BNPB Targetkan Huntara di Gayo Lues Rampung Sebelum Lebaran

BADAN Nasional Penanggulangan Bencana atau BNPB memastikan warga Kabupaten Gayo Lues, Provinsi Aceh, tidak lagi menghuni tenda pengungsian menjelang Idul Fitri 1447 Hijriah atau Lebaran 2026. Kepala BNPB Letnan Jenderal TNI Suharyanto berujar, sebanyak 1.518 hunian sementara (huntara) bagi warga terdampak banjir bandang di Kabupaten Gayo Lues telah selesai dibangun hingga Selasa, 10 Maret 2026.

Artinya, 88 persen dari target pembangunan 1.713 unit huntara di Gayo Lues rampung. Suharyanto pun berharap pembangunan seluruh huntara di Gayo Lues segera selesai. Dengan demikian, masyarakat diharapkan dapat merayakan Idul Fitri di hunian yang lebih layak.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

“Kami pastikan menjelang lebaran tahun 2026, untuk Kabupaten Gayo Lues, sudah tidak ada lagi masyarakat yang ada di tenda,” ujar Suharyanto melalui keterangan tertulis, Kamis, 12 Maret 2026.

Ia menegaskan BNPB akan terus mendampingi keluarga yang masih menunggu proses pembangunan huntara. Selama masa itu, Suharyanto menyatakan warga akan ditempatkan di lokasi yang lebih layak, seperti gedung balai latihan kerja milik pemerintah daerah. “Supaya semua masyarakat yang terdampak di Kabupaten Gayo Lues bisa menikmati, bisa mengikuti perayaan Idul Fitri dengan lebih baik dan lebih hikmat,” katanya.

Bencana ekologis berupa banjir bandang dan tanah longsor menghantam Pulau Sumatera bagian utara pada penghujung November 2025. Mala itu meluas di 52 kabupaten/kota yang tersebar di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

BNPB mencatat sebanyak 18 kabupaten/kota di Aceh ikut terdampak. Per Kamis, 12 Maret 2026, jumlah korban jiwa akibat bencana banjir di Aceh sebanyak 564 jiwa. Sementara itu, hampir empat bulan berlalu, sejumlah 28 orang masih dinyatakan hilang. Adapun bencana ekologis yang melanda Aceh itu mengakibatkan kerusakan total 255.051 rumah, 141 fasilitas kesehatan, 3.122 fasilitas pendidikan, 641 rumah ibadah, 649 jembatan, hingga 1.648 jalan.

Di Kabupaten Gayo Lues sendiri, sebanyak 4.018 rumah tercatat rusak, dengan rincian 3.089 rusak berat, 464 rusak sedang, dan 465 rusak ringan.

Adapun salah satu upaya yang dilakukan pemerintah dalam pemulihan dan rehabilitasi di daerah terdampak adalah pembangunan huntara. Unit hunian itu dibangun dengan konsep komunal agar warga dapat segera berpindah dari tenda pengungsian ke tempat tinggal yang lebih layak.

Lokasi pembangunan huntara di Gayo Lues salah satunya berada di Desa Agusen, Kecamatan Blangkejeren. Saat ini, berdasarkan data BNPB, kompleks hunian komunal itu telah dihuni sekitar 150 kepala keluarga. Selain di Desa Agusen, pembangunan huntara juga dilakukan di Desa Rigeb, Kecamatan Dabun Gelang.

Di lokasi tersebut, sebanyak 133 KK telah menempati kompleks hunian komunal yang dilengkapi fasilitas dasar seperti pasokan air dan listrik. Setiap unit hunian juga dilengkapi toilet dan kamar mandi.

Suharyanto menerangkan, keluarga yang baru menempati huntara akan menerima bantuan bahan pokok dan kebutuhan non-pangan untuk mencukupi kebutuhan selama 10 hari. Bantuan ini diberikan untuk membantu memenuhi kebutuhan dasar warga sebelum mereka menerima bantuan jaminan hidup dari pemerintah pusat. “Keluarga yang menempati huntara akan diberikan bantuan oleh BNPB berupa perlengkapan dan makanan selama 10 hari sejak mereka masuk ke huntara,” ujar Suharyanto.

  • Related Posts

    22 Ucapan Taqabbalallahu Minna Wa Minkum untuk Idul Fitri 2026

    Jakarta – Taqabbalallahu Minna Wa Minkum sering diucapkan saat perayaan Idul Fitri. Apa artinya? Dikutip dari situs Kementerian Agama (Kemenag) RI, arti Taqabbalallahu Minna Wa Minkum secara harfiah adalah ‘Semoga…

    12.500 Pemudik PLN Nikmati Mudik Ramah Lingkungan

    INFO TEMPO – Program Mudik Gratis BUMN 2026 resmi digelar dengan melibatkan berbagai perusahaan pelat merah, termasuk PT PLN (Persero) yang memberangkatkan sebanyak 12.500 pemudik dari berbagai kota di Indonesia.…

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *