KETUA Umum Partai Golkar Bahlil Lahadalia menanggapi sejumlah pihak yang meragukan kemampuan Presiden Prabowo Subianto dalam memediasi Iran dengan Amerika Serikat dan Israel. Menurut Bahlil, Golkar sebagai partai koalisi pemerintah mempercayai kemampuan Prabowo menjadi juru damai.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Bahlil mengatakan terlepas dari apa yang orang lain sampaikan, Golkar tetap teguh berkeyakinan bahwa Prabowo bisa memediasi Iran dengan Amerika-Israel.
“Semua orang boleh berpendapat, semua orang boleh berpikir. Itu adalah salah satu konsekuensi daripada negara demokrasi. Tapi bagi Partai Golkar adalah sangat memahami, mengerti, dan percaya kepada kemampuan Pak Presiden Prabowo,” kata Bahlil di kantor DPP Golkar, Jakarta, pada Jumat, 6 Maret 2026.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral itu kemudian menceritakan pengalamannya mendampingi Prabowo ke lawatan luar negeri selama bulan Februari kemarin. Bahlil menilai Prabowo memiliki kedekatan emosional dengan kepala negara lain saat mengunjungi Amerika, Inggris, Yordania, hingga Uni Emirat Arab.
Dari hubungan itu, Bahlil pun optimistis Prabowo bisa menerapkan cara yang sama kelak ketika memediasi Iran dengan Amerika-Israel.
“Jadi kalau yang tidak tahu Pak Presiden Prabowo itu wajar, tapi bagi kami Partai Golkar yang tahu Bapak Presiden Prabowo, insyaallah kami sangat yakin terhadap kemampuan beliau dalam melakukan komunikasi politik antar kepala-kepala negara dunia,” ujar dia.
Mantan Wakil Menteri Luar Negeri, Dino Patti Djalal, menilai ide Presiden Prabowo Subianto bertolak ke Teheran untuk menjadi juru damai antara Iran dan Amerika Serikat tidak realistis. Adapun kesiapan Prabowo itu disampaikan Kementerian Luar Negeri beberapa jam setelah Israel bersama Amerika Serikat kembali menyerang ibu kota Iran, Teheran, pada 28 Februari 2026.
Ia pun menyampaikan setidaknya empat alasan, pertama, Amerika Serikat jarang bersedia dimediasi pihak ketiga ketika melancarkan serangan militer. Dino yakin Presiden AS Donald Trump tidak ingin Indonesia ikut campur. Sebab, Dino menilai saat ini Trump sedang gelap mata ingin menumbangkan pemerintahan Iran.
Alasan kedua, menurut dia, adalah pemerintah Iran belakangan ini tidak dekat dengan pemerintah RI. Dino mencatat, dalam 15 bulan terakhir, Presiden Prabowo tidak pernah mengunjungi Iran ataupun bertemu dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian.
Ketiga, Dino mengatakan, meski Prabowo siap terbang ke Teheran untuk menjadi mediator, tidak mungkin Presiden AS Donald Trump dan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio—sebagai pihak yang menyerang Iran—bersedia berkunjung ke Teheran.
Kemudian alasan terakhir adalah upaya mediasi berarti Presiden Prabowo harus bertemu dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu selaku pihak utama yang melancarkan serangan ke Iran. Dino menegaskan hal ini tidak mungkin dilakukan, baik secara politik, diplomatik, maupun logistik.
Dino menyatakan pertemuan Prabowo dan Netanyahu berarti political suicide alias bunuh diri politik bagi Presiden Prabowo di dalam negeri. “Saya sungguh tidak tahu dari mana datangnya ide yang menakjubkan ini agar Presiden Prabowo terbang ke Teheran untuk menjadi mediator konflik segitiga ini,” kata Dino.






