MENTERI Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia memastikan cadangan bahan bakar minyak nasional masih cukup di tengah konflik di Timur Tengah. Konflik antara Iran melawan Israel dan Amerika Serikat itu sebelumnya menyebabkan Selat Hormuz, salah satu jalur distribusi BBM dunia, ditutup oleh otoritas Iran.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Bahlil mengatakan cadangan BBM di Indonesia masih cukup untuk hampir tiga pekan. “Masih cukup (untuk) 20 hari,” kata Bahlil saat menghadiri rapat dengan Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan, Jakarta, pada Senin, 2 Maret 2026.
Bahlil mengatakan konflik Iran dengan Israel-AS belum berdampak terhadap subsidi energi di tanah air. “Sampai hari ini (subsidi BBM) enggak ada masalah, tapi kan harga dunia pasti akan terjadi koreksi ketika kondisi geopolitik terus memanas di Timur Tengah,” tutur Ketua Umum Partai Golkar ini.
Meski begitu, Bahlil menyoroti penutupan Selat Hormuz di Iran akibat konflik. Menurut dia, penutupan jalur distribusi BBM perlu diantisipasi pemerintah Indonesia. “Karena bagaimana pun kita masih melakukan impor (bahan bakar minyak) sebelum Lebaran,” tuturnya.
Bahlil berujar dirinya akan rapat dengan Dewan Energi Nasional untuk membahas mitigasi penutupan Selat Hormuz. “Besok saya akan rapat dengan Dewan Energi Nasional, setelah itu baru saya akan menyampaikan hasil analisa dan kajian dari DEN,” ucap dia.
Harga minyak dunia kembali melonjak pada perdagangan Senin, 2 Maret seiring memanasnya konfik Amerika Serikat dan Israel melawan Iran. Lonjakan harga juga dipengaruhi penutupan salah satu jalur vital perdagangan minyak global, Selat Hormuz, oleh Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC).
Mengutip data Trading Economics, harga minyak mentah Brent sempat melonjak sampai 12 persen pada Senin pagi atau pembukaan perdagangan. Harga minyak mentah Brent menembus US$ 78,2 per barel atau naik dibanding penutupan perdagangan 28 Februari yang tercatat US$ 72,8 per barel.
Sedangkan harga minyak mentah West Texas intermediate (WTI) naik menjadi sekitar US$ 71,9 per barel. Melambung dibanding penutupan perdagangan 28 Februari 2026 yang tercatat US$ 67,2 per barel.
Ketegangan di Timur Tengah memuncak setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan agresi gabungan terhadap Iran pada Sabtu, 28 Februari 2026. Presiden AS Donald Trump mengumumkan bahwa serangan itu menewaskan pimpinan tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Serangan balasan dilakukan Iran dengan meluncurkan gelombang rudal dan drone ke Israel dan ke beberapa pangkalan militer di Timur Tengah tempat pasukan AS beroperasi.
Kondisi konflik belum menunjukan tanda-tanda mereda. Diberitakan Daily Mail, 2 Maret 2026, Donald Trump mengungkap kemungkinan perang dengan Iran bisa berlangsung selama empat minggu ke depan.
Ilona Estherina berkontribusi dalam penulisan artikel ini
Pilihan editor: Cerita Jemaah Umrah Tak Bisa Pulang Imbas Perang di Timteng






