Pelita Jaya pertahankan Anthony Beane di tengah aturan baru IBL

IBL

Pelita Jaya pertahankan Anthony Beane di tengah aturan baru IBL

  • Rabu, 15 Oktober 2025 19:56 WIB
  • waktu baca 2 menit
Pelita Jaya pertahankan Anthony Beane di tengah aturan baru IBL
Pemain Pelita Jaya Basketball yang juga merupakan pemain naturalisasi Timnas Basket Indonesia Jerome Anthony Beane Jr. (ANTARA/IBL)

Jakarta (ANTARA) – Pelita Jaya Basketball mempertahankan Jerome Anthony Beane Jr sampai musim 2026 di tengah penerapan aturan baru IBL yang mengatur jumlah pemain asing dan heritage, termasuk aturan salary cap pemain asing.

Keputusan mempertahankan Beane datang setelah Pelita Jaya lebih dulu menunjuk David Singleton sebagai kepala pelatih dan memperpanjang kontrak Hendrick Xavi Yonga.

Dengan komposisi ini, Pelita Jaya mulai menata ulang roster mereka untuk menghadapi musim dengan regulasi finansial yang lebih ketat.

Berdasarkan data dari laman resmi IBL, Beane menjadi bagian penting dari Pelita Jaya sejak musim 2024 di mana musim tersebut berakhir dengan gelar juara IBL dan predikat MVP Finals untuk dirinya.

Dalam 18 laga musim reguler 2024, pemain naturalisasi timnas Indonesia itu mencatat rata-rata 13,6 poin, 2,8 rebound, dan 4,8 assist per pertandingan.

Beane konsisten pada musim 2025 dengan kontribusi rata-rata 13,5 poin, 4,6 rebound, dan 5,2 assist dari 19 pertandingan.

Ia membantu Pelita Jaya menempati puncak klasemen IBL 2025 dengan rekor impresif 23 kemenangan dan hanya tiga kekalahan sebelum gagal mempertahankan gelar juara yang direbut Dewa United Banten.

Dengan diperpanjangnya kontrak Beane, Pelita Jaya telah menggunakan satu slot dari tiga kuota pemain asing yang diperbolehkan pada musim 2026.

Baca juga: IBL hapus batas gaji per musim dan fokus ke “salary cap” pemain asing

Berdasarkan regulasi baru, IBL mengizinkan tiga pemain asing, termasuk naturalisasi atau heritage player, dengan dua di antaranya bertinggi maksimal 200 cm dan satu pemain di atas 200 cm.

Namun, tantangan sesungguhnya bagi Pelita Jaya dan klub-klub lain terletak pada kebijakan salary cap terbaru.

IBL menetapkan batas gaji maksimum pemain asing sebesar 30.000 dolar AS per bulan, dengan sistem denda progresif bagi tim yang melampaui batas tersebut.

Kebijakan ini dirancang untuk menjaga keseimbangan finansial antarklub dan meningkatkan daya saing kompetisi.

Tim yang melampaui batas pengeluaran akan dikenakan denda sesuai tingkatan nominalnya. Dana denda akan didistribusikan kepada klub yang mematuhi aturan.

Dalam pengawasan pelaksanaan salary cap, IBL membentuk Governance & Compliance Committee yang dipimpin oleh mantan Direktur Eksekutif FIBA David Crocker.

Komite ini bertugas memastikan transparansi keuangan dan penerapan aturan secara adil di seluruh klub peserta.

Baca juga: Dirut IBL ungkap alasan Bima Perkasa dan Bali United absen di IBL 2026

Pewarta: Aditya Ramadhan
Editor: Jafar M Sidik
Copyright © ANTARA 2025

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Komentar

Komentar menjadi tanggung-jawab Anda sesuai UU ITE.

Berita Terkait

Rekomendasi lain

  • Related Posts

    TNI Jelaskan Pengerahan Prajurit Ikut Amankan Demo di Tosari Jakpus

    Jakarta – Sejumlah personel TNI dikerahkan mengamankan aksi demonstrasi mahasiswa lintas universitas di kawasan Tosari, Jakarta Pusat (Jakpus), kemarin. Kapuspen Mabes TNI Brigjen Muhamad Nas mengatakan pengerahan personel TNI saat…

    CCTV Bundaran HI Mati saat Demo, Pemprov: Milik Pihak Ketiga

    PEMERINTAH Provinsi Jakarta buka suara perihal kamera pemantau atau CCTV di kawasan Bundaran HI yang mati ketika demo mahasiswa berlangsung pada Jumat, 12 Juni 2026. Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, dan…

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *