PRESIDEN Prabowo Subianto melakukan pembicaraan telepon dengan Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman bin Abdulaziz Al Saud (MBS), pada Rabu malam, 10 Desember 2025.
Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya mengatakan MBS menyampaikan dukungan penuh dan ucapan belasungkawa kepada Prabowo dan seluruh rakyat Indonesia atas bencana Sumatera.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
“Khususnya kepada warga yang terdampak bencana. Indonesia adalah negara besar serta pemimpinnya adalah Presiden yang kuat dalam menghadap kondisi apa pun,” kata Teddy mengutip kalimat Mohammed bin Salman dikutip akun Instagram @sekretariat.kabinet, Kamis, 11 Desember 2025.
Teddy mengatakan Prabowo dan MBS juga membahas kelanjutan mengenai rencana pembangunan perkampungan Haji. Pembahasan meliputi penentuan lokasi, proses pembangunan, serta fasilitas yang akan disiapkan, yang nantinya diperuntukkan bagi jamaah haji asal Indonesia.
Jumlah Korban Bencana Sumatera
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sebelumnya mencatat jumlah korban meninggal dalam banjir Sumatera hampir tembus 1.000 jiwa. Dalam dashboard geoportal penanganan darurat banjir dan tanah longsor di Provinsi Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat, BNPB mencatat jumlah korban meninggal sebanyak 990 orang pada Kamis, 11 Desember 2025.
Rinciannya, korban meninggal di Aceh mencapai 407 orang. Kemudian Sumatera Barat sebanyak 240 jiwa, dan 343 di Sumatera Utara. Akumulasi jumlah korban jiwa itu lebih tinggi dari data yang dilaporkan BNPB pada 10 Desember 2025 di mana sebanyak 969 orang meninggal dalam bencana tersebut.
Adapun korban hilang di tiga provinsi tersebut berangsur menurun dibanding sehari sebelumnya dari 262 menjadi 222 orang. Korban hilang terbanyak terjadi di Sumatera Utara dengan 98 jiwa. Sedangkan di Aceh korban hilang sebanyak 31 jiwa dan Sumatera Barat 93 jiwa. Total korban luka di ketiga provinsi mencapai lebih dari 5,4 ribu jiwa.
Kepala Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan atau Basarnas Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii mengatakan pencarian korban yang memasuki pekan kedua pascabencana memiliki kendala di lapangan. Pasalnya, korban-korban yang dinyatakan hilang jasadnya sulit diidentifikasi akibat perubahan struktur tubuh mereka.
“Saat ini memang kendala yang dihadapi di lapangan bahwa dengan kurun waktu lebih dari 10 hari, memang korban-korban yang ditemukan ini kebanyakan sudah berubah struktur,” kata Syafii dalam rapat kerja bersama Komisi V Dewan Perwakilan Rakyat di Jakarta, pada Senin, 8 Desember 2025.
Pilihan Editor: Mengapa Pemerintah Belum Membuka Akses Bantuan Asing?






