INFO TEMPO – Kasih Ibu Hospital Group kembali memperkuat ekosistem digitalnya melalui kolaborasi strategis dengan Privy. Kasih Ibu Hospital kini mengintegrasikan teknologi Tanda Tangan Elektronik (TTE) tersertifikasi ke dalam Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMRS) guna mengoptimalkan seluruh proses administrasi internal dan operasional.
Langkah ini menegaskan komitmen Kasih Ibu Hospital dalam menghadirkan layanan kesehatan yang modern, aman, dan efisien secara menyeluruh. Institusi kesehatan ini juga membuktikan konsistensi untuk berada di barisan terdepan transformasi digital—terbukti dengan pencapaian EMRAM (Electronic Medical Record Adoption Model) Level 6 pada tahun lalu.
Jika sebelumnya digitalisasi telah matang di sisi pelayanan klinis, integrasi dengan Privy ini menyempurnakan sisi administrasi dan tata kelola dokumen operasional, seperti proses pengadaan (procurement) alat kesehatan dan obat-obatan, sehingga memiliki kekuatan hukum dan kecepatan yang setara dengan layanan medisnya.
Sebelum dilaksanakannya penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU), Kasih Ibu Hospital telah terlebih dahulu mengimplementasikan layanan Privy dalam berbagai proses administrasi internal rumah sakit. Penggunaan teknologi Tanda Tangan Elektronik (TTE) tersertifikasi tersebut telah berjalan dan memberikan dampak positif, khususnya dalam mempercepat proses persetujuan dokumen, meningkatkan efisiensi kerja lintas departemen, serta mengurangi penggunaan dokumen fisik.
Pada Rabu, 13 Mei 2026, dilakukan penandatanganan MoU secara elektronik di Denpasar, Bali, oleh Direktur PT Kasih Medikatama, dr. I Gusti Ngurah Rai dan Bara Sakti Walandouw selaku Vice President Business Development Privy. MoU ini menjadi bentuk penguatan dan perluasan kolaborasi strategis yang sebelumnya telah berjalan dengan baik.
I Gusti Ngurah Rai menuturkan, langkah ini merupakan kelanjutan alami dari peta jalan digital rumah sakit. “Pencapaian EMRAM Level 6 tahun lalu adalah bukti bahwa digitalisasi sudah menjadi DNA di Kasih Ibu Hospital,” kata dia.
Kolaborasi dengan Privy ini, lanjut dia, bukan sekadar digitalisasi dokumen, melainkan upaya untuk terus meningkatkan efisiensi operasional yang selama ini sudah berjalan baik. “Dengan integrasi ini, koordinasi dengan mitra vendor dan administrasi internal menjadi jauh lebih tangkas (agile), aman secara hukum, dan transparan, tanpa mengesampingkan standar keamanan data yang ketat,” kata dia.
Integrasi Privy ke dalam SIMRS Kasih Ibu Hospital memungkinkan seluruh alur persetujuan dokumen dilakukan dalam satu pintu digital. Hal ini mengeliminasi hambatan logistik fisik dalam proses administrasi, sehingga manajemen dapat fokus lebih besar pada peningkatan kualitas pelayanan pasien.
Vice President Business Development Privy, Bara Sakti Walandouw, menuturkan, kolaborasi ini merupakan bagian dari komitmen Privy dalam memperluas ekosistem kepercayaan digital atau digital trust di sektor kesehatan, khususnya di luar Pulau Jawa.
“Sektor kesehatan memiliki kebutuhan yang sangat tinggi terhadap sistem administrasi yang cepat, aman, dan terpercaya. Terlebih, Bali sebagai wilayah strategis karena fasilitas kesehatannya dituntut untuk memberikan layanan yang efisien bukan hanya bagi masyarakat lokal tetapi juga wisatawan. Digitalisasi proses administrasi yang dapat diintegrasikan ke sistem SIMRS seperti Privy menjadi fondasi penting dalam meningkatkan kualitas layanan kesehatan secara keseluruhan, dalam hal ini termasuk untuk proses pengadaan bagi Kasih Ibu Hospital Bali,” kata Bara.
Kepercayaan digital atau digital trust, kata Bara, bukan hanya soal menyediakan tanda tangan elektronik, namun juga memastikan setiap transaksi dan persetujuan dalam rantai operasional rumah sakit – dari pengadaan hingga kontrak vendor – memiliki landasan keamanan dan legalitas yang kokoh.
“Privy dilengkapi dengan proses verifikasi identitas berstandar global serta jaminan Certificate Warranty hingga Rp 1 miliar untuk melindungi pengguna dari kerugian akibat dokumen yang ditandatangani dengan Sertifikat Privy yang terbukti tidak asli. Dengan begitu, interaksi dan transaksi pada dokumen digital ditandatangani di Privy memiliki jaminan yang memastikan rasa aman dan nyaman bagi seluruh pihak, baik bagi klien dan counterparts-nya,” ujar Bara.
Sebagai penyelenggara sertifikasi elektronik (PSrE) yang telah berinduk ke Kementerian Komunikasi dan Digital Indonesia, Privy telah berperan aktif dalam mendorong digitalisasi di sektor kesehatan. Solusi Privy telah digunakan oleh berbagai perusahaan dari berbagai bidang usaha termasuk perusahaan kesehatan dan asuransi ternama seperti Prudential, Allianz, Zurich, dan AXA.
Adapun saat ini Privy memiliki lebih dari 71 juta pengguna terverifikasi dan telah digunakan lebih dari 200.000 perusahaan dan institusi di Indonesia, serta telah memproses lebih dari 112 juta dokumen elektronik. Pada Kuartal-I tahun 2026, Privy turut mencatat peningkatan 250 persen setara 30 juta jumlah tanda tangan elektronik dibandingkan pada Kuartal-I 2025, yang mencerminkan tingginya adopsi solusi digital di berbagai sektor, termasuk kesehatan. (*)






