Mengulas model kecerdasan buatan terbaru OpenAI GPT-5

Mengulas model kecerdasan buatan terbaru OpenAI GPT-5

  • Sabtu, 9 Agustus 2025 06:47 WIB
  • waktu baca 2 menit
Mengulas model kecerdasan buatan terbaru OpenAI GPT-5
Tanda AI terlihat di Mobile World Congress 2025 di Barcelona, Spanyol, pada 6 Maret 2025. ANTARA/Xinhua/Zhao Dingzhe

Beijing (ANTARA) – OpenAI pada Kamis (7/8) merilis GPT-5, model kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) tercanggihnya saat ini, dan menyebutnya sebagai lompatan signifikan dalam aspek kecerdasan dibandingkan model sebelumnya.

Peluncuran GPT-5 juga menimbulkan pertanyaan baru bagi bisnis yang berusaha melindungi konten mereka agar tidak digunakan atau direplikasi oleh AI.

CEO OpenAI Sam Altman menggambarkannya seperti memiliki tim ahli tingkat PhD di saku Anda, yang menggarisbawahi kesiapan model tersebut untuk melayani pengguna di berbagai bidang dan tingkat keterampilan.

Sistem ini kini tersedia untuk semua pengguna ChatGPT, dengan akses yang lebih luas tersedia bagi pengguna berbayar. Dengan biaya 200 dolar AS (1 dolar AS = Rp16.312) per bulan, paket Pro memberikan penggunaan tak terbatas dan peningkatan kinerja untuk setiap pengguna.

OpenAI mengklaim GPT-5 lebih cepat, lebih akurat, dan lebih mumpuni daripada pendahulunya, dengan peningkatan signifikan dalam penalaran, pengkodean, dan penulisan kreatif. Perusahaan itu juga mengklaim telah meningkatkan keandalan dan mengurangi gangguan secara signifikan.

Altman menekankan bahwa meskipun model tersebut menandai langkah besar menuju kecerdasan umum buatan (artificial general intelligence/AGI), model itu masih belum mencapai tujuan sulit tersebut.

“Ini jelas merupakan model yang pada dasarnya terbilang cerdas, meskipun saya pikir dalam cara kebanyakan dari kita mendefinisikan AGI, kita masih belum mencapai hal yang sangat penting,” ujarnya kepada wartawan pada Rabu (6/8) menjelang peluncuran, seraya menunjuk pada fitur-fitur seperti tidak adanya pembelajaran berkelanjutan setelah penerapan.

Peluncuran GPT-5 juga menimbulkan pertanyaan baru bagi bisnis yang berusaha melindungi konten mereka agar tidak digunakan atau direplikasi oleh AI.

“Seiring perkembangan konten AI yang semakin menyerupai asli, kita perlu bertanya pada diri sendiri, apakah kita sudah melindungi orang-orang dan kreativitas di balik apa yang kita lihat sehari-hari?” ujar Grant Farhall, kepala bagian produk di Getty Images, kepada BBC.

Farhall mengatakan penting untuk memeriksa bagaimana model AI dilatih dan memastikan pembuat konten diberi kompensasi saat karya mereka digunakan.

Awal pekan ini, pesaingnya Anthropic meluncurkan versi terbaru dari chatbot Claude-nya, bergabung dengan Google dan pesaing lainnya dalam persaingan untuk saling mengungguli dalam tolok ukur performa AI.

Pewarta: Xinhua
Editor: Santoso
Copyright © ANTARA 2025

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Komentar

Komentar menjadi tanggung-jawab Anda sesuai UU ITE.

Berita Terkait

Rekomendasi lain

  • Related Posts

    Berita Terkini, Berita Hari Ini Indonesia dan Dunia | tempo.co

    Perspektif yang tajam dan ajek dari para ahli di banyak bidang. Edisi Pekan Ini Gegeran Pangan Gegeran Pangan Mengungkap yang tersembunyi dengan perspektif, argumen, dan data yang solid. Indikator 25…

    Apa Itu Rafflesia Hasseltii? Bunga Langka yang Ditemukan di Sumsel

    Jakarta – Rafflesia hasseltii kembali menjadi sorotan setelah ditemukan mekar di Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara), Sumatera Selatan (Sumsel). Temuan ini menarik perhatian karena jenis tersebut termasuk bunga langka yang…

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *