KABAR duka menyelimuti dunia aktivisme Indonesia. Johnsony Maharsak Lumban Tobing—yang lebih dikenal sebagai John Tobing—pencipta lagu legendaris Darah Juang, meninggal pada Rabu malam, 25 Februari 2026, sekitar pukul 20.45 WIB di Rumah Sakit Akademik Universitas Gadjah Mada. Almarhum disemayamkan di Rumah Duka RS Bethesda Yogyakarta.
Sahabat almarhum, Yudah Prakoso, mengenang John sebagai sosok yang memadukan keberanian dan kesederhanaan.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
“Pada masa-masa genting 1998, John tak hanya membawa semangat perlawanan, tetapi juga gitar. Dari petikan senar itulah lahir Darah Juang, lagu yang menguatkan ribuan mahasiswa untuk melawan ketidakadilan,” kata Yudah, Kamis, 26 Februari 2026.
Darah Juang lahir dari lorong-lorong asrama mahasiswa dan demonstrasi jalanan. Liriknya menjelma suara kolektif perlawanan terhadap penindasan. Dalam setiap aksi, lagu itu dinyanyikan bersama—menjadi doa sekaligus ikrar perjuangan. Hingga kini, Darah Juang tetap menggema dalam berbagai unjuk rasa, menandai bahwa semangat reformasi tak pernah benar-benar padam.
Putra bungsu almarhum, Gopas Kibar Syang Proudy, menyebut ayahnya sebagai pribadi pantang menyerah dan rendah hati. “Di rumah, ayah sederhana seperti bapak-bapak pada umumnya. Tapi saya baru benar-benar memahami betapa besar arti perjuangannya ketika melihat begitu banyak orang datang, bernyanyi, dan mengenang karya-karyanya,” ujar Gopas.
Ia menambahkan, sang ayah selalu menanamkan nilai keberanian, kejujuran, dan keberpihakan pada rakyat kecil. “Ayah mengajarkan kami untuk tidak takut membela yang benar, apa pun risikonya,” katanya.
Ucapan duka juga datang dari kalangan aktivis. Baharuddin Kamba, aktivis antikorupsi asal Sleman, membangunkan sahur warga dengan memutar Darah Juang melalui pengeras suara pada Kamis dini hari.
“Ini bentuk penghormatan saya. Meski raga John Tobing telah tiada, semangatnya untuk memperjuangkan keadilan harus terus hidup,” ujarnya.
Kamba mengaku sempat mendatangi Rumah Sakit Akademik UGM pada Rabu malam untuk menyampaikan belasungkawa secara langsung kepada keluarga. Baginya, John Tobing bukan sekadar pencipta lagu, melainkan simbol keberanian moral.
Kepergian John Tobing menutup satu bab penting dalam sejarah perlawanan sipil Indonesia. Namun Darah Juang akan terus dinyanyikan—menjadi pengingat bahwa perjuangan menegakkan keadilan tak pernah benar-benar usai.






