Sangu Sampah, Upaya Trenggalek Tekan Emisi dan Bangun Karakter Siswa

INFO TEMPO – Pemerintah Kabupaten Trenggalek meluncurkan program Sangu Sampah pada Senin, 15 Desember 2025. Program ini sebagai langkah taktis mencapai Net Zero Carbon pada tahun 2045 sekaligus menanamkan karakter peduli lingkungan sejak dini kepada generasi muda.

Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin atau acap disapa Gus Ipin menjelaskan latar belakang peluncuran program ini. Kabupaten di pesisir selatan Jawa Timur itu memiliki surplus emisi sebesar 115.000 ton CO2 ekuivalen. Beban emisi berasal dari sektor energi 42 persen, pertanian 40 persen, sampah 16 persen, 2 persen sisanya dari industri.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Untuk menutup surplus itu tersedia dua pilihan: menanam 130 hektar mangrove atau mengelola 80 persen sampah. “Karena keterbatasan fiskal untuk teknologi mahal, kita memilih jalur ekonomi sirkular yang sederhana namun berdampak masif, yaitu melalui pendidikan karakter di sekolah-sekolah,” ujar Gus Ipin.

Melalui Sangu Sampah, siswa diminta memilah sampah dari rumah dan sekolah, menyetorkannya, dan hasilnya akan dikembalikan dalam bentuk uang saku. Terdapat 8 jenis sampah yang dikelola, yakni botol plastik kemasan, plastik umum seperti bungkus sachet, kertas, kaca, kain, logam, elektronik, hingga minyak jelantah.

Setiap bulan, sampah yang dikumpulkan oleh siswa tersebut akan diambil oleh jaringan seperti TPS 3R dengan Bank Sampah dan PT Jet. Selanjutnya diambil oleh offtaker untuk didaur ulang (recycling).

“Setelah tiga bulan, total pendapatan dari penjualan sampah dikurangi biaya operasional dan kontribusi ke PAD, baru kemudian sisa hasilnya dibagikan kepada siswa secara proporsional berdasarkan jumlah koin yang mereka kumpulkan di aplikasi,” tutur Gus Ipin.

Jumlah koin tertera dalam akun siswa pada laman tgxwastecoin.id atau aplikasi TGX Waste Coin yang telah diunduh. Khusus pengguna iOS saat ini hanya dapat mengakses di laman situs, sedangkan aplikasi baru tersedia bagi pemakai Android. Meskipun fokus utama saat ini adalah lingkungan sekolah, tidak menutup kemungkinan pengembangan program bagi masyarakat umum.

Skema yang diterapkan program Sangu Sampah, kata Gus Ipin, mengintegrasikan tiga pilar utama, yakni pembangunan karakter siswa yang wajib mencintai lingkungan, literasi digital melalui aplikasi TGX Waste Coin, dan inklusi keuangan.

Untuk jenjang SMA dan perguruan tinggi, setiap siswa memiliki akun dan rekening mandiri karena mayoritas sudah memiliki gawai. Sedangkan SD dan pondok pesantren menggunakan sistem pooling account: satu akun untuk satu kelas dan dikelola oleh guru, pengurus pondok, atau komite sekolah, mengingat siswa tidak diperkenankan membawa gawai.

Selain program Sangu Sampah, Pemkab Trenggalek juga tengah menyiapkan peluncuran pengolahan limbah organik rumah tangga dan sisa program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dipelopori oleh istri Gus Ipin, Novita Hardini. Limbah tersebut akan dikonversi menjadi pupuk dan media tanam untuk pekarangan rumah tangga. (*)

  • Related Posts

    Banjir Rendam Ratusan Rumah di Kampung Sawah Imbas Luapan Kali Cakung

    Jakarta – Ratusan rumah warga di Kampung Sawah, Kecamatan Cakung, Jakarta Timur (Jaktim), terendam banjir pagi ini. Banjir terjadi akibat Kali Cakung meluap. “Di sini sudah lebih dari dua kali…

    PBNU Gelar Rapat Pleno setelah Sepakat Agendakan Muktamar

    Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Miftachul Akhyar dan Katib Ahmad Tajul Mafakhir menyampaikan warkat undangan kepada jajaran PBNU untuk menghadiri pelaksanaan rapat pleno organisasi. Surat undangan rapat tersebut diterbitkan…

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *