INFO TEMPO – Hari Raya Idul Adha bukan sekadar momentum ritual tahunan, melainkan ruang spiritual untuk memperkuat kualitas keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT. Ibadah qurban mengajarkan kepada kita semua bahwa keimanan sejati tidak hanya diukur dari ucapan, tetapi juga dari kesediaan untuk berkorban, berbagi, dan menempatkan kepentingan umat di atas kepentingan pribadi.
Kisah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS, memberikan pelajaran penting tentang kepatuhan, keikhlasan, dan totalitas penghambaan kepada Allah SWT. Dalam konteks kehidupan berbangsa, nilai-nilai berqurban perlu diterjemahkan menjadi semangat solidaritas sosial, gotong royong, serta kepedulian terhadap masyarakat yang membutuhkan.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Di tengah berbagai tantangan ekonomi dan ketahanan pangan global, semangat berqurban juga mengingatkan kita bahwa kekuatan Bangsa dibangun melalui kepedulian dan distribusi kesejahteraan yang merata. Daging qurban yang dibagikan kepada masyarakat bukan hanya simbol ibadah, tetapi juga wujud nyata keadilan sosial dan empati kemanusiaan.
Oleh karena itu, momentum Idul Adha hendaknya menjadi penguat optimisme dan persaudaraan kebangsaan. Semangat berbagi harus terus dirawat agar tercipta masyarakat yang kuat secara spiritual, kokoh secara sosial, dan tangguh menghadapi berbagai tantangan.
Saya mengajak kepada seluruh masyarakat, menjadikan ibadah qurban sebagai sarana untuk memperkuat iman, mempererat ukhuwah, serta menumbuhkan kepedulian terhadap sesama, demi terwujudnya Indonesia yang lebih adil, makmur, dan penuh keberkahan.
Penulis : Muhamad Mardiono
Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan, Utusan Khusus Presiden Bidang Ketahanan Pangan. (*)





