Mengabdi Lewat Panti Asuhan, AKP Wasito Bina Puluhan Anak Yatim di Bantul

Jakarta

AKP Wasito membina dan mengembangkan Panti Asuhan Al Dzikro untuk anak yatim di Kelurahan Wukirsari, Imogiri, Bantul, D.I Yogyakarta. Kanit Regident Satlantas Polresta Sleman itu ingin anak-anak mendapatkan pendidikan dan kehidupan yang layak.

AKP Wasito adalah salah satu kandidat yang diusulkan untuk Hoegeng Awards 2026. Lurah Wukirsari Susilo Hapsoro mengatakan AKP Wasito adalah sosok yang berjiwa sosial yang tinggi.

“Beliau itu punya jiwa sosial yang tinggi dan di masyarakat juga bagus, beliau tokoh masyarakat di wilayah. Pernah juga jadi tokoh di kelurahan juga, aktif di beberapa lembaga bahkan pernah jadi panitia di kelurahan,” kata Susilo.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Susilo sudah bertahun-tahun mengenal AKP Wasito. Menurutnya, Wasito adalah sosok pengayom bagi masyarakat dan peduli dengan anak yatim.

“Selama ini saya kenal tidak ada permasalahan dengan lingkungan, tidak pernah ada masalah dengan warga dan yang lain, bahkan jadi pengayom di wilayah kami. Menginisiasi banyak program,” ucap dia.

AKP Wasito saat ini menjadi Ketua Yayasan Panti Asuhan Al Dzikro. Susilo menyebut panti asuhan ini makin berkembang di bawah kepemimpinan Wasito.

“Sekarang sudah bagus dan sesuai dengan SOP dari Dinas Sosial, bahkan belum lama juga dapat penghargaan dari kabupaten, penghargaan juara 3,” ucap dia.

Susilo mengatakan panti asuhan ini menampung santri dari berbagai daerah. Anak-anak di panti asuhan juga disekolahkan oleh yayasan.

“Ada juga dari luar daerah, tidak hanya dari warga dari sini. Kelurahan pun seandainya ada warga kami yang yatim atau piatu, kami sering menghubungi Al Dzikro, dan Al Dzikro juga MoU dengan beberapa sekolah termasuk MTs 3 Bantul, jadi ada prioritas tertentu bagi anak yatim yang mau masuk ke MTs itu,” ujar dia.

Panti Asuhan Al Dzikro ini, kata Susilo, selain membina anak-anak yatim, juga memberikan dampak positif untuk masyarakat setempat. Berbagai kegiatan pengajian sering digelar di panti ini.

“Karena pondok Al Dzikro itu hanya sekitar 300 meter dari kantor kelurahan kami, jadi kami mengetahui seandainya di situ ada kegiatan apa. Ada kegiatan rutin untuk masyarakat, lalu pengajian untuk ibu-ibu. Ada juga semaan Al-Qur’an, buka bersama dan yang lain. Ada inovasi tertentu sejak dipimpin oleh Mas Wasito,” tutur dia.

AKP Wasito bina panti asuhan di BantulAnak-anak panti asuhan Al Dzikro binaan AKP Wasito buka bersama dengan Polda DIY (Foto: dok. Istimewa)

Susilo mengatakan anak-anak di panti asuhan ini juga diajarkan untuk mandiri. Panti asuhan ini juga mengembangkan budidaya ternak sapi dan kambing serta kolam lele.

“Ada pengembangan usaha. Belum lama bahkan ibu Bhayangkara itu juga ke sana memberikan bantuan untuk usaha perikanan. Di panti itu selain menampung juga memberikan edukasi seandainya besok sudah keluar panti, sudah dewasa, itu punya keahlian terutama perikanan, dan juga peternakan,” ucap dia.

Keuntungan dari ternak kambing di panti asuhan ini akan digunakan untuk biaya operasional. Kambing dari panti ini juga biasanya digunakan untuk hewan kurban.

“Di situ juga ada kambing dan juga sapi yang dikelola bersama dan itu untuk biaya operasional di situ juga, hasilnya dikembalikan ke masyarakat. Saat ada kurban panti juga melibatkan masyarakat kambing dan sapi juga dibagikan kepada masyarakat di wilayah tersebut,” jelasnya.

Warga setempat juga digandeng oleh AKP Wasito untuk membantu ternak kambing panti asuhan. Hasil akan dibagi dua nantinya setelah sapi dan kambing berkembang biak.

“Kalau yang di situ mungkin nggak begitu banyak yang di Al Dzikro, tapi ada yang dipelihara oleh masyarakat nanti bagi hasil, kalau beranak dua, nanti satu satu, itu ada beberapa di warga, dititipkan di warga, karena kalau di situ semua tidak mampu,” kata dia.

AKP Wasito bangun panti asuhan di BantulAKP Wasito ajarkan anak-anak mandiri lewat perternakan di panti asuhan di Bantul Foto: dok. Istimewa

Awal Mula Berdirinya Panti Asuhan Al Dzikro

AKP Wasito mengungkap awal mulanya berdiri Panti Asuhan Al Dzikro ini. Cikal bakal panti asuhan ini sudah ada sejak tahun 1993. Pada saat itu, Wasito dan anak-anak yatim setempat mengaji di sebuah langgar di Wukirsari, ketika Wasito masih kelas 1 SD.

“Rintisannya itu dulu berupa langgar, musala kecil di kampung itu. Pertama kali juga saya yang anak mbarep-nya di situ. Karena ibu saya juga nggak ada, masuk dalam rintisan anak yatim di sana,” kata Wasito kepada detikcom.

Kegiatan mengaji di langgar ini terus berkembang hingga pada tahun 1997 mendapatkan izin panti asuhan dari Kementerian Hukum. Setelah tamat sekolah, Wasito kemudian menjadi pengurus panti asuhan ini.

Pada tahun 2005, dibangun musala yang lebih besar dan asrama agar anak-anak panti lebih nyaman. Namun musala ini sempat rusak akibat gempa Yogyakarta tahun 2006.

“Setelah gempa, banyak donatur yang tahu terus bantu merampungkan pembuatan musala termasuk pembuatan asrama bagi putra dan putri, itu hikmahnya setelah gempa,” kata Wasito.

Pendirian bangunan panti asuhan, kata Wasita, atas gotong royong bersama warga setempat. Sementara bangunan panti asuhan berdiri di lahan wakaf.

“Letak di samping rumah saya. Itu awal muasal mau dirikan bangunan itu bakar bata sendiri, kalau di kampung kan ada gotong royong. Pokoknya saya rezeki kita bangun, yang lain ada rezeki nyumbang. Terus tanahnya juga Mbah Haji mewakafkan tanahnya,” ucap dia.

Hingga saat ini, ada 60 santri di panti asuhan ini. Anak-anak mendapatkan fasilitas secara gratis dan mendapatkan biaya sekolah.

“Konsep pondok, ada kewajiban dari mulai bangun pagi tahajud, salat subuh, ngaji, terus persiapan sekolah. Terus nanti pulang sekolah juga olahraga sore, terus nanti magrib, setelah magrib ngaji, nanti habis isya ada ngaji kitab dan ngaji lain-lain. Jadi konsepnya pondok anak yatim ataupun yatim piatu,” jelas dia.

AKP Wasito adalah sebagai Ketua Yayasan Panti Asuhan Al Dzikro. Panti asuhan ini memiliki 11 pengurus yang bekerja secara sukarela.

“Untuk pembiayaan semuanya anak-anak yang masuk ke Al Dzikro itu semuanya gratis, dari SD, SMP, SMA, kalau nanti yang bersangkutan semangat untuk kuliah, sampai ke jenjang kuliah. Kebetulan yang sarjana masih satu, itu dibiayai dari yayasan,” jelas dia.

Sumber Pendanaan Panti Asuhan

Wasito mengatakan biaya operasional panti asuhan ini menghabiskan sekitar Rp 20-30 juta per bulan. Dana berasal dari donatur dan biaya pribadi AKP Wasito.

“Untuk sumber dari donatur. Rata-rata per bulan, ada yang transfer Rp 5 juta, ada yang transfer Rp 1 juta, ada juga yang Rp 300 dan alhamdulillah banyak donatur, jadi terkumpul juga lumayan,” ucap dia.

“Ini kan operasionalnya cukup dari donatur, kalau enggak kami sebagai pengurus bertanggung jawab harus gimana caranya kita cukupi, baik menggunakan pribadi ataupun menggunakan urunan bersama,” imbuhnya.

Wasito mengatakan pembukuan dari donatur dicatat dengan baik oleh yayasan. Dia menyebut Panti Asuhan Al Dzikro mendapatkan peringkat 3 terbaik dalam pengelolaan dari Dinas Sosial Kabupaten Bantul.

“Kita juga tertib dalam administrasi, kan kita laporan per triwulan dilaporkan ke Dinas Sosial. Dan di Kabupaten Bantul, ini alhamdulillah kami baru minggu ke kemarin nomor 3 se-kabupaten terbaik, panti asuhan terbaik, baik dalam administrasi, pembukuan, keuangan maupun sarana-prasarana,” ucap dia.

Wasito mengatakan para santri di panti asuhan ini berasal dari berbagai daerah. Para santri yang ditampung adalah anak yatim piatu. Setiap anak juga akan dibukakan nomor rekening untuk tabungan.

“Nomor rekening ini gunanya, mungkin ada donatur datang. Contoh mau buka puasa gini kan agak rame, nanti ada donatur dapat duit Rp 300 ribu kan nggak mungkin duit itu dipegang si anak. Duit itu nanti setiap minggu kita kumpulkan, kita masukkan tabungan si anak. Baik itu yang SD kelas 1 sampai SMA,” jelas dia.

Tabungan itu akan dipakai untuk keperluan pribadi anak jika nanti sudah lulus SMA. Dana itu sebagai bekal untuk bekerja atau melanjutkan kuliah.

“Nanti boleh diambil semuanya setelah lulus SMA. Lulus SMA itu harapannya kalau yang bersangkutan mau kuliah bisa untuk bekal ke kuliah, kalau mau kerja dengan modal tadi ditabung. Karena kan beberapa kali dulu, ini anak lulus dari Al Dzikro kok keluar mau usaha belum punya modal mau bekerja nggak punya kendaraan, akhirnya kita kemarin kita membuat formulasi demikian,” jelasnya.

AKP Wasito ikut mendirikan panti asuhan ini karena dia tidak ingin anak-anak yatim memiliki pengalaman hidup yang susah seperti dirinya dulu. AKP Wasito pun menggandeng warga yang ikut membantu.

“Dulu itu makan saja susah, untuk anak seusia kami apalagi anak-anak yang nggak punya orang tuanya, pasti lebih susah dan lebih terlantar. Saat itu bareng-bareng kita kumpul di langgar, di situ ngaji bareng, belajar agama bareng, ada sedikit banyak bantuan dari warga, sumbangan dari kota, akhirnya dibuat asrama,” jelasnya.

Panti Asuhan Al Dzikro ini juga sempat diberikan bantuan kolam ikan lele oleh Yayasan Kemala Bhayangkara. Kolam ini dijadikan usaha ekonomi produktif panti asuhan.

“Alhamdulillah dapat bantuan dari Kemala Bhayangkara diserahkan langsung sama Ibu Kapolri, sama ibu pejabat Mabes Polri semuanya, hadir ke sana. Kemarin beliau bantu 2 kolam. Satu kolam itu satu kali panen untungnya antara 1,5-2 juta, sekali panen itu 2,5 bulan,” kata dia.

Wasito juga mengajarkan anak-anak mandiri sejak kecil. Dia mengajarkan anak-anak cara budidaya ikan lele, berternak sapi dan kambing.

“Ternak kambing kami ada 35, sapi ada 4. Sebagai sarana latihan anak dalam kemandirian latihan ternak. Dan alhamdulillah hasilnya kembali untuk anak anak yatim piatu,” kata Wasito.

AKP Wasito bangun panti asuhan di BantulAKP Wasito ajarkan anak-anak panti asuhan berternak Foto: dok. Istimewa

(lir/knv)

  • Related Posts

    Hasil Autopsi Pastikan Pria Tewas di Jaksel Akibat Luka Tembak di Kepala

    Jakarta – Informasi dalam artikel ini tidak ditujukan untuk menginspirasi siapa pun untuk melakukan tindakan serupa. Bila Anda merasakan gejala depresi dengan kecenderungan berupa pemikiran untuk bunuh diri, segera konsultasikan…

    Praperadilan Kasus Korupsi Kuota Haji Ditolak, Kubu Yaqut Bilang Begini

    Jakarta – Hakim tunggal Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan menolak praperadilan mantan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas terkait status tersangka kasus korupsi kuota haji 2024. Tim hukum Yaqut menilai hakim…

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *