INFO TEMPO – Hunian Sementara mulai berdiri di Desa Gewat, Kecamatan Linge, Kabupaten Aceh Tengah, salah satu wilayah terdampak banjir Sumatra yang memiliki akses geografis cukup sulit. Desa ini termasuk kawasan tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), berada di wilayah pegunungan dan dikelilingi hutan pinus.
Meskipun jarak dari pusat Kabupaten Aceh Tengah hanya sekitar 60 km, akses darat menuju lokasi masih berupa jalan tanah yang belum diaspal. Kondisi ini memburuk akibat banjir yang melanda pada akhir 2025 dan sekarang masih dalam tahap pemulihan.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Di tengah keterbatasan tersebut, Bupati Aceh Tengah, Haili Yoga, turun langsung meninjau lokasi yang berada di pelosok. Dari titik lapangan, ia melaporkan kondisi pemulihan pascabanjir kepada Menteri Dalam Negeri sekaligus Kepala Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana (PRR), Tito Karnavian, pada Rabu, 18 Maret 2026.
Dalam laporan Bupati Aceh Tengah, sebanyak lima unit Huntara akan dibangun di desa Gewat dengan dukungan dari Universitas Indonesia dan Dompet Dhuafa menjelang lebaran. Masyarakat juga siap bergotong royong membangun hunian tersebut. Hal ini mendukung target Satgas PRR untuk memastikan tidak ada lagi warga terdampak yang tinggal di tenda pengungsian.
Adapun bantuan dari UI berasal dari alumni Fakultas teknik. Berdasarkan postingan Instagram @fakultasteknik.ui Pembangunan Huntara dimulai sejak 7 Maret 2026. Saat ini satu unit telah berdiri dan proses pembersihan lahan untuk 11 unit lainnya sedang berlangsung. UI menargetkan, 4 unit dapat selesai sebelum Lebaran, sementara 7 unit sisanya akan diselesaikan dalam 30 hari setelah libur Lebaran.
Iluni FT UI mendirikan Huntara berukuran 4 × 7,2 meter. Huntara ini menggunakan model Antara Versi 3, hasil penyempurnaan dari desain sebelumnya yang pernah diterapkan dalam penanganan bencana di Lombok, Palu, dan Cianjur. Desainnya mengambil inspirasi dari rumah adat Gayo, Uma Pitu Ruang, dengan konsep rumah panggung berbahan kayu yang kuat dan tahan lama.
Kondisi geografis Desa Gewat yang berada di kawasan pegunungan tetap menjadi perhatian dalam upaya percepatan pemulihan. Selain itu, komunikasi langsung dari lapangan antara pemerintah daerah dan pemerintah pusat menjadi sinyal kuat adanya kolaborasi dalam penanganan pascabencana.
“Ada masyarakat yang siap gotong royong, Pak, agar Huntara ini siap. Sebelum Lebaran warga sudah pindah ke rumah ini,” kata Yoga dalam video laporannya yang dikirim ke Kasatgas PRR Tito Karnavian.
Berdasarkan data Satgas per 17 Maret 2026, pembangunan Huntara di Kecamatan Linge terus menunjukkan progres. Dari total target 522 unit, sebanyak 278 unit telah rampung dibangun. Seluruh Huntara yang telah selesai tersebut kini sudah dihuni oleh warga terdampak yang sebelumnya tinggal di tenda pengungsian.
Selain pembangunan Huntara, Bupati Aceh Tengah turut menyalurkan berbagai bantuan untuk memenuhi kebutuhan warga Desa Gawat. Bantuan tersebut seperti sembako, Al-Qur’an, dan kebutuhan lainnya.
Presiden Prabowo Subianto juga menyalurkan bantuan untuk mendukung tradisi meugang di Aceh. Desa Gewat, yang memiliki sekitar 65 kepala keluarga (KK), menjadi salah satu penerima bantuan berupa satu ekor sapi. Sementara itu, Kabupaten Aceh Tengah secara keseluruhan menerima bantuan senilai Rp 8.050.000.000.
“Tadi kami memberikan semua bantuan kebutuhan kepada seluruh masyarakat. Ada 65 KK di sini, Pak, 65 KK. Dan besok juga kami hantarkan satu ekor sapi atau kerbau ke Kampung Gewat ini,” kata Yoga.
Kasatgas PRR Tito Karnavian berulang kali menyampaikan optimismenya bahwa tidak akan ada lagi pengungsi di tenda sebelum Idul Fitri. Upaya ini dilakukan dengan mempercepat pembangunan Huntara agar masyarakat dapat segera direlokasi. “Target kami sebelum Lebaran semuanya tidak ada di tenda lagi,” ujarnya dalam lawatan ke Aceh Timur pada Senin, 16 Maret 2026.
Satgas PRR dibentuk untuk memastikan kehadiran negara dalam membantu pemulihan warga terdampak banjir di Sumatra. Upaya pemulihan tidak hanya mencakup pembangunan hunian, tetapi juga layanan kesehatan, pendidikan, dan kebutuhan dasar lainnya. Target dari Satgas adalah menjadikan kehidupan masyarakat terdampak banjir kembali normal seperti sedia kala. (*)






