BADAN Nasional Penanggulangan Bencana menanggapi kritik publik yang mempersoalkan biaya Rp 150 juta untuk membangun sumur bor di wilayah bencana. Biaya seratusan juta untuk satu sumur yang dipatok oleh BNPB tersebut menjadi polemik lantaran dinilai terlalu mahal.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi BNPB Abdul Muhari beralasan sumur yang mereka bangun di wilayah terdampak banjir Sumatera bukan sumur bor biasa. Sumur tersebut merupakan sumur komunal yang bisa menjangkau sekitar satu desa dan digunakan oleh ratusan keluarga.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
“Sumur itu untuk mengairi daerah-daerah yang cukup sulit dan ini mengairi kadang-kadang lebih dari 200-300 kartu keluarga dalam satu kawasan,” kata Abdul Muhari di Kantor BNPB, Jakarta, pada Selasa, 6 Januari 2026.
Menurut Abdul, estimasi harga satu sumur bor mencapai Rp 150 juta tersebut bukan sesuatu yang baru. Sebelumnya, BNPB sudah terbiasa membangun sumur bor dengan ukuran serupa di daerah tertinggal, seperti Nusa Tenggara Timur. Dari pengalaman tersebut, sumur yang dibuat untuk ratusan keluarga semacam itu membutuhkan kedalaman hingga ratusan meter. “Paling dalam itu bisa sampai 220 meter,” kata Abdul.
Ia berjanji BNPB akan menggunakan anggaran negara sebaik-baiknya. BNPB, kata dia, siap mempertanggung jawabkan semua uang negara yang mereka gunakan selama penanganan bencana Sumatera.
“Yang pasti tentu setiap rupiah uang negara yang kami gunakan itu akan diaudit. Dan tentu saja akan menjadi standar akuntabilitas dari uang tanggal darurat yang digunakan,” kata Abdul.
Polemik dana Rp 150 juta untuk satu sumur bor pertama kali mencuat setelah percakapan Presiden Prabowo Subianto dan Kepala BNPB Sunaryanto bersama Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal TNI Maruli Simanjutak viral di media sosial. Percakapan tersebut merupakan potongan rekaman siaran langsung rapat terbatas yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto di Aceh Tamiang, Kamis, 1 Januari 2026.
Dalam rapat itu, Presiden menerima laporan dari Maruli dan Suharyanto mengenai rencana pemenuhan kebutuhan air dengan membangun sumur bor. Keduanya menyampaikan biaya pengeboran sumur bor dengan kedalaman 100 hingga 200 meter menghabiskan duit Rp100-150 juta per titik.
Suharyanto mengklaim dana itu sudah meliputi semua kebutuhan membuat sumur bor. “Lengkap dengan instalasi airnya. Kemudian juga ada tangki airnya dan bisa langsung diambil oleh masyarakat,” ucap Suharyanto.
Menanggapi hal tersebut, Presiden Prabowo menilai biaya tersebut masih terjangkau. “Maaf ya, kalau satu sumur bor 100 sampai 200 meter Rp 150 juta itu saya anggap relatif murah,” kata Prabowo.
Bagi kepala negara, harga itu relatif murah lantaran pengalamannya membuat sumur bor melebihi angka Rp 100–150 juta. Namun publik menilai pentapan harga tersebut dinilai terlalu mahal dan mengada-ngada. Menurut sejumlah tanggapan masyarakat di media sosial, biasanya sumur bor paling dalam sekalipun hanya membutuhkan sekitar Rp 50-80 juta saja.






