MENTERI Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menyatakan pemerintah tengah menyiapkan penyempurnaan aturan terkait pencegahan kekerasan di lingkungan sekolah. Ia menilai regulasi yang ada selama ini masih perlu disempurnakan agar lebih humanis, komprehensif, dan partisipatif.
“Permendikbud yang ada itu perlu kita sempurnakan dengan pendekatan yang lebih humanis, komprehensif, dan partisipatif,” kata Abdul Mu’ti saat ditemui di Jakarta Pusat, Selasa, 11 November 2025.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Permendikbudristek yang dimaksud Mu’ti ialah Permendikbudristek Nomor 46 Tahun 2023 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Lingkungan Satuan Pendidikan.
Mu’ti menyebutkan penyempurnaan aturan ini penting menyusul berbagai kasus kekerasan di satuan pendidikan yang belakangan terjadi. Ia berharap peristiwa kekerasan seperti yang terjadi di SMAN 72 Jakarta menjadi yang pertama dan terakhir. “Itu memberi pesan kuat kepada kita bahwa pembinaan yang dilakukan sudah berjalan, tapi memang perlu kita sempurnakan,” ujarnya.
Menurut Mu’ti, angka kekerasan di lembaga pendidikan masih cukup tinggi, meski sebagian terjadi di luar sekolah dan pelakunya tetap para pelajar, baik sebagai pelaku maupun korban. Untuk itu, Mu’ti menilai penguatan peran guru dalam membimbing siswa melalui pendekatan head to head, heart to heart.
“Kita mencoba memperkuat bimbingan dan konseling sehingga murid bisa bercerita dari hati ke hati dengan guru wali,” kata Mu’ti.
Ia menjelaskan, seluruh guru akan memiliki tugas pembimbingan meskipun bukan guru BK. Tugas mereka meliputi mengenali potensi murid, memitigasi persoalan, berdialog, serta menjadi penghubung antara sekolah dan orang tua.
Pendekatan baru ini, kata Mu’ti, diharapkan dapat menciptakan suasana sekolah yang lebih inklusif, di mana setiap siswa merasa diterima tanpa memandang kondisi fisik, ekonomi, maupun capaian akademik. “Mereka yang selama ini menjadi korban perundungan itu kan yang powerless. Kalau kita mengembangkan sikap yang lebih humanis, maka kita bisa mengembangkan budaya saling menerima di antara semua insan pendidikan,” ujarnya.
Selain itu, kementerian akan menerapkan pendekatan komprehensif yang tidak hanya fokus pada aspek akademik, tetapi juga spiritualitas dan karakter. Ia menekankan pentingnya pendidikan yang membangun generasi beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia.
Mu’ti juga menyoroti perlunya pendekatan partisipatif dengan melibatkan orang tua, sesama murid, serta pembentukan duta anti-kekerasan di sekolah. “Mereka ini akan menjadi semacam influencer di kalangan pelajar untuk membina relasi yang saling menghormati dan menerima perbedaan,” katanya.
Ledakan di SMN 72 Jakarta trjadi pada Jumat, 7 November lalu. Peristiwa ikut mengakibatkan setidaknya 96 siswa terluka. Hasil penyelidikan sementara polisi menyebut ledakan disebabkan oleh seorang terduga pelaku yang merupakan siswa sekolah tersebut. Polisi masih mendalami kasus ini dengan memeriksa saksi dan olah TKP. Adapun terduga pelaku masih menjalani perawatan karena ikut terluka akibat ledakan.






