai-nilai yang ada pada Pancasila. “Pemberantasan korupsi pada hakikatnya merupakan wujud nyata pengamalan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” ungkapnya.
Dia menjelaskan, tindakan korupsi bertentangan dengan sila pertama yakni Ketuhanan Yang Maha Esa. Nilai ketuhanan dalam kacamata KPK, mengajarkan kejujuran, amanah, dan tanggung jawab.
Sebabnya korupsi dinilai bertentangan dengan nilai dasar Pancasila karena korupsi lahir dari penyalahgunaan kepercayaan dan pengabaian terhadap nilai-nilai moral yang seharusnya menjadi pedoman setiap penyelenggara negara.
“KPK memandang bahwa memperingati Hari Lahir Pancasila tidak cukup hanya melalui seremonial, tetapi juga dengan memperkuat komitmen kolektif untuk menanamkan nilai integritas dalam setiap aspek kehidupan,” tutur Budi.
“Semakin kuat nilai-nilai Pancasila diimplementasikan dalam penyelenggaraan negara maupun kehidupan sehari-hari, semakin kecil ruang bagi korupsi untuk tumbuh dan berkembang,” imbuhnya.
(kuf/aud)





