Dari Panggung Kompetisi Menuju Ekosistem Perumahan

INFO TEMPO – Presentasi itu berlangsung tanpa banyak basa-basi. Waktu terbatas, pertanyaan juri tajam, dan setiap peserta tahu bahwa yang mereka bawa bukan sekadar konsep, melainkan jawaban atas persoalan yang sudah lama berulang: rumah yang belum terjangkau, akses yang belum merata, dan kualitas hunian yang belum sepenuhnya menjawab kebutuhan.

Satu demi satu, ide dipaparkan. Ada yang berbicara tentang kecerdasan buatan untuk mendeteksi risiko banjir, ada yang menawarkan pendekatan baru dalam pengembangan rumah subsidi, dan tak sedikit yang mengusulkan model bisnis berbasis kolaborasi lintas sektor. Mereka datang dari latar belakang berbeda, ada mahasiswa, pengembang, hingga masyarakat umum namun memiliki satu kesamaan: keinginan untuk terlibat dalam solusi. Dan di situlah BTN Housingpreneur menemukan relevansinya.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Program yang diinisiasi oleh PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk ini berkembang menjadi lebih dari sekadar ajang kompetisi tahunan. Dalam penyelenggaraan 2024 hingga 2025, BTN Housingpreneur menjelma menjadi ruang temu yang menghubungkan kebutuhan besar sektor perumahan dengan gagasan-gagasan baru yang sebelumnya berjalan sendiri-sendiri.

Direktur Utama BTN, Nixon LP Napitupulu, menyampaikan bahwa langkah ini tidak berdiri sendiri. Ia menjadi bagian dari komitmen yang lebih besar dalam mendukung agenda pemerintah.

“BTN berkomitmen untuk mendukung pemerintah yakni Program 3 Juta Rumah,” kata Direktur Utama BTN, Nixon LP Napitupulu. Salah satu upaya yaitu melalui penyelenggaraan BTN Housingpreneur yang sudah berlangsung selama dua tahun.

Alih-alih hanya memperbesar kapasitas pembiayaan, BTN memilih masuk lebih awal ke wilayah di mana ide-ide itu lahir. Ajang kompetisi tahunan ini dihadirkan untuk mendukung dan memberdayakan wirausaha di sektor perumahan. Selain itu, melalui ajang ini, para generasi muda diajak untuk berkreasi dan menciptakan inovasi untuk solusi hunian masa depan. Kemudian, mereka ditantang untuk mempresentasikan ide dan bisnis inovatif dihadapan para juri.

Mengurai Simpul di Industri Perumahan

Apa yang terlihat di BTN Housingpreneur sebenarnya berangkat dari kegelisahan yang sederhana. Kebutuhan hunian layak di Indonesia masih jauh dari terpenuhi, sementara dinamika perkotaan terus bergerak cepat. Harga tanah meningkat, tekanan lingkungan membesar, dan kesenjangan akses semakin terasa.

Dalam situasi seperti itu, solusi tidak lagi bisa datang dari satu pihak saja. BTN tampaknya membaca celah tersebut. Melalui Housingpreneur, mereka mencoba menarik lebih banyak aktor untuk terlibat, tidak hanya sebagai pengguna atau pelaksana, tetapi sebagai pencipta solusi.

Peserta yang terlibat pun mencerminkan pendekatan ini. Mereka berasal dari berbagai latar belakang: mahasiswa, masyarakat umum, pengembang, hingga pengusaha yang telah memiliki bisnis berjalan. BTN kemudian membaginya ke dalam beberapa kategori, mulai dari business ideation hingga established business.

Pembagian ini membuat ruang kompetisi menjadi lebih inklusif. Mahasiswa dengan ide sederhana bisa berdiri di panggung yang sama dengan pengembang berpengalaman. Perbedaan bukan menjadi penghalang, melainkan justru memperkaya perspektif.

“Tujuannya untuk menciptakan ekosistem perumahan yang inovatif, berkelanjutan, dan inklusif,” kata Nixon.

Di sini, kata “ekosistem” menjadi kunci. BTN tidak hanya mencari ide terbaik, tetapi mencoba membangun hubungan antar pelaku yang selama ini berjalan sendiri-sendiri.

Industri perumahan di Indonesia bukan tanpa masalah. Selain persoalan klasik seperti keterjangkauan dan ketersediaan lahan, ada satu isu yang sering luput dibahas: keterputusan antar pelaku.

Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu (kiri) meninjau salah satu karya peserta di BTN Housingpreneur 2025. Dok. BTN

Developer membangun rumah, tetapi tidak selalu memiliki akses distribusi yang kuat. Di sisi lain, masyarakat yang membutuhkan rumah justru kesulitan menemukan produk yang sesuai. Informasi tidak terhubung, pasar tidak transparan, dan peluang sering kali hilang di tengah jalan.

Direktur Risk Management BTN, Setiyo Wibowo, melihat persoalan ini sebagai tantangan mendasar. “Banyak developer memiliki produk bagus tapi belum tahu menjual ke siapa. Begitu pula dengan pembeli yang bingung mencari rumah atau developer yang tepat,” ujarnya.

BTN Housingpreneur mencoba menjawab persoalan tersebut dengan cara yang tidak langsung, tetapi strategis. Program ini menjadi titik temu, mempertemukan ide dengan jaringan, inovasi dengan pasar, dan pelaku baru dengan pemain lama.

Peserta yang berhasil menonjol tidak berhenti sebagai pemenang. Mereka dibawa masuk ke dalam ekosistem BTN, diperkenalkan kepada mitra, dan diberi akses untuk mengembangkan ide mereka lebih jauh.

“Pemenang BTN Housingpreneur nantinya akan terhubung dengan ekosistem kami termasuk akan dibimbing agar ide mereka tak hanya kreatif, tapi juga layak dibiayai perbankan,” kata Setiyo.

Proses ini dilanjutkan dengan program inkubasi selama tiga bulan. Di fase ini, ide diuji dari sisi yang lebih praktis: apakah bisa dijalankan, apakah memiliki model bisnis yang jelas, dan apakah memenuhi standar pembiayaan.

Ketika Ekosistem Menjadi Nilai

Dalam banyak kompetisi, hadiah sering kali menjadi daya tarik utama. Namun dalam BTN Housingpreneur, nilai terbesar justru terletak pada akses.

Corporate Secretary BTN, Ramon Armando, menyebut program ini sebagai gerakan untuk melahirkan wirausaha baru di sektor perumahan. Pernyataan itu terlihat nyata dari bagaimana peserta memaknai ajang ini.

Salah satu peserta BTN Housingpreneur sedang menjelaskan inovasi produknya kepada pengunjung. Dok. BTN

Ryan Maurice Talullah, Founder Bardi Smart Home yang juga Anggota Dewan juri BTN Housingpreneur, melihat bahwa motivasi peserta telah berubah.

“Mereka berharap masuk ke dalam ekosistem BTN dan bisa mendapatkan orderan dari developer-developer yang sudah kerja sama bertahun-tahun,” ujarnya.

Zamzam Multazam dari PT Inovasi Tangguh Bencana menunjukkan produk coating bernama Proteka untuk menurunkan risiko kerusakan pada bangunan akibat gempa bumi. Dok. BTN

Pernyataan ini menunjukkan bahwa yang dicari bukan lagi sekadar pengakuan atau hadiah finansial. Yang dicari adalah pintu masuk ke jaringan, pasar, dan peluang yang lebih besar. Dalam konteks industri yang kompleks seperti perumahan, akses seperti ini memang tidak mudah didapat.

Salah satu kekuatan BTN Housingpreneur terletak pada relevansi ide yang muncul. Banyak peserta tidak hanya datang dengan konsep yang menarik, tetapi juga dengan pemahaman yang cukup dalam tentang persoalan di lapangan.

Ali Sulas Hidayat, misalnya, menghadirkan GeoFloodAI, alat analitik untuk mendeteksi potensi banjir. Di tengah meningkatnya risiko bencana, pendekatan ini terasa kontekstual, terutama bagi pengembang yang harus mempertimbangkan aspek keamanan dalam perencanaan kawasan.

Ali sendiri menyadari bahwa ide tidak bisa berjalan sendiri. Ia membutuhkan kolaborasi dengan pelaku industri. “Biar tidak salah memutuskan ketika membangun project,” katanya.

Dari kategori established business, Halbert Kurniadi membawa proyek Mulia Gading Kencana. Proyek ini menunjukkan bahwa inovasi tidak selalu berbentuk teknologi canggih, tetapi juga bisa berupa pendekatan yang lebih terstruktur dalam pengembangan rumah subsidi. “Kami harap program ini dapat terus berlanjut di tahun-tahun ke depan,” ujarnya.

Sementara itu, Zamzam Multazam menawarkan Proteka, solusi untuk menurunkan risiko saat bencana terjadi. Gagasan ini memperluas cara pandang tentang hunian, dari sekadar tempat tinggal menjadi bagian dari sistem perlindungan. “Keberanian menyelesaikan masalah di masyarakat itu artinya kemenangan,” kata Zamzam.

Mendorong Dampak Jangka Panjang

Apa yang terjadi di BTN Housingpreneur pada akhirnya bukan hanya tentang inovasi, tetapi juga tentang perubahan cara pandang.

Perumahan tidak lagi dilihat sebagai produk semata, melainkan sebagai ekosistem yang melibatkan banyak aspek: lingkungan, sosial, ekonomi, hingga teknologi. Dalam konteks ini, pendekatan berbasis Environment, Social, and Governance (ESG) menjadi semakin relevan.

BTN mendorong agar setiap ide yang lahir mempertimbangkan dampak jangka panjang. Tidak hanya bagaimana rumah dibangun, tetapi juga bagaimana ia berkontribusi terhadap kualitas hidup penghuninya.

Pendekatan ini menjadi penting di tengah tekanan urbanisasi yang terus meningkat. Tanpa perspektif keberlanjutan, pembangunan perumahan berisiko menciptakan masalah baru di masa depan.

Keberhasilan BTN Housingpreneur dalam dua penyelenggaraan terakhir menunjukkan bahwa kebutuhan akan ruang seperti ini semakin nyata. Industri membutuhkan lebih banyak titik temu, sementara generasi muda membutuhkan akses untuk terlibat. BTN, melalui program ini, mencoba menjembatani keduanya.

Ia mungkin tidak secara langsung membangun rumah. Namun ia menyiapkan fondasi yang tidak kalah penting: ide, pelaku, dan jaringan yang suatu saat akan menjadi bagian dari solusi.

Di tengah target besar pembangunan nasional, pendekatan seperti ini menjadi pelengkap yang tidak bisa diabaikan. Karena pada akhirnya, persoalan perumahan bukan hanya soal angka dan berapa unit yang dibangun, tetapi juga tentang bagaimana sistem di belakangnya bekerja

Para peserta BTN Housingpreneur berfoto bersama. Dok. BTN

Dan di ruang-ruang presentasi itu, sistem tersebut perlahan mulai dirajut. Ide-ide yang semula berdiri sendiri kini mulai terhubung. Peluang yang sebelumnya terasa jauh mulai terbuka.

Mungkin hasilnya belum langsung terlihat. Namun seperti banyak hal dalam pembangunan, perubahan sering kali dimulai dari langkah kecil, dari sebuah gagasan, sebuah pertemuan, dan sebuah ruang yang memberi kesempatan.

BTN Housingpreneur tampaknya sedang memainkan peran itu: menyemai, menghubungkan, dan menjaga agar gagasan-gagasan tersebut tidak berakhir sebagai penghargaan di atas podium.(*)

  • Related Posts

    Temui Wamensos, Bupati Aceh Tamiang Berterimakasih Atas Bantuan Pemerintah

    Jakarta – Bupati Aceh Tamiang, Irjen Pol. (Purn.) Armia Fahmi mengucapkan terimakasih atas bantuan pemulihan pascabencana yang telah disalurkan pemerintah melalui Kementerian Sosial. Bantuan tersebut sangat membantu warga Aceh Tamiang…

    Info Tiket Lampion Waisak Borobudur 2026, Simak Juga Ketentuannya

    Jakarta – Festival Lampion Waisak Nasional akan kembali digelar di Candi Borobudur pada 31 Mei 2026. Acara bertajuk Lentera Perdamaian ini diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Raya Waisak 2570 BE.…

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *