Kata Dirut BPJS soal Rencana Kenaikan Iuran 2026

DIREKTUR Utama Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Prihati Pujowaskito mengatakan iuran BPJS Kesehatan pada 2026 belum naik. BPJS masih menunggu keputusan dari pemerintah. 

“Kami selalu komunikasi (dengan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin). Tapi sejauh ini belum ada kenaikan iuran,” kata Prihati di gedung BPJS Pusat, Jakarta, Rabu, 4 Maret 2026.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Pemerintah, kata Prihati, memang berencana menaikkan iuran BPJS 2026, yang dimulai dengan iuran penerima bantuan iuran (PBI). Namun semuanya belum berjalan. “Kami masih menunggu pemerintah,” ujarnya. 

Budi Gunadi Sadikin sebelumnya berencana menaikkan iuran BPJS Kesehatan agar program tersebut bisa berkelanjutan. Dia menyebutkan defisit BPJS Kesehatan akan mencapai Rp 20-30 triliun dalam setahun. Defisit itu ditangani oleh pemerintah melalui anggaran sebesar Rp 20 triliun. Meski begitu, ia mengingatkan bahwa defisit akan terjadi setiap tahun.

Defisit itu akan terasa dengan penundaan pembayaran ke rumah sakit-rumah sakit. Akibatnya, rumah sakit akan kesulitan membiayai kegiatan operasionalnya. “Itu sebabnya harus ada perubahan yang struktural,” tutur Budi di Jakarta pada 25 Februari 2026, seperti dikutip dari Antara.

Dalam kesempatan itu, Budi juga menyatakan yakin kenaikan iuran BPJS Kesehatan hanya berpengaruh ke masyarakat kelas menengah ke atas. “Bahwa kenaikan premi BPJS tidak ada pengaruhnya sama sekali kepada masyarakat miskin karena masyarakat miskin dibayari oleh pemerintah,” katanya. 

Jika tarif dinaikkan, Budi optimistis hal itu tidak akan berpengaruh bagi masyarakat yang masuk desil 1-5 dalam Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN). Pasalnya, mereka ditanggung pemerintah dalam skema Penerima Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan Nasional (PBI JKN).

Lebih jauh, Budi menjelaskan bahwa konsep asuransi sosial seperti BPJS Kesehatan adalah orang kaya menyubsidi orang miskin. Sama seperti pajak, yakni orang kaya membayar pajak lebih banyak, tapi mendapat akses jalan raya sama seperti orang miskin.

“Menengah ke atas kayak wartawan Rp 42 ribu sebulan seharusnya bisa, deh. Yah, yang laki-laki beli rokok kan lebih dari itu,” ujar Budi.

  • Related Posts

    4 Fakta Prajurit TNI Aniaya Sopir Taksi hingga Todongkan Pistol Mainan

    Jakarta – Oknum prajurit TNI AD diduga melakukan penganiayaan terhadap pengemudi taksi online di Setu, Tangerang Selatan (Tangsel), Banten. Saat ini pelaku telah ditangkap Detasemen Polisi Militer (Denpom). Aksi penganiayaan…

    Analisis Pakar soal Trump Ngeluh Hubungan AS-Inggris Tak Seperti Dulu Lagi

    Jakarta – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengeluhkan hubungan historis antara negaranya dan Inggris, yang disebutnya ‘tak seperti dulu lagi’. Guru Besar Ilmu Hubungan Internasional FISIP Universitas Indonesia (UI),…

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *