BELUM ada keputusan resmi mengenai sosok perwira Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang akan ditugaskan sebagai Wakil Komandan International Stabilization Force (ISF). Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin mengatakan penunjukan tersebut menjadi urusan pimpinan tertinggi di Mabes TNI.
“Jangan dulu dong. Itu urusannya Panglima TNI,” kata dia di kantor Kementerian Pertahanan, Jakarta pada Kamis, 12 Maret 2026.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Sjafrie pun menjelaskan alasan keterlibatan instansi pertahanan Indonesia di struktur tertinggi dalam pasukan perdamaian bentukan Board of Peace itu. Menurut dia, tak sedikit perwira TNI yang memiliki potensi dan pencapaian untuk menjabat sebagai wakil komandan di ISF.
Dia mengatakan negara ingin menunjukkan potensi dan pencapaian milik perwira tersebut di ranah internasional. “Makanya kami mengusulkan bahwa ada perwira tinggi yang bisa ikut mendampingi di dalam ISF,” kata Sjafrie.
Dalam struktur Pasukan Stabilisasi Internasional, Indonesia mendampingi Amerika Serikat yang menjabat sebagai Komandan. Posisi ini dipercayakan kepada Mayor Jenderal AS Jasper Jeffers.
Jeffers menerangkan, personel ISF bertugas memastikan stabilisasi di Gaza. Adapun pasukan tersebut rencananya akan ditempatkan di lima sektor berbeda di Jalur Gaza, yaitu Rafah, Khan Yunis, Deir el-Balah, Kota Gaza, hingga Gaza Utara. Masing-masing sektor, kata Jeffers, menerima satu brigade ISF.
Jeffers pun mengumumkan lima negara pertama telah berkomitmen mengirim personel tentara untuk bertugas di ISF. Kelima negara tersebut adalah Indonesia, Maroko, Kazakhstan, Kosovo, dan Albania. Sementara dua negara lain, Mesir dan Yordania, berkomitmen melatih polisi.
Dalam keterangan terpisah, Menteri Luar Negeri Sugiono menilai posisi strategis di ISF bisa membuat Indonesia berkontribusi lebih besar untuk kesejahteraan rakyat Palestina. “Saya kira kedudukan ini juga akan bisa memfasilitasi apa yang menjadi tujuan dan niatan kita mengirimkan pasukan di ISF,” ucap dia, Sabtu, 21 Februari 2026.






